Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 34 Dukungan Miranda


__ADS_3

"Sil, malam ini, Om ada pertemuan dengan kawan lama. Apa Kamu mau ikut? Soalnya Om udah janji bakal ngajakin istri, Om?"


Silla hanya menatap Rass dengan singkat. Hatinya masih belum bisa menerima pernikahan mereka. Bagaimana mungkin Silla mau diajakin Rass untuk memperlihatkan hubungan mereka di depan orang banyak.


Belum mendapat jawaban, Rass pun bertanya lagi, "Sil, kenapa diam saja?"


Huff!


Hussss!


Terdengar perempuan berambut agak keriting di ujungnya itu menghela nafas panjang. Sepertinya Ia akan menolak ajakan suaminya.


"Nanti deh, Om. Silla pikir-pikir dulu."


Rass pun mengangguk, sebab Ia sangat paham betul tak mudah bagi Silla untuk menerima kenyataan ini.


"Kalau Silla gak mau juga gak papa kok, asalkan Silla tidak tertekan. Om mohon, Silla jangan stress dan marah-marah terus ya. Kasihan dedek bayinya!"


Silla kembali diam saja. Apa pun perkataan Rass menurutnya itu tidak terlalu penting.

__ADS_1


***


Malam harinya sesuai ucapan Rass, Ia sudah berkemas untuk pergi dan melihat Silla masih rebahan saja di ranjang. Sepertinya memang tak ada niat untuk Silla ikut dengannya.


Tak cukup lama waktu yang di perlukan, sebuah telpon gengam milik Silla pun berdering sangat nyaring.


"Miranda?" Desisnya saat membaca nama yang tertera.


" Sil, aku nginep ni di hotel. Kamu gak mau bulan madu apa sama Om Rass?"


"Emang kamu dimana, Mir?"


"Ngomong sih, tapi gak bilang bakal ada kamu disana."


"Oh, mungkin Om Rass gak tahu kita temenin. Kamu ikut ya aku tungguin. Gak usah mikirin yang aneh-aneh deh. Ini hanya acara makan malam kok. Kamu gak perlu gengsi punya suami pria dewasa."


"Oke deh, nanti aku ikut. Tapi kamu temenin aku terus ya. Kita gak boleh jauhan!"


"Oke, sampai ketemu disana."

__ADS_1


Ponsel Silla dan Miranda pun terputus. Lama tercenung dalam kebimbangan, Silla pun beranjak dari ranjang dan bersiap.


Rass sempat terkejut dengan pilihan Silla untuk ikut. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Silla berubah pikiran.


"Om, Silla akan ikut. Tapi Om tunggu di luar ya. Silla mau ganti baju dulu sebentar!" Ucapnya dengan ekspresi datar. Antara ingin menghormati Rass atau membenci sebenarnya, Silla sendiri bingung dengan perasaannya.


Rass pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Iya Sil, Om tunggu di bawah!"


Rass pun berlalu keluar, dan Silla memakai pakaian terbaiknya. Karena bagaimana pun. Silla tidak mau memermalukan Rass karena penampilannya.


Rass agak lega saat melihat Silla mau ikut dengannya. Ia pun mendaratkan bokong di sofa sambil senyum-senyum seorang diri.


Rass sendiri tidak tahu, apa kah itu cintanya pada Silla atau karena Silla adalah gadis yang lugu dan menyenangkan untuknya. Selama ini Rass memang perlakukan Silla dengan sangat istimewa. Bahkan jarang sekali Rass datang berkunjung kerumah Nadya tanpa buah tangan untuk Silla.


"Mikirin apa, Den?" Seloroh Bi Surti yang sedang sibuk mengelap meja mini Vas bunga yang nampak sudah kotor. Padahal Ia selalu membersihkannya setiap hari.


"Gak ada Bi, cuma mikirin Silla aja. Apa pernikahan beda usia diantara kami itu sesuatu yang memalukan Bi?"


"Mengapa, Aden bicara begitu? Bukankah Allah sudah menentukan jodoh Aden sebelum lahir. Jadi kita tidak akan bisa memilih pada siapa kita harus menentukan pasangan."

__ADS_1


Jawaban Bi Surti membuat pandangan Rass semakin terbuka. Ia yakin bisa membimbing dan mengayomi Silla meski istrinya itu masih sangat ke kanak-kanakan.


__ADS_2