Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
cobaan baru


__ADS_3

" Suami kamu dimana? kenapa kamu sampai susah susah cari kerja? dia sudah tidak bisa nafkahi kamu?atau apa sih yang terjadi?" cerca Arya penasaran.


" Maaf, tidak sepantasnya anda untuk mempertanyakannya, dan saya juga tidak akan menjawabnya..." Elia membuang mukanya.


" Tapi aku sekarang bos kamu, aku berhak tahu kondisi bawahanku agar dia bisa kerja maksimal..." Arya meninggikan suaranya.


" Anda tidak perlu khawatir, saya akan serius bekerja...tapi jika anda tidak percaya, anda bisa memutus kontrak kerja kita sekarang juga, saya tidak keberatan..." hardik Elia. Dia merasa ga nyaman Arya mencampuri urusan pribadinya.


" Kamu mau membatalkan kontrak??? hahaha... kamu harus bayar ganti rugi 1 milyar..tidakkah kau membacanya???" Mata Elia membulat sempurna. Di depan matanya terpampang jelas surat kontrak yg sudah terbubuh tanda tangannya yang Arya sodorkan kepadanya.


Elia membaca ulang isi perjanjiannya. Ia merasa bodoh kemarin tidak membaca keseluruhannya. Elia kaget, dia merasa terjebak. Kemarin, dia tidak curiga sedikitpun saat begitu mudahnya ia mendapat pekerjaan ini.


Arya menyeringai. Dia menatap Elia dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan.


Ini saatnya balas dendam El... pikir Arya dengan bibir menyungging ke atas.


flashback..


" Tuan, ini daftar pelamar untuk calon sekretaris baru anda.." Pramono asisten pribadi Arya menyodorkan setumpuk map.


" Sudahlah kau saja yang urus, tapi tunggu..." pandangannya terhenti pada salah satu map yang bertulis nama Elia Permata Nurani. Dia tertawa melihat foto di map itu. " Pilih dia saja..."


" Anda yakin tuan? dia satu satunya yang belum ada pengalaman kerja." ucap Pramono.


" Urus segalanya, aku mau dia. Satu lagi, beri pasal yang memberatkan agar dia tidak bisa kabur dari perusahaan ini."

__ADS_1


" Baik Tuan..."


flashback off..


" Sudah keluar, mulailah bekerja..." titah Arya pada Elia menunjuk ke arah pintu.


Elia beranjak keluar. Dia menuju ke meja kerjanya. Memandang Arya sekilas perasaannya jadi bercampur aduk.


Bagaimana aku bisa sebodoh ini. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku tidak mampu jika harus membayar denda sebanyak itu. Aku juga tidak mau masuk jeruji besi dengan membawa anak dalam rahimku ini. Andai Mas Prass ada....hiks..hiks... batin Elia bergejolak. Dia merasa akhir akhir ini cobaannya begitu berat.


Di dalam ruangan Arya masih belum bisa konsentrasi bekerja. Dia masih terus memikirkan Elia. Rasa penasarannya mengalahkan kebencian dalam dirinya.


" Selidiki semua hal yang terjadi pada Elia. Aku ingin tahu detailnya segera." ucapnya pada seseorang lewat telepon sambil dilihatnya sosok wanita itu lewat kaca ruangan yang langsung mengarah ke meja kerja Elia.


Elia tidak tahu sedang diperhatikan. Perhatiannya tertuju pada tumpukan file yang musti dia pelajari. Dia benar benar merasa awam dengan semua hal tersebut.


" Bagaimana hari pertamamu kerja El..." sapa ibu melihat Elia pulang kerja.


" Menyenangkan bu...tapi capek ini..El ke kamar dulu ya..." Elia tak mau ibunya tahu apa yang terjadi di kantor.


Elia merebahkan badannya di kasur. Pegal dan letih melanda tak berperi. Dia elus perutnya yang masih rata. Kehidupan baru dalam rahimnya itulah penyemangat hidupnya saat ini. Dia akan tetap bertahan meski bosnya esok akan lebih menindasnya.


Hari pertama kerja yang sangat melelahkan. Apalagi dalam kondisinya yang sedang hamil muda. Arya selalu merasa tidak puas dengan semua hasil kerja Elia. Semua selalu salah dan harus di ulang. Bahkan sekedar menyeduh kopi pun harus ia ulang sebanyak 10 kali. Belum lagi untuk hal lainnya, Arya jadi sosok perfeksionis yang harus selalu dituruti kemauannya.


" Sabar ya sayang..semua akan indah pada waktunya..kamu harus kuat..kita berjuang bersama sama..." ucapnya masih sembari mengelus perutnya.

__ADS_1


Air mata Elia tiba tiba meleleh, mengingat suaminya yang seolah tidak peduli lagi kepadanya. Elia mengerti kesalahan ada padanya karena dia sendiri yang memilih pergi, tapi kenapa Prass sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan sekedar membalas chat, sms ataupun email yg sudah Elia kirimkan pun tidak.


Elia merasa kasihan pada calon bayinya itu, akankah ia lahir tanpa sosok ayah???


Sekali lagi Elia menghubungi Prass, namun nihil. Nomor ponselnya sepertinya sudah diblok. Dia kembali mengirim email. Entah Prass membacanya atau tidak, paling tidak Elia merasa lega sudah memberi kabar Prass.


*Mas Prass,


Hari ini aku mulai kerja. Calon anak kita benar benar pengertian, dia tidak rewel. Oia ini juga aku kirim foto USG kemarin..calon bayi kita sudah 12 minggu, sehat dan kuat.


Elia*.


Di sisi lain ada Arya yang masih berkutak dengan rasa penasarannya. Dia menunggu laporan hasil penyelidikan orang suruhannya.


Beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Buru buru dia sambar dan dia mendengarkan perkataan lawan bicaranya dengan seksama. Alisnya berkerut, wajahnya juga menegang. Kemudian telpon ia matikan.


Arya menjatuhkan badannya di kursi kerjanya. Dia terlihat syok lalu memijit keningnya dengan lembut.


" Jadi kamu sekarang sedang hamil El...." ucapnya lirih. " Jadi si brengsek itu mencampakkanmu saat kamu sedang hamil?....hahaha...inikah hukumanmu karena mencampakkanku dulu??" ucapnya dengan senyum yang seolah dipaksakan.


Arya memang berniat membalas dendam pada Elia. Dia berniat membuat hari hari Elia menderita seperti dirinya selama ini. Namun, mengetahui yang sebenarnya pada Elia dendamnya seolah menciut. Dia tak senang melihat Elia menderita dan terpuruk seperti ini.


bagaimana kelanjutan kisahnya ya....


jangan lupa dukung terus author ya....

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2