Hanya Sebatas Embun Pagi

Hanya Sebatas Embun Pagi
sebuah pencerahan


__ADS_3

Suara klakson dan derit rem sahut menyahut dalam perjalanan Prass. Dia tidak peduli keselamatan sendiri, yang difikirkannya hanya mengejar Elia. Hanya Elia. Dia mengebut seperti pembalap bahkan lebih pas kalau dibilang mirip orang mabuk yang kesetanan.


" El, tunggu aku..aku akan jelaskan semua..tegakah kau memisahkanku dengan darah dagingku!!!" teriak Prass sembari memukul bundaran kemudi mobilnya.


Di sisi lain Elia sedang termenung. Angannya berpusat pada sosok Prass. Dia merasa sangat keterlaluan karena pergi tanpa berpamitan, meski bagaimanapun dia adalah suaminya, ayah dari janin yang di kandungnya kini.


Arya memperhatikan Elia dengan wajah datar. Dia mengerti, hati dan pikiran Elia tengah dipenuhi angan angan tentang Prass. Dia tidak peduli, yang dia tahu Elia akan bahagia bersamanya dan pasti akan bisa melupakan Prass.


Beberapa saat kemudian mereka masuk kawasan bandara. Hawa keharuan merasuk dalam kalbu Elia. Gambaran awal pertemuan dia dengan Prass beberapa tahun lalu di tempat ini samar samar terbayang. Tidak terasa butiran bening pun menetes tak tertahankan.


" Kenapa El?" Arya mulai khawatir dengan Elia yang menangis.


" Apakah perpisahan ini yang terbaik kak?" Elia menatap sendu Arya.." jawablah sebagai teman bukan sebagai atasan..." imbuhnya.


" Aku hanya ingin melihatmu bahagia El, jika dulu bersamanya kamu tidak bahagia maka sekarang aku membantu memberi jalan.." ucap Arya pelan.


" Tapi apakah ini benar?" Elia kembali berderai air mata.


" El, tenangkan dirimu..aku yakin kamu akan bahagia, dan kamu harus bahagia El..buat anak kamu...." Arya membelai puncak kepala Elia. Ingin rasanya ia memeluk Elia saat rapuh


begini. Namun dia cukup tahu diri, Elia masih belum jadi miliknya. Kembali ia teringat dulu saat ia tidak peduli dengan Elia yang selalu menunggunya. Hingga akhirnya Elia di ambil orang lain.


" Masih ada waktu untukmu merenung El..aku tidak akan memaksamu pergi. Aku juga akan membatalkan kontrak kerja kamu. Kamu tidak perlu membayar denda jika ingin berhenti." Arya berkata sangat lembut. Hati Elia bergetar mendengarnya.

__ADS_1


Perasaan apa ini, kenapa aku seperti ingin memeluknya.. Kak Aryaku, cinta pertamaku.. batin Elia.


Elia membuang pandangannya keluar jendela mobil. Melihat area bandara yang kental dengan ornamen budaya jawa, serta lingkungan hijau nan asri yang menyejukkan mata. Sejenak ia bisa melupakan kebimbangannya.


Meski sedih, Elia tetap pada pendiriannya untuk meninggalkan Prass. Dia selalu terngiang kata kata Sandra.


Mas Prass pasti akan bahagia hidup dengan Sandra, apalagi mereka akan punya anak. Keberadaanku pasti hanya akan jadi benalu, belum lagi kalau mas Prass tidak mengakui bayi ini, aku pasti akan sangat terluka. Maaf ya Mas, semoga esok kita bisa bertemu lagi. Aku pasti akan mengenalkanmu dengan anak kita. Semoga kamu bahagia...


Elia melangkah mantap menuju kehidupan barunya. Dia mengelus perutnya yang sedikit buncit seakan mengajak yang di dalam untuk bicara. Hingga ada suara lantang yang menghentikannya.


" Jangan pergi El..." Elia mendengar suara yang sangat dia kenal. Elia pun berbalik.


" Mas Prass..." Bisik Elia. Mereka saling memandang. Arya mengepalkan tangan kesal. Ia tahu akan seperti apa akhirnya.


" Jangan tinggalkan aku El...jangan lagi...aku akan melakukan apapun yang kamu mau asal kamu jangan pergi...." Prass melepas pelukannya menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Elia.


" Tapi bagaimana dengan Sandra??? dia hamil kan? kalian pasti akan sangat bahagia, aku ga mau jadi benalu di antara kalian..." mata Elia berkaca kaca.." ini mungkin yang terbaik, ijinkan aku pergi..." Elia menundukkan kepalanya.


" Aku tidak mengijinkanmu, aku dan Sandra sudah berpisah..aku hanya untuk kamu.." rengek Prass.


Elia mengalihkan pandangangan ke arah Arya. Arya menghela nafas dan meninggalkan mereka berdua. Arya pergi dengan tatapan dingin dan wajah datar. Semburat kekecewaan terlihat dari wajahnya.


" El...lihat aku..." Prass masih membujuk Elia." kamu tega misahin anak dari ayahnya??" Prass mengelus perut Elia pelan.

__ADS_1


" Maaass...." wajah Elia memerah tapi matanya berbinar. Ada raut kebahagiaan terpancar. " Mas tahu kehamilanku???" tanya Elia ragu.


Prass hanya mengangguk." Maaf aku terlambat mengetahuinya..."


"Kau mengakui ini anak kamu Mas?" wajah Elia kembali ragu.


" Tentulah...aku yakin kesetiaanmu El, hanya aku satu satunya lelaki yang menjamahmu..dan yakinlah hanya kamu satu satunya wanita pernah aku jamah..." terang Prass.


" Sandra?"


" Dia membohongimu...aku benar benar belum pernah menyentuhnya..yakinlah..." desak Prass.


" Ibu..???" Elia masih mencoba meyakinkan diri.


" Beliau pasti bahagia mendengar kehamilanmu." Elia hanya melengos mendengar ucapan Prass.


" Beliau tidak percaya anak ini milikmu Mas..." ingatan Elia kembali pada kata kata mertuanya yang menyakitkan dulu.


" Aku yang akan meyakinkannya." akhirmya Elia mengangguk yakin dengan suaminya.


Elia menelfon Arya, meminta maaf karena dia tidak jadi pergi dengannya. Arya mengangkat telf Elia tapi tidak mengatakan apapun. Elia mengerti kekecewaan Arya.


pembaca budiman jangan lupa jempol da dukungannya ya....

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2