
Elia pulang ke rumah dengan tatapan kosong. Air matanya seakan telah habis hingga yang ada hanya rasa sesak dan kerongkongan yang mengering. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Semua terasa gelap, hatinya hampa, kosong.
Sejenak ia merasakan hal ini terjadi 10 tahun lalu saat sang ibu meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ia memegang dadanya. Rasa yang sama bahkan ia merasa jauh lebih sakit.
"Oh..inikah yang namanya patah hati?"gumamnya dalam hati.
"kuatkan El Tuhan..." Elia berhenti. Mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya. Matanya kembali nanar, dia berjongkok menutupi wajahnya dan kembali terisak.
"rasa apa ini!! kenapa begitu menyesakkan..hiks..hiks..."
Agak jauh di belakangnya ada sosok yang mengikuti. Sosok itu mengikuti dengan hati hati agar tidak ketahuan. Dia pun juga memegang dadanya sambil menitihkan air mata. Dia tidak tega, ingin rasanya dia berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya. Namun apa daya, kakinya lunglai tak sanggup melangkah. Dia tahu, dialah penyebab kesedihan gadis manis itu.
" maafkan aku El...maafkan aku telah menyakitimu..tapi ini yang terbaik untukmu saat ini.." ucap sosok itu dalam hati.
" Kak Arya..!..kenapa mengendap endap begitu?" ucap seseorang mengagetkan cowok itu. Dan ya, ternyata Arya yang mengikuti Elia. Dia ingin memastikan tidak terjadi apa apa padanya saat perjalanan pulang...
" Septi...sssshhhhttt." jawab Arya dengan telunjuk menempel di bibirnya. Dia kemudian menunjuk ke arah Elia.
__ADS_1
" kenapa dia kak?"
" tolong temani dia. Aku kawatir terjadi apa apa dengannya. Aku baru saja memutuskannya...." ucap Arya lirih.
" apaa???!" teriak Septi.
" oia jangan bilang aku mengikutinya..."
" kakak keterlaluan... Elia itu sangat menyayangi kakak...teeegaaa...!" ucap Septi sembari memukul lengan Arya. Ia pun berlalu meninggalkan Arya. Menuju sahabatnya yang tengah terluka.
Arya melihatnya dari kejauhan. Septi memeluk Elia dengan erat. Memberinya minum dan mengajaknya duduk di kursi halte. Sepertinya Septi sedang berusaha menenangkan Elia. Sebentar kemudian Arya melihat senyum mengembang di bibir Elia. Ia merasa tenang dan dia pun berbalik menuju arah pulang.
***flashback**...
" Den..boleh bapak bicara sebentar?..." ucap Pak Zani saat Arya pulang sekolah.
" tentu Pak, apa ada yang penting?" jawab Arya dengan sopan.
__ADS_1
" ini soal Elia, anak bapak..."
" ada apa dengan Elia pak?" tanya Arya penasaran.
" apakah aden benar benar menyayangi Elia?"
" tentu pak..aku sangat menyayanginya..aku akan menjaga dan melindunginya..." tegas Arya.
" kalo begitu bapak mohon tolong lepaskan dia..untuk saat ini..jika kelak kalian berjodoh bapak tidak akan melarangnya..biar dia konsentrasi belajar dulu..." terang Pak Zani.
" yakin cuma itu alasannya pak?" tanya Arya makin penasaran.
Pak Zani sejenak diam. Dia pun meneteskan air matanya. Setelah berapa waktu, Pak Zani menceritakan semuanya. Soal perilaku Tria dan ibunya juga kesedihan Elia atas perlakuan mereka.
" baiklah pak..saya akan berpisah dengan El..semoga ini yang terbaik untuknya..jika waktunya tiba, aku akan meraihnya kembali dan saat itu tiba tolong bapak merestui."
flasback off*...
__ADS_1
Arya memacukan langkahnya untuk segera pulang. Di jalan dia berpapasan dengan Tria. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras menahan amarah. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada gadis itu. Tapi diurungkannya, dia masih bisa berfikir jernih. Dia benar benar ingin menghindari gadis licik itu. Dia sama sekali tak merespon saat Tria menyapa dengan senyum manisnya. Dia mengambil langkah seribu untuk segera meninggalkan gadis itu. Hatinya benar benar eneg melihat Tria. Dia tak menyangka Tria bisa setega itu pada saudarinya.
---dukung terus ya, agar author bisa berkarya lebih baik lagi karena ini karya pertama jadi maaf masih belepotan😅---