
Jonathan pun tak mau memaksakan apa yang tidak ingin Miranda ceritakan padanya. Oleh karena itu Ia lebih memilih untuk masuk saja ke kamar mandi.
"Eh tunggu dulu. Apa kamu sudah mandi?"
Jonathan menghentikan langkahnya saat dia sudah sampai di ambang pintu hingga hanya muncul kepalanya saja yang menoleh sedikit.
"Belum, Om!"
"Mau mandi bareng atau sendiri saja?" Tawar Jonathan kemudian meski senyumnya sulit sekali untuk terbit di sudut bibir tebal pria itu.
Berniat ingin menyenangkan Jonathan, Miranda pun memutuskan untuk menyusul.
"Om, jangan fokus ke Miranda ya?" Sepertinya berpesan lebih baik karena Miranda belum terlalu percaya diri. Sebab kejadian malam itu juga bisa terjadi karena dia yang memaksa. Beruntung kondisinya baik-baik saja sampai sekarang. Mengingat hal itu Miranda sedikit malu.
Ehemz!
Jonathan berdehem untuk menetralisir pemikirannya agar Ia tidak menoleh kearah Miranda yang sudah mulai menanggalkan pakaiannya dan membasuh tubuh mungilnya dengan air.
"Kamu masih malu sama Om?" Jonathan nekat menanyakan hal itu meski matanya fokus ke diri sendiri.
__ADS_1
"Sedikit sih, Miranda masih malu Om. Apa lagi mengingat malam itu. Miranda ingin tertawa terus di buatnya!"
Sekilas Jonathan menyembunyikan rasa ingin menertawakan hal yang sama akan tetapi Jonathan tidak ingin Miranda tahu.
Usai membalut handuk, Miranda hampir saja terjatuh. Untung saja Jonathan sigap menangkapnya.
"Hati-hati, lantainya agak licin!"
"Iya Om, makasih ya?"
Makin hari Jonathan merasa senang saat melihat Miranda tengah mengembangkan senyum kearahnya. Perempuan itu memang masih terlalu kecil untuknya mungkin karena itu yang membuat Miranda terlihat menggoda.
"Om, baju ini bagus gak buat Miranda?" Ia memperlihat sebuah dress tanpa lengan yang pernah di belinya di mall kala itu. Akan tetapi Miranda belum sempat memakainya.
"Bagus, kenapa tidak di pakai?" Jonathan bicara ala kadarnya saja.
"Nantikan ada acara perpisahan di sekolah. Miranda akan memakainya untuk bertemu dengan teman-teman," jawab Miranda. Sangat bersemangat.
"Oh...!"
__ADS_1
Johathan tidak mau ambil pusing lalu keluar kamar mendahului Miranda. Namun baru saja hendak duduk karena ingin makan. Bel rumah terdengar sangat nyaring. Rasa penasaran itubberhasil menarik Johathan untuk mengecek siapa tamunya itu sebenarnya.
"Hai Jo, maaf ya aku baru kembali!" Tanpa malu Bella langsung memeluk Johathan. Hingga tak mereka sadari kalau Miranda melihat kejadian itu.
Dasar ular kadut! Ngapain lagi dia datang kesini?...
Miranda tidak suka melihatnya, "Eh Tante Bella, kemaren aku dengan Tante abis pergi keluar kota ya. Oleh-oleh buat Miranda mana?"
"Ada kok ini?" Bella memberikan sebuah gelang yang sengaja di belinya saat berlibur.
"Gelang, buat apa ini, Tante?"
Sebenarnya Bella malas jika mau menerangkan panjang lebar karena sepertinya Miranda hanya basa-basi saja menanyakan hal itu.
"Di pakai dong, Sayang. Ini gelang khas Sulawesi lo harganya juga lumayan menguras kantong. Soalnya itu bisa di jual lagi.Tapi hal itu baru bisa di lakukan di sulawesi!" Timpal Bella yang terpaksa harus bicara panjang lebar.
"Oh... Oke Tante, Thanks ya sudah repot-repot memberi Miranda hadiah!"
"Sama-sama Sayang!"
__ADS_1
Miranda pun dengan sengaja meninggalkan mereka untuk makan lebih dulu. Pasalnya kedatangan Bella kali ini tidak membawa makanan. Jadi Miranda tidak akan pernah mau untuk berbagi dengan wanita menyebalkan itu.