Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Nan 53 Cuek


__ADS_3

"Maafkan kami Pak, Mbak, Nyonya Mutia sudah tidak ada lagi. Ihklaskan kepergiannya karena Allah lebih menyayanginya!" Ujar Dokter itu sembari menepuk-nepuk pundak Jonathan.


"Mama...!"


Untuk pertama kalinya Jonathan berderai air mata. Sungguh tak terbersit sedikit pun di benaknya kalau Mama Mutia akan pergi secepat itu. Hanya saja Miranda jadi teringat dengan mimpinya dimana Mama Mutia ngomel-ngomel karena dirinya menggoreng tempe hingga gosong.


"Miranda akan berusaha untuk belajar memasak, Ma. Miranda pasti bisa menjadi istri idaman Om Jonathan. Jadi Mama tidak perlu khawatirkan Om Jo ya, Ma," lirih Miranda tepat di telinga perempuan yang kini terbujur kaku itu.


Meski sakit, pedih dan serasa hati di sayat karena harus kehilangan orang-orang yang di cintainya. Jonathan tetap berusaha untuk terlihat tegar. Ia terpaksa menyewa ambulans untuk membawa jenazah Mamanya itu ke Jakarta. Dimana Ia harus mengabulkan wasiat dari wanita yang telah melahirkannya itu.


Sesampainya disana, Rass dan Silla yang niat awalnya ingin ke rumah Nadya pun akhirnya memutuskan untuk ikut menyekar. Pasalnya Nadya juga sedang bekerja. Jadi tidak ada siapa pun di rumah.


Selain keduanya, Bella yang mendengar berita itu dari Rass pun segera menelpon Nadya agar segera pulang dan ikut menghadiri rasa sungkawa tersebut.


"Yang sabar, Jo. Sekarang kita sama-sama sudah tak memiliki orang tua. Tapi bukan berarti kita harus berhenti meneruskan hidup, bukan?" Ujar Rass sembari menepuk-nepuk pundak Jonathan ketika tanah liat itu mulai di timbunkan oleh para pekerja maupun para tetangga yang turut membantu.

__ADS_1


Jonathan menitikan air mata, Ia juga bukanlah anak yang patuh. Selama ini Jonathan sering kali membantah ucapan Mama Mutia karena menurutnya Ia benar. Tapi perlawanannya itu menyisakan perasaan bersalah pada Mama Mutia.


"I love you, Mama. Maafkan semua kesalahan Jo."


Usai di kuburkan, seorang Kiyai pun membacakan Doa, setelah itu semuanya berpamitan untuk pulang.


Bella yang ikut sedih segera menghampiri Jo, bermaksud ingin menghibur.


"Yang kuat ya, Jo. Tante Mutia orang yang baik. Pasti dia akan bahagia berada di surganya Allah."


"Makasih Bell," jawab Jonathan singkat saja. Pria itu duduk berjongkok sebentar sambil mengecup nisan Mama Mutia. Setelah itu Ia memutuskan mengajak semuanya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Mama sibuk, Sil. Jadi gak sempat angkat," jawab Nadya sangat dingin.


"Tapi Ma_!" Silla terpatri dengan noda merah di leher Nadya yang terbuka karena selendang hitam yang menutupi kepalanya beterbangan oleh tiupan angin.

__ADS_1


"Ma, abis kerokan ya?"


Nadya sedikit panik, sambil berusaha menutupi noda tersebut.


"Iya, tadi Mama masuk angin, jadi minta kerokan sama tetangga."


"O... Silla mau nginep di rumah Mama ya, Silla kangen?"


"Oh gak usah Sil, Mama menginap di hotel nanti malam karena ada acara kantor!" Timpal Nadya lagi seolah ada yang di sembunyikan olehnya.


"Tapi Ma_."


"Maaf ya Sil, Mama buru-buru soalnya."


Silla ingin memanggil lagi tapi sepertinya Nadya masih sangat marah hingga Ia mengabaikan sikap Silla padanya.

__ADS_1


"Biarkan saja dulu, Sil. Mungkin Mamamu masih ada masakah di kantor. Atau malah kecapean jadi kayak gitu ngomongnya," tilas Rass pada Silla.


"Iya Om, Silla yakin Mama masih marah aja kok sama Silla."


__ADS_2