Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
pertunangan Tria


__ADS_3

Arya teringat akan mata yang tadi dilihatnya. Dia merasa akrab dan sangat mengenal pemilik sorot mata itu. Teduh dan sangat menenangkan. Ia mengingat ingat siapa gerangan sosok itu.


" Den, ini Udin yang disuruh Tuan Bramantyo untuk menjemput.." sapa seseorang saat bertemu Arya.


" Oia Pak..mari kita pulang..."


Pak Udin tidak menjawab dia malah tengak tengok kesana kemari.


"Paaaak....!...Pak Udin?? cari siapa Pak??" tanya Arya penasaran.


"Aaaanu Den..anaknya Pak Zani..tadi pesen siapa tahu ketemu..dia jadi cleaning service disini..." lugas pak udin


*deg...deg...


Jadi tadi itu Elia. Pantas aku merasa sangat familiar dengan tatapan itu. Tapi kenapa dia tadi diam saja. Apa dia sudah melupakanku??ataukah dia masih marah padaku. Padahal aku tak pernah sedikitpun melupakannya. Andai kau tau El, aku memutuskanmu demi kebaikanmu.


----------------


kring...kring...kring..


Handphone Elia berdering.


" Hallo yah...ada apa tumben telpon?" tanya Elia penasaran.


" Minggu ini kamu bisa pulang ndak? kakakmu mau lamaran.." ucap Pak Zani antusias.


" iyakh??...waaah..dengan siapa yah..." sela Elia tak kalah antusias. Seutas senyum menghiasi bibirnya.

__ADS_1


" Dengan mas Arya...." jelas Pak Zani. Memudarkan senyum di bibir Elia.


" Oh...aku usahakan datang..." ucap Elia lirih. Tiba tiba cairan bening meleleh dari sudut matanya. Dadanya juga merasa sesak.


Jadi tujuanmu pulang untuk ini Kak. Kau mau melamar Mbk Tria??? apa karena Mbak Tria, dulu kamu memutuskanku. Oh Tuhan..kenapa hatiku masih terasa sakit?? kenapa waktu bertahun tahun belum bisa menyembuhkannya. Apa karena aku masih belum terima perlakuannya. Mungkin kalau aku tahu salahku, aku tak kan sesedih ini. Kenapa kau kejam sekali kak..hiks..hiks...


" El...kamu kenapa? tadi ceria ko tiba tiba murung?" tanya Prass. Dan memang saat ini Elia sedang bersama Prass. Mereka sedang makan siang.


" ndak apa apa ko Mas.." jawab Elia. Sudah sejak lama Elia memanggil atasannya dengan sebutan Mas.


Pernah suatu waktu Prass menyatakan cintanya pada Elia. Tapi Elia tidak bisa memberi kepastian. Elia jujur masih ada rasa pada mantannya dan Prass menerimanya. Mereka kini jadi sahabat baik. Prass selalu ada saat Elia butuhkan, bahkan kuliah Elia juga Prass yang mengurusnya. Namun, ada yang mengganjal yakni Ibu Prass tidak setuju jika Prass harus menunggu lama. Kalau memang Prass mencintai Elia, dia harus segera menikahinya, kalau tidak Ibunya akan menjodohkan dia dengan orang lain. Karena ibunya sudah sangat mengharapkan cucu.


" Mas, kamu bisa anterin aku pulang ke Magelang tidak?" tanya Elia." kakakku mau tunangan, aku ingin menyaksikannya..." imbuh Elia datar.


" tentu... aku mau berkenalan juga dengan orang tua kamu..sekalian minta restu..hehehe.." celetuk Prass hingga membuat Elia membulatkan mata karena kaget.


" Ibu sudah mendesakku untuk menikah terus El...kamu kapan siapnya..." tukas Prass frustasi lalu meremas rambutnya.


" aku kan sudah cinta mati sama kamu El..kayaknya kalau sama orang lain aku ga bakal bisa on.." sambil melirik Elia.


" maksud mas?"


" Ya aku ga bakal bisa bikinin ibu cuculah...hiiihiii...."jawab Prass meringis.


celeeguuuuk....


Elia dengan susah payah menelan salivanya, mendengar Prass bisa bicara begitu. Bisa bisanya dia bicara begitu.

__ADS_1


-------------------


Setelah sejam lebih perjalanan Elia dan Prass telah sampai di kediaman Pak Zani. Prass menyetir mobilnya sendiri.


Sampai disana, rumah sudah dihias sedemikian rupa sehingga sangat indah untuk acara pertunangan.


Jantung Elia berdegup kencang saat memikirkan Arya. Apa yang akan ia lakukan saat bertemu dengan embun paginya itu.


Pingin bertemu tapi kalau dalam suasana seperti ini Elia bingung harus bagaimana. Secara Arya adalah calon kakak iparnya.


"Hai El...apa kabar?? seneng deh kamu bisa pulang..kamu tau ndak mbak seneng banget deh hari ini.." Tria menyapa dengan senyum merekah.


" Baik Mbak...oia..selamet ya mbak...moga lancar sampai hari H..." ucap Elia sambil memeluk Tria. Meski hatinya sakit teriris. Tentulah Tria sangat bahagia mendapatkan incarannya selama ini.


Elia hanya bisa mendengus kesal. Menghirup dan membuang nafasnya dengan berat. Rasanya ia ingin berteriak namun ia masih bisa mengendalikan diri.


Di lain tempat Pak Zani sedang berbincang dengan Prass. Terlihat mereka bercanda dan tertawa bersama.


" Yah.. Elia mau pamit..El ga bisa mngikuti acara.. Ada kepentingan mendadak." ucap Elia memeluk ayahnya lalu mengajak Prass pergi. Yang diajak juga cuma bengong lalu melajukan langkah mengikuti Elia.


Elia menghentikan langkah di depan pintu. Dia terkaget bertemu Arya.


" Apa kabar El.." sapa Arya mengulurkan tangan.


"Baik Kak...oia maaf kak aku buru buru..." kata Elia buru buru berlalu meninggalkan Arya.


Arya mematung, dia menatap kepergian Elia nanar. Hatinya panas melihat Elia pergi dengan seorang laki laki.

__ADS_1


*Siapa dia El..apa kekasihmu??


--bersambung*....--


__ADS_2