
Kicau burung terdengar merdu, seolah mengawali hari dengqn membawa semangat baru. Seperti yang sedang dirasakan seorang gadis kecil yang sedang menikmati sarapan bersama Ayahnya.
" Papaaaa....ayo kita sekolah...Queen seneeeng banget sama sekolahnya....sama Bu guru juga...." Queen anak semata wayang Arya begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Sungguh keceriaannya adalah pelipur lara bagi hati ayahnya. Hingga senyum tipis pun tercetak di bibir tebal Arya.
" Iya sayaaaang...kamu habiskan dulu sarapannya lalu kita berangkat....Biiik, segera siapkan Queen untuk ke sekolah.." titah Arya pada asisten rumah tangganya yang juga merangkap sebagai pengasuh si kecil Queen. Karena Queen memang tidak tumbuh besar dalam pengasuhan ibu kandungnya. Ibunya sudah bahagia bersama Tuhan di atas sana. Ibu Queen meninggal saat melahirkannya.
"Baik Tuaaaan..." Bibi Iyem segera membantu si kecil Queen untuk bersiap. Menyelesaikan sarapan dan mendandani Queen, mengikat rambut Queen yang agak keriting, persis dengan rambut Risa yang memang keriting namun cantik.
Setiap kali melihat Queen, Arya selalu diselimuti rasa bersalah, betapa dia sudah menyia nyiakan ibu Queen dari awal pernikahannya. Risa, dokter cantik yang selalu mengejar cinta Arya, namun selalu ia abaikan. Hingga suatu malam Arya yang sedang dalam kesedihan mendalam karena patah hati tanpa sadar telah menanam benih di rahim Risa, hingga akhirnya ia harus bertanggung jawab dan menikahi Risa. Selama pernikahannya Arya tidak begitu memperdulikan Risa, Risa mengerti karena dalam hati Arya hanya ada Elia. Tapi dia bahagia ada sosok mungil yang hadir di rahimnya, jadi tanda pengikatnya dengan sang pujaan hati yang sudah jadi suaminya itu, Arya. Sebegitu sayangnya dia pada janinnya hingga saat komplikasi di kehamilan trisemester tiga pun dia tetap mengutamakan keselamatan si janin, hingga dia menghembuskan nafas terakhir di hari ketiga pasca persalinannya setelah berjuang karena perdarahan hebat dan koma. Saat itulah, Arya benar benar dihantui rasa bersalah dan penyesalan yamg mendalam. Dia berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi putri semata wayangnya, dan tidak ada niat sedikitpun untuk mencari pendamping baru menggantikan Risa. Dia cukup trauma dengan kisah Elia dulu dengan ibu tirinya yang kurang baik. Arya tidak mau Queen merasakan apa yang Elia rasakan.
Setelah 20 menit perjalanan menggunakan mobil , Arya dan Queen sampai di sekolah. Riuh anak anak yang berlarian khas situasi sekolah TK memenuhi halaman.
" Papa, ayo masuk..kenalan sama bu guru cantik..." rengek Queen membujuk sang Ayah.
" Iya sayang...ayoook Papa gendong sampai kelas..."
"No Papa...Queen sudah besar..bisa jalan sendiri..."ucap gadis kecil itu begitu menggemaskan, dengan pipi menggembung dan kepala geleng geleng.
Tanpa drama mereka segera berjalan beriringan menuju kelas Queen.
__ADS_1
" Bu Eliaaaaa....." suara cempreng Queen menggema di seluruh ruang kelas. Baru juga masuk kelas dia sudah berteriak.
" Sayaaaang...syuuut..pelan pelan..." Arya menempelkan jari telunjuk di bibir Queen.
" Assalamu alaikum Queeeen...pagi sekali datangnya sayaaang..." Elia tiba tiba datang dari balik punggung Arya. Memberi tangannya pada Queen untuk salim dan cium tangan.
deg..
Arya mematung melihat pemandangan di depannya. Matanya melotot tak berkedip, nafasnya tertahan dan tiba tiba sekitarnya menjadi sunyi. Hanya ada Elia dan Queen. Hanya mereka bertiga. Mimpikah ini???
"Bu Eliaaa...kenalkan papa Queeen..." suara cempreng Queen membuyarkan lamunan Arya.
" Kak Aryaaaaa..." gumam Elia pelan.
Setelah saling bersalaman, Arya mengajak Elia untuk mengobrol di luar kelas. Sedang Queen, dia sudah membaur bermain dengan teman temannya.
"Apa kabar El???...Aku tidak menyangka sekarang kamu bisa jadi seorang guru..." Arya menatap dalam netra Elia. Dengan raut yang seperti tidak percaya bahwa ada Elia di hadapannya. Bolehkah aku memeluknya???
" Alhamdulillah sehat..namanya kehidupan itu kan tidak pasti..kita tidak tahu kemana hidup kita akan berlabuh..." Elia mengalihkan pandangan dari tatapan Arya. Elia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
__ADS_1
" Oia kak...aku mau ucapin banyak banyak terimakasih karena saat aku melahirkan kakak sudah mendonorkan darah buatku...sekali lagi terimakasih banyak ya kak..." ucap Elia sembari mengatupkan kedua tangannya.
" Sama sama El..kita sesama manusia wajib tolong menolong..Trus anak kamu apa kabar? Prass baik juga kan?" tanya Arya antusias.
Elia bimbang, haruskah dia menceritakan rumah tangganya yang sudah kandas?? bukankah itu adalah sebuah aib? tapi itu adalah sebuah kenyataan. Lama Elia menimbang apa yang harus dia katakan.
" Anak aku sehat, dia bersekolah disini juga kok...kalau Prass..hmmm...mungkin baik juga..." Elia menahan nyeri di dadanya. Sekedar menyebut nama mantan suaminya saja hatinya kembali sakit. Bagai tersayat pisau namun tidak berdarah.
"Mungkin????...." Arya mengerutkan kedua alisnya.
" Kami sudah berpisah kak...3 tahun lalu..."
teeeet....teeeet....teeeet....
Bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi. Anak anak beberapa sudah berbaris rapi di depan kelas. Namun, banyak yang masih berlarian. Wajarlah masih usia bermain, namun meski wajar tetap harus dikenalkan apa itu taat peraturan dan disiplin.
" Maaf kak, lain kali kita sambung ngobrolnya..Aku harus mengajar..." Elia bergegas berbalik arah dan berjalan menuju ruang kelasnya.
Arya terdiam, masih kaget dengan kenyataan yang baru diketahuinya. Ada rasa sesak, penasaran, bingung namun entah mengapa dia merasa lega dan bahagia. Hingga terukir senyum tipis di balik keterkejutannya.
__ADS_1
lanjuuuut lagi gak gaeeees๐๐๐