
" Elia...maafkan ibu...hiks..hiks...ibu sudah sangat jahat kepadamu..Ibu tidak menyangka Sandra melakukan hal sejauh itu..." Ibu langsung menghambur ke arah Elia, memeluk Elia erat dan sesenggukan menahan penyesalan. Elia sudah tahu semuanya dari Prass.
" Elia sudah memaafkan ibu, Elia juga minta maaf selama ini sudah berani sama ibu..Elia sayang ibu, Elia ingin Ibu menganggap Elia putri ibu...."
" Iya El... Prass kembalilah ke rumah ini...Ibu kesepian tanpa kalian..." Ibu menatap dalam ke arah Prass. Ada semburat harapan yang terpancar dalam manik hitam mata sang Ibu.
Elia tersenyum dan mengangguk menanggapi tatapan Prass. Pertanda Elia bersedia pulang ke rumah mertuanya.
" Iya bu...kami akan pulang..." Mereka bertiga saling memeluk erat. Setelah bercengkerama dan makan malam mereka masuk ke kamar untuk istirahat.
" Kamar ini masih sama Mas..." Elia masuk ke kamar itu setelah ia tinggalkan beberapa bulan lalu.
" Ini akan selalu jadi kamarmu El...kamar kita..." Prass memeluk Elia dari belakang, menempelkan dadanya di punggung Elia. Dengan kaki yang agak menekuk karena memang tingginya yang jauh di atas Elia.
Prass mengecup puncak kepala Elia lalu mendaratkan dagunya di bahu Elia. Mencium aroma Elia saja sudah bisa membangkitkan gairah Prass. Betapa sungguh Elia telah jadi magnet untuk Prass. Prass menghembuskan nafas hangatnya di curuk leher Elia, membuat Elia menggelinjang geli dan berusaha melepas pelukan Prass.
" Maaaasss...geli ah..." Elia dengan pipi yang merona mencoba menghindar.
" Mas pingin El...." Prass tanpa basa basi langsung menyergap Elia yang mencoba menjauhinya. Matanya sudah tidak bisa terbuka lebar, berubah sendu menahan hasrat. Elia malah menjahili dengan menolak suaminya.
Prass merebahkan badan kekarnya di ranjang. Ia menepuk nepuk kasur di sebelahnya. Memberi kode agar Elia segera mendekat.
" Haruskah aku hitung El...semakin lamban kau kesini, semakin banyak hukumanmu..." Prass menyeringai sambil menutup matanya.
" Satu...dua..."
Elia langsung berbaring di samping Prass dengan wajah ditekuk.
Prass membuka mata dan mendapati istrinya cemberut tapi justru malah membuatnya terbahak gemas. Elia benar benar menggemaskan saat merajuk. Tanpa pikir panjang Prass segera memagut bibir Elia dan melahapnya dengan rakus. Satu per satu pakaian yang membalut tubuh Elia ia lepaskn. Perut Elia yang sudah agak membuncit itu menambah kegemasan Prass. Istrinya yang sedang hamil itu terkesan lebih seksi dan menggairahkan.
__ADS_1
Malam inipun akhirnya mereka bersatu dengan kedamaian hati. Tanpa beban fikiran yang berat seperti urusan dengan Ibu kemarin. Jodoh memang rahasia ilahi yang tak bisa dipaksakan. Sekuat apapun kita menghindar akan tetap bersatu dengan jodohnya. Begitupun sebaliknya, seberapa gigihnya mengejar jika tidak berjodoh akan tetap berpisah juga.
Arya dan Sandra harus menerima konsep itu. Sekeras kerasnya usaha mereka mengejar Prass dan Elia akhirnya mereka tetap akan bersatu juga. Kisah cinta segi empat itu hanya sebatas embun pagi yang sementara saja, dengan kesabaran Elia dan Prass akhirnya kembali berdua.
5 bulan kemudian...
