Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
akhirnya bertemu


__ADS_3

Prass mondar mandir berjalan tak tentu arah. Dia melihat ke kanan kiri mencari sosok istrinya. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan istrinya itu. Dia merasa jadi lelaki paling kejam di dunia. Kalau bukan karena ibunya, dia tidak akan menikahi Sandra dan menduakan Elia.


flashback...


" kamu masih saja mencarinya Prass?" ucap ibu saat Prass pulang dengan kondisi lusuh dan tak terurus. Sudah berminggu minggu Elia meninggalkannya.


" Dia istriku bu...aku bertanggung jawab atas dirinya..."


" Terserah apa yang kamu pikirkan,berkali kali ibu bilang hanya satu keinginan ibu...menikahlah dengan Sandra, toh Elia juga mengijinkanmu..ibu tidak memaksamu menceraikannya.." Ibu mencoba meyakinkan Prass. Sandra adalah orang yang Ibu jodohkan dengan Prass semenjak belum bertemu Elia.


" Tidak bu, aku hanya mencintai Elia.. Sandra hanya masa laluku..."


" Kalau kamu tidak menurut, ibu akan habisi nyawa ibu sendiri..." ancam ibu sembari masuk ke kamarnya.


Entah apa yang sudah Sandra janjikan hingga Ibu sampai tergila gila untuk menjadikannya menantu.


Berkali kali Ibu mengancam Prass, hingga suatu waktu Ibu benar benar mencoba bunuh diri. Akhirnya Prass memutuskan memenuhi permintaan ibunya.


Sebenarnya Prass berulang kali mencoba menghubungi Elia, namun nihil hingga malangnya ponselnya malah kecopetan. Putus semua kontak dengan Elia.


flashback off...


Samar samar Prass mendengar tangisan seorang wanita. Dia menajamkan telinganya dan mengikuti sumber suara itu. Ada seseorang duduk sendiri di kursi halte.


Dalam remang remang dia melihat seorang wanita tengah menelungkupkan kedua tangan di wajahnya. Menangis sesenggukan.

__ADS_1


" El....." sapanya. Wanita itu berdiri dan menatap ke arah Prass.


Elia berusaha melarikan diri lagi. Namun, Prass berhasil menghentikannya. Dia mencengkeram erat lengan Elia, lalu menariknya dalam pelukannya.


Gemuruh rasa di dada mereka tak terbendung. Dengan nafas memburu yang terasa sesak. Sungguh hanya dengan pelukan hangat ini serasa seluruh emosi mereda. Bagai rasa gersang kemarau panjang yang hilang hanya dengan hujan sehari.


Elia membalas pelukan Prass, ia juga enggan melepasnya. Berbulan bulan terpisah dengannya, membuat kerinduan itu kian membuncah hingga butuh pelepasan.


" Maaasss....kenapa selama ini kau tidak mencariku? apa aku sudah tidak penting buatmu?.....lama aku tidak bisa menghubungimu dan kini...hiks hiks..tiba tiba kau muncul dengan kabar kau sudah menikah kembali..." bisik Elia pelan. Jiwanya masih terguncang. Rasa rindu, benci dan marah bersatu dalam jiwanya yang rapuh. Namun hanya dengan sebuah pelukan itu hatinya jadi lumer, mirip coklat yang dimasak di atas kompor.


" Aku mencarimu, tapi tidak menemukanmu..kau bagai hilang ditelan bumi El.....aku bahkan keluar dari pekerjaanku karena ingin fokus mencarimu..."


" Mas, sebenarnya aku juga berkali kali menelfon, kirim chat, sms hingga memberi kabar lewat email namun semua nihil, padahal ada yang penting yang harus kusampaikan, pernah suatu waktu ibu mengangkat telfonku..." tambah Elia lirih.


" Apa? apa yang kau katakan dan ibu katakan?.. sampaikanlah langsung sekarang...aku ada untukmu, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi..." ucap Prass sembari mengecup dalam puncak kepala Elia.


Jadi kau belum tahu kehamilanku mas? Ibu tidak mengatakan apapun padamu?? haruskah aku katakan sekarang? Tapi tidak..lebih baik kau tidak tahu, sekarang kau juga milik Sandra bukan hanya milikku.


Elia melepas pelukannya.


" Pulanglah Mas, istrimu pasti mencarimu." Elia membuang mukanya.


" Pernikahan kami terpaksa El...aku tidak pernah menganggapnya istri..aku datang kemari juga karena sebuah perjanjian..."


" Maksud kamu apa Mas?" Elia ingin tahu.

__ADS_1


" Aku akan menceraikannya setelah 6 bulan menikah. Tapi selama itu aku harus berpura pura benar benar menikah dengannya."


Elia mengernyitkan dahinya, " Berarti Mas juga menafkahinya lahir batin juga kan?" Elia tertunduk kemudian membuang mukanya menjauhi Prass.


Prass mengangkat dagu Elia dan mengarahkan mendekati wajahnya.


cuuuup....


Langsung ia kecup bibir merah itu. Ia tahu maksud pembicaraan Elia.


" Aku memang menafkahinya El..karena bagaimanapun dia istriku..." Elia kembali tertunduk. " Tapi aku tidak seranjang dengannya, sampai saat ini hanya kaulah satu satunya perempuan yang pernah ku jamah...percayalah El...."


Elia mengangkat wajahnya, ada semburat ketidakpercayaan dalam wajah Elia. Sosok yang Elia kenal selama ini adalah pria mesum yang tidak pernah membiarkan istrinya menganggur di tiap malamnya.


" Heeeeh.....tidak usah bohong Mas, dulu kau tak pernah bisa mengendalikan hasrat saat bersamaku...apa lagi ini ada yang fresh, tidak mungkin kamu anggurin..." Elia tersenyum kecut.


Refleks Prass menyambar tangan Elia dan menempelkannya di bagian sensitifnya yang sudah bereaksi dari tadi.


" Ini hanya bereaksi saat bersamamu El..." Prass menatap Elia tajam. Wajah Elia pun jadi bersemu merah.


" apa apaan sih Mas..." Elia menarik tangannya, bibirnya manyun.


Suasana jadi sepi, mereka yang kini sedang duduk di halte bus tenggelam dalam fikiran masing masing. Memikirkan bagaimana kedepannya.


Bagaimana kelanjutannya ya...hmmmm...dukung terus author ya....

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2