Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
mulai gelisah


__ADS_3

Hari hari Elia dilaluinya dengan bahagia. Tak sekalipun terbesit dalam benaknya memikirkan orang lain selain suaminya. Dia benar benar menikmati perannya sebagai seorang istri. Prass juga menjalankan perannya sebagai suami dengan baik. Memberi nafkah lahir batin dan selalu memanjakan Elia.


Tak terasa sudah setahun lebih mereka berumah tangga, hampir dua tahun. Dan Elia juga sudah menyelesaikan kuliahnya. Hingga akhirnya ada hal yang beberapa hari ini mengganggu fikirannya. Beberapa hari yang lalu ia tanpa sengaja mendengar percakapan Prasa dengan ibunya.


" Prass, sudah setahun lebih ko Elia belum hamil juga ya..." tanya ibu. " Kamu rutin menjamahnya kan?..." imbuh ibu tanpa rasa malu.


" Ya iyalah bu..masa punya istri dianggurin..heeee..." jawab Prass cengengesan.


" Ibu dah pingin punya cucu ini..temen temen ibu sudah pada punya...kalau ketemuan yang diomongin cucu masing masing, ibu cuma bengong...."


Elia pergi, enggan mendengar lanjutan obrolan mereka lagi. Dia tahu, sebagai perempuan dia pasti yang paling disudutkan jika soal momongan yang belum kunjung hadir. Dia sebenarnya juga sudah kepingin punya momongan. Hal tersebut selalu terucap dalam doanya. Mungkin memang belum waktunya pikirnya.


"Mas...aku boleh kerja ndak?" ucap Elia tiba tiba saat Prass duduk di sampingnya.


" Hmmmm...kenapa ko pingin kerja? uang dari aku belum cukup?" Prass balik bertanya sembari mengelus pucuk kepalanya lalu merebahkan kepala Elia dipangkuaanya.


" Bukan gitu..rasane bosen aja ga ngapa ngapain di rumah..." jawab Elia sambil memilin dada Prass dengan jemarinya.


" Oke deh... tapi sebelum kerja kita promil dulu gimana? aku punya kenalan dokter kandungan yang handal...besok kita kesana ya..." ucap Prass lembut. Elia mengangguk, lalu tiba tiba Prass menyambar bibir Elia dengan ganas. Sepertinya hasratnya tiba tiba memuncak, dan berakhir dengan pergumulan panjang dan panas di ranjang.


--------------------


" Nyonya Elia, silakan masuk..." teriak suster penjaga di ruang praktek dokter Sandra, dokter kandungan yang merupakan teman sekolah Prass dulu. Dia sebenarnya mantan kekasih Prass, namun mereka tetap berteman akrab meski sudah putus. Dia belum menikah karena masih berharap bisa kembali ke pelukan Prass. Tapi dia sudah mengubur dalam rasa itu semenjak Prass menikah.

__ADS_1


Prass dan Elia masuk ke ruangan. Terlihat seorang dokter perempuan sedang mengecek file.


" Nyonya Elia, silakan duduk..." ucap sang dokter tanpa memperhatikan sosok yang datang.


" Selamat siang dokter..." sapa Prass membuat sang dokter mendongak melihat ke arah mereka.


" Prass?!?....hai apa kabar?" dokter cantik itu terlihat sumringah, langsung memeluk dan cipika cipiki tanpa memperhatikan ada istrinya juga di ruangan itu.


Melihat pemandangan itu Elia mengernyitkan dahi dan tersenyum kecut.


" Prass kamu kenapa kesini?" ucap dokter Sandra penasaran.


" Ni nganter istri aku mau check up..ayo kenalin..kamu belum pernah ketemu kan? pas nikahan kenapa ga dateng?" cerca Prass.


Elia dan Prass saling senyum perpandangan.


Akhirnya pemeriksaan umum di mulai. Mulai dari menjawab beberapa kuisoner hingga cek usg dan cek darah. Hasil resminya akan keluar esok hari. Namun ga cuma Elia saja yang dicek, sang suami juga. Karena prosedur promil harus dilakukan berdua.


" Ya sudah bu dokter, kami pamit pulang..terima kasih atas bantuannya.." Elia berdiri bersalaman lalu keluar dari ruangan.


Prass masih di dalam ruangan. Elia menunggu dengan sabar tanpa rasa curiga, mungkin karena dia juga ga tahu kalau dokter itu mantan pacar suaminya. Setelah beberapa waktu Prass keluar dan mereka pulang.


Sampai di rumah sang ibu sudah menunggu, sedari tadi mondar mandir cemas.

__ADS_1


" Bagaimana hasilnya?" tanya ibu saat mereka datang. " kalian berdua subur kan?" imbuhnya begitu mereka berdua duduk.


" InshaAllah bu...tidak usah cemas..." jawab Prass menenangkan.


Elia hanya diam, menundukkan kepala. Seolah dia jadi tersangka dalam kasus berat. Meski dalam urusan rumah tangga ketidak hadiran anak memang masalah besar.


Prass senantiasa menggenggam tangan Elia. Dia memberi isyarat agar Elia selalu tenang karena ada dia yang akan selalu melindungi. Elia juga kini sudah sangat bergantung pada Prass, dia merasa beruntung mendapatkan suami seperti Prass yang selalu mencintai dan menyayanginya. Hingga dia tak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Prass. Apalagi setelah Ayahnya meninggal beberapa bulan setelah pernikahannya. Hanya Prasslah dunianya kini.


Di kamar, Elia menangis sesenggukan. Prass mengerti perasaannya, dan dia mencoba menenangkan.


" Sayang, sudah dong jangan nangis lagi...kamu jangan sampai stress biar usaha kita lancar..." celetuk Prass.


" Iya Mas.." Elia mengangguk dan mulai menghapus air matanya.


" Yaudah yuk naik ke ranjang...kita cicil usaha dapet momongannya...." Prass mengedipkan mata. Elia hanya menjawab dengan senyuman.


ceeekleeek....


Lampu kamar di matikan terus terjadilah pergumulan indah dari sepasang suami istri itu. Desahan demi desahan mengiringi malam sepasang manusia yang bersatu dalam nama cinta.


**semoga cepet hamil ya Elianya...jangan lupa kasih jejakmu ya...


bersambung**....

__ADS_1


__ADS_2