Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 15 Kemarahan Silla


__ADS_3

"Lalu Silla harus bagaimana, Om. Kalau sampai Mama tahu Silla sedang hamil sekarang?" Ungkap Silla kemudian.


Rass tercekap mendengar kenyataan itu, jadi benar apa yang menjadi dugaan mereka sekarang. Kalau Silla benar-benar tengah hamil.


"Kasih tahu Silla, Om. Bagaimana Silla harus menghadapi kemarahan Mama Silla nanti. Aku yakin Mama marah besar dengan Silla lalu akan membenci dan membuang Silla sebagai putrinya!"


Rass tak bisa berkata-kata. Ia masih mencerna apa yang baru saja di dengarnya. Kalau setetes benih yang baru saja di tumpahkannya tanpa sengaja itu telah menumbuhkan darah sagingnya di perut seorang gadis lugu seperti Silla. Sungguh itu sesuatu yang sulit di percaya. Akan tetapi Rass tidak mungkin mangkir dari fakta yang terjadi.


"Kalau begitu, Om akan bicara dengan Mamamu. Supaya kita semua mendapatkan solusinya!" Jawab Rass kemudian.


"Apa?" Silla menodong tatapan dengan bola mata memerah ke arah Rass, "Om mau menikahi Silla begitu?" Tebak Silla asal-asalan.


Rass menganggukkan kepala, hanya itu jalan satu-satunya untuk menutupi aibnya.


"Itu tidak mungkin Om, bagaimana bisa Silla menikah dengan lelaki seusia Papa Yudha. Silla masih kecil saat ini?" Kesal Silla lagi.

__ADS_1


"Tapi mau bagaimana Sil, apa kamu mau anak itu lahir tanpa Ayah?" Tanya Rass seolah butuh alasan atas penolakan Silla.


"Gak tahu lah, Om Silla pusing. Seharusnya Om itu memang lebih cocok sama Mama ketimbang Silla. Apa kata orang-orang nanti kalau Silla nikah sama Om-om yang usianya separuh diatas Silla?"


Rass bisa apa untuk mengelak kenyataan pahit yang mendera mereka. Hanya itu jalan satu-satunya untuk mempertanggung jawankan kesalahan yang sudah di lakukannya pada bocah itu.


"Om mohom Sil, pikirkan bayi itu. Dia butuh figur seorang Ayah. Jadi Om mau bertanggung jawab atas hidupmu dan bayi itu!" Ujar Rass bersungguh-sungguh.


"Gak, Silla gak Mau Om. Silla mau gugurin aja bayi ini sebelum Mama tahu!" Bantah Silla lagi. Tak terlintas sedikit pun dibenak Silla untuk menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua usinya di banding dia.


"Terserah, Om. Pokoknya Silla gak mau nikah sama Om. Silla takut sama Mama dan Papa!" Tolak Silla lagi.


"Percaya sama Om Sil, mereka tidak akan mempersalahkan hal itu. Mengertilah, Om akan melakukan apa pun untukmu!" Rass meyakinkan lagi dengan cara ingin memyentuh perut Silla tapi perempuan itu menepisnya.


"Jangan sentuh Silla, Om. Silla jijik dengan tangan Om!" Marah Silla lagi sangat ketus.

__ADS_1


Tak ingin terjadi kecelakaan, Rass pun fokus mengemudi. Ia harus membiarkan amarah Silla mereda dulu. Baru Ia pikirkan lagi cara jitu agar Silla tidak keras kepala dengan perkataannya. Karena bagaimana pun juga anak itu berhak untuk hidup dan lahir ke dunia.


Sesampainya di rumah Silla, gadis itu nekat mengusir Rass.


"Kenapa Om ngikutin Silla? Apa Om mau jahat lagi sama Silla?"


"Enggak Sil, Om mau nemenin Silla aja. Om gak mau terjadi apa-apa sama Silla saat gak ada Mama di rumah!"


Silla tak perduli dan nekat mau menutup pintu tapi Rass menahannya. Karena kalah tenaga Silla pun melepaskan pintu itu dan membiarkan Rass masuk.


Hoek!


Hoek!


Diantara derai air mata dan tekanan batin. Silla merasakan perutnya mual lagi. Gadis itu gegas lari ketoilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2