" Aaaaduuuuh...perutku sakiiit...." Elia menggoncangkan tubuh suaminya yang ada di sampingnya.
" Kenapa El...." Prass terbangun dengan agak limbung karena memang baru sebentar ia memejamkan mata.
" Maaaas....peerutku...sepertinya mau melahirkan...aaaauuuu...." Elia meringis.
Segera Prass membangunkan ibunya dan bersiap ke rumah sakit.
" Tarik nafas panjang El....lalu hembuskan...." Ibu memberi instruksi sambil mengelus punggung Elia. " banyak istighfar El...."
" Astaughfirullah hal adzim...huuuuhhh haaaah..." Berkali kali Elia melakukannya dan kontraksinya jadi semakin sering.
" Dokter tolong..." Prass berteriak sembari mengangkat tubuh istrinya.
Elia segera masuk UGD. Dia ditangani bidan praktek sebelum dokter kandungan datang.
" Saya periksa dalam dulu ya, agak tidak nyaman jadi tolong ambil nafas dan tahan sebentar..." Bidan itu memeriksa pembukaan serviksnya.
" Aaaaauuuu..." Elia terkaget dengan rasa tidak nyaman itu. Biasanya hanya suaminya yang menjamah, ini tiba tiba orang asing mengobok obok area pribadinya. Namun rasa malu itu hilang terganti rasa sakit kontraksi yang bertubi tubi.
Beberapa saat kemudian dokter datang dan memberi instruksi agar segera membawa ke ruang bersalin.
Prass berpeluh dan ingin menangis menemani perjuangan Elia namun ia harus tetap kuat. Dia benar benar tak tega melihat Elia menahan sakit. Ia ingin Elia dioprasi saja namun Elia menolak.
__ADS_1
oooeek..oooeek..
Akhirnya setelah perjuangan yang melelahkan bayi itu lahir.
" Selamat Paak...bayi anda laki laki...mirip seperti anda..." Perawat menyerahkan bayi yang sudah dibersihkan itu untuk diadzani ayahnya.
Prass tak bisa lagi menahan air matanya. Haru dan bahagia.
" Dokter... ibu bayi pendarahan..." ucap bidan yang bertugas menangani ibu pasca melahirkan. Semua panik, Prass ikut panik.
" Ya Allah sembuhkanlah istri hamba..." dia mondar mandir di depan ruang tindakan.
" Kami butuh donor darah golongan A Pak..segera..." seorang perawat menghampiri Prass.
" Saya saja..golongan darah saya sama dengan El..." Arya tiba tiba muncul. Perawat langsung membawa lelaki itu masuk.
Bagaimana orang ini bisa tiba tiba muncul...
Prass sepertinya tidak rela jika lelaki itu yang menyelamatkan istrinya. Tapi ia harus mengesampingkan egonya. Keselamatan istrinya adalah yang terpenting.
Beberapa saat kemudian Arya sudah keluar dari ruangan. Ia menghampiri Prass.
" Selamat ya buat kelahiran anak kalian..." ucap Arya.
" Iya.. terima kasih banyak buat bantuannya. Aku berhutang budi padamu, kelak kamu bisa meminta bantuan padaku.. aku akan bersedia membantumu.." Prass berkaca kaca mengatakannya.
" Oke..untuk saat ini cukuplah kau bahagiakan El...dia adalah hidupku..aku akan selalu ada untuk dia, meski aku tidak bisa di sisinya.. jika kelak kau menyakitinya, aku pastikan kau akan kehilangan dia untuk selamanya..." Arya bergegas meninggalkan Prass.
Aku tidak akan menyakitinya, karena El juga hidupku....
__ADS_1
Perjalanan hidup itu memang seperti jalan raya. Ada kalanya lurus, berkelok maupun buntu. Ada banyak simpangan yang mengharuskan kita untuk memilih. Ada kalanya juga harus putar balik saat kita sadar jalan yang kita pilih salah.