Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 38 Salah Paham


__ADS_3

Malam itu makan malam mereka telah berakhir. Jonathan dan Miranda nekat memaksa Rass dan Silla agar ikut menginap di hotel.


"Ayolah Sil, kamu mau ya. Malam ini saja. Biar kita ngerasain gimana sih enaknya tidur di hotel mewah!"


"Iya Sil, anggap ini malam indah kalian," imbuh Jonathan pula.


Silla menatap kearah Rass yang tengah menunggu persetujuan darinya. Sebab Rass tahu betul kalau Silla masih kecewa dan trauma dengannya.


"Oke deh, Mir. Tapi malam ini aja ya!" Pasalnya Miranda dan Jonathan akan menginap selama dua hari lamanya.


"Iya, iya, yang penting kalian berdua mau!"


Mereka pun segera menuju ke hotel dan kembali memesan satu buah kamar VVIP.


Resepsionis itu makin curiga. Dia bingung kenapa bisa ada lagi pasangan beda usia yang membooking kamar spesial.

__ADS_1


"Mau berapa kamar, Pak?" Tanya resepsionis itu lirih.


"Satu aja cukup, Mbak!" Rass memberikan kartu identitasnya untuk di catat.


"Oh Oke, ini adiknya ya Pak?" Tanya resepsionis itu. Lebih baik bertanya saja pikirnya dari pada penasaran.


"Emangnya kenapa?" Tanya Rass pada resepsionis itu.


"Gak papa Pak, kok kalau pacar ceweknya muda banget ya. Masih remaja kayaknya. Booking di Club mana?" Tanya resepsionis itu lagi. Sebenarnya agak takut, tapi dia geli melihatnya.


Jonathan dan yang lainnya terkejut mendengar kemarahan Rass, "Ada apa kawan?"


"Aku tidak tahu mengapa resepsionis kepo sepertinya bisa bekerja di hotel sebesar ini," timpal Rass masih dengan amarahnya.


Resepsionis itu sampai ketakutan, Ia tertunduk dengan wajah pucat. Tidak disangkanya jika Rass adalah lelaki yang paling tidak suka jika orang lain menanyakan hal yang tidak pantas di depannya.

__ADS_1


Kebetulan pemilik hotel pun keluar. Dalam sekejap mata semua orang pun menjadi sangat ramai di tempat itu.


"Ada apa Din?" Tanya pemilik hotel itu pada resepsionisnya.


"Untuk apa anda mempekerjakan resepsionis seperti dia, Pak Nicho?" Amuk Rass lagi dengan raut wajah kesal. Resepsionis itu tersentak saat Rass menyebut dengan benar nama pemilik hotel.


"Memangnya resepsionis saya melakukan kesalahan apa Pak Rass, biar kami tahu harus melakukan kebijakan apa padanya?" Tanya Pak Nicko lagi dengan sabar. Karena tak mudah baginya untuk memecat asal pegawai tanpa alasan yang jelas.


"Dia menghinaku dengan bilang aku membooking anak remaja dari sebuah Club. Sekarang aku tanya sama kalian. Apa perlu aku membooking istriku sendiri?" timpal Rass lagi dengan menambah volume suaranya.


"Apa?" Johathan ikut kaget juga mendengarnya, "Pantesan aja, tadi dia menatap aneh padaku dan Miranda. Pasti dia beranggapan hal yang sama dengan kami tadi," imbuh Rass lagi.


Miranda yang mendengarnya pun jadi ikut-ikutan kesal juga jika dirinya di tuduh sebagai wanita pemuas diri.


"Eh Mbak, Kalau tidak tahu mending diem aja deh, Mbak. Kami ini tidak di booking. Kami istrinya. Emang kenapa kalau suami kami pria dewasa? Apa anda merasa di rugikan? Enggak kan?"

__ADS_1


"Maaf Pak, Mbak, saya tidak tahu. Jadi saya berpikir demikian tadi. Maklum, saya pernah mengalaminya sendiri. Kalau keponakan saya yang baru umur 16 tahun bekerja sebagai wanita penghibur tanpa di ketahui oleh keluarga sampai-sampai dia hamil sekarang dan anaknya di aborsi," jawab resepsionis itu, tanpa berani mengangkat kepalanya.


__ADS_2