Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
rujuk dan pulang


__ADS_3

Elia dan Prass sedang diliputi kebahagiaan. Mereka pergi ke rumah seorang ustad untuk memastikan hubungan mereka. Karena belum pernah ada kata talak diantara mereka, mereka masih sah jadi suami istri.


Prass mengajak Elia pulang, tapi tidak ke rumah ibunya. Mereka pulang ke rumah pribadi Prass.


" Selamat datang kembali ratuku..." Prass memeluk Elia saat sampai di depan rumah.


Tatapan kerinduan menyeruak dalam sorot mata Prass. Bagai singa kelaparan yang melihat mengsanya, ingin segera dilahabnya.


"Aku merindukanmu El..." pandangan mereka bertemu. Setelah mengunci pintu, Prass langsung menggendong Elia masuk ke kamar dan membaringkannya.


Prass benar benar sudah tidak bisa menahan kerinduan. Berbulan bulan mereka terpisah, rasa rindu itu sudah masuk ke titik kulminasinya harus segera disalurkan.


Prass mengecup pelan bibir Elia. Sebuah kecupan kecil yang cukup membuat desiran cinta dan hasrat menggelora. Mereka seolah terbang ke langit, melayang dalam buaian rengkuhan cinta kasih. Hangat dan semakin lama semakin memanas.


" Aku mencintaimu El...sangat mencintaimu...." Prass memantapkan pelukan dan memberi ciuman yang semakin dalam.


" Maaaassss...." erang Elia saat satu persatu pakaian yang ia kenakan di buka lembut oleh suaminya.


" Kamu makin menggemaskan El... bolehkah?" tanya Prass sembari mengecup pucuk kepala Elia. Elia jelas paham maksud Prass.


" Hati hati ya...ada si kecil di dalam..." Elia menggeliat menyentuh perut buncitnya, semakin menambah hasrat dalam diri Prass. Setelah sekian purnama tidak merasakan kehangatan istri, hari ini semua ingin ia lampiaskan sepuas puasnya.

__ADS_1


Dengan ciuman bibir yang semakin panas dan intens merambat ke area sensitif lainnya. Hingga akhirnya setelah cukup lama pergumulan itu berakhir dengan masing masing terkulai lemas. Prass mengelus perut Elia yang mulai buncit itu, karena kehamilannya memang sudah 4 bulan.


" Anak ayah lagi apa ini?" ucapnya masih mengelus perut Elia. Tiba tiba ada gerakan yang sangat halus namun masih bisa mereka rasakan.


" Dia gerak El...." Prass sumringah. Dia hampir menitikan air matanya.


" Iya Mas, baru kali ini aku merasakan..." Elia juga tak kalah takjub dengan Prass.


" Dia suka aku tengok kali El...hihihi..." Prass menyeringai.


" Huzzz... Mas ini..." wajah Elia memerah.


Mereka kemudian tertidur nyenyak dalam buaian mimpi indah.


Mentari pagi hangat menyinari bumi. Membawa titik embun kembali ke asalnya. Sayup terdengar hembusan nafas sepasang insan manusia yang sedang dimabuk cinta.


Elia memandang hangat sosok di sampingnya. Rasanya mimpi yang jadi kenyataan. Setelah dulu hampir merasa pupus harapannya untuk bisa kembali bersama sang suami, kini sosok gagah yang selalu mengayomi itu benar benar akan jadi mata air kebahagiaannya selamanya, bukan sebatas embun pagi yang hanya sementara.


" Sayang, kenapa kamu pandangi aku terus???" Prass berceloteh tanpa membuka matanya.


" Selamat ulang tahun suamiku tersayang, semoga panjang umur, sehat dan bisa jadi imam terbaikku...maaf tidak ada yang spesial yang bisa aku berikan.." Elia memberi kecupan di pipi Prass.

__ADS_1


" Terima kasih sayang.. dengan kehadiranmu saja bagiku bagaikan seisi dunia ada dalam genggamku.. tidak lagi perlu yang lain..." Prass mengecup kening Elia lembut.


Sesaat setelah mereka bebersih dan sarapan, ada suara ketukan pintu yang teramat keras. Seakan mencerminkan betapa tidak sabarnya orang yang bertamu itu.


" Siapa ya..."


" Biar Mas liat, kamu tetap disini saja..." Prass beranjak menuju ke pintu. Tiba tiba terdengar pertengkaran yang memaksa Elia keluar dari kamarnya.


Terlihat ibu mertua dengan Prass sedang beradu mulut. Elia dengan sigap mencoba melerainya.


" Elia, kamu jangan campuri urusan kami..." bentak Ibu saat Elia mendekat.


" Elia ini istriku bu...dia juga sedang hamil..cucu ibu..."Prass menurunkan nada suaranya.


" Kamu percaya dia Prass? kamu yakin anak itu milikmu? kau tidak tahu kan bagaimana dia di luaran..berapa lelaki yang sudah menikmati tubuhnya..." hardik ibu.


deg..!


Mendengar hal menyakitkan itu, cairan bening meluncur deras di pipi. Bagaimna ibu bisa sejahat itu.


bagaimana episode terakhir kisah Elia???

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2