
Di tempat yang berbeda, Miranda juga turut terbangun saat menyadari Jonathan tidak ada di sebelahnya. Bahkan Miranda tidak sadar sejak jam berapa dia terlelap.
Penasaran dengan suaminya itu, Miranda pun mencarinya ketempat dimana Jonathan sering di sibukkan dengan laptopnya. Namun baru saja turun dari tangga, Miranda melihat Jonathan duduk termenung sambil meneguk tiga cangkir kopi kemasan yang sudah tandas di depannya.
Miranda yang tahu kalau Jonathan masih berduka pun menghampiri, "Gak bisa tidur, Om?"
"Kenapa malah bangun?" Tanya Jonathan balik. Sambil mengulurkan tangannya menarik pinggang Miranda agar duduk di pangkuannya.
"Aku terbangun dan gak lihat Om di sampingku tadi. Seharusnya Om membangunkan aku biar kita ngopi sama-sama," hibur Miranda sedikit sembari nyengir kearah Jonathan.
"Bagaimana mau tidur, Mir. Om terus keinget sama Mama. Meski bawel, Beliau sangat perhatian sama Om?"
"Iya Om, Miranda tahu. Maaf ya Om Miranda jadi kangen sama Bapak dan Ibu."
"Besok kita kesana."
"Beneran, Om. Emang Om yakin?"
Jonathan mengembangkan senyumnya sambil menaruh dagu di atas pundak Miranda.
"Sekarang, aku cuma punya kamu, Mir. Jadi berjanjilah kamu akan selalu ada di sampingku dalam keadaan apa pun ya?" Ujar Jonathan dengan penuh kehangatan.
"InsyaAllah, Om. Miranda juga gak mau pisah sama Om. Karena Miranda udah terlanjur nyaman ada di dekat Om."
__ADS_1
Keduanya pun tak ada yang bisa tidur sampai akhirnya Fajar menyapa barulah mereka mengakhiri obrolan panjang mereka.
Hoaaam!
Miranda terus menguap tanpa henti, "Aku jadi ngantuk, Om."
Jonathan lagi-lagi hanya menyunggingkan senyum melihat Miranda menguap berulang kali, "Ya udah tidur aja dulu. Kita kerumah Bapak sama Ibu siangan aja!"
"Iya Om, Miranda gak tahan kalau ngantuk kayak gini."
Perempuan itu pun berlalu ke kamar untuk memejamkan bola matanya sejenak. Sedangkan Jonathan memilih untuk membuat sarapan sebentar.
Waktu bergulir begitu cepat, kala itu Rass dan Silla yang sudah tahu alamat kantor milik Nadya segera datang kesana. Tapi mereka tidak mendapatkan informasi apa pun selain bilang kalau Bos mereka dan Nadya sedang cuti kerja beberapa hari.
"Mungkin saja, coba tanyakan dulu sama Papa Yudha."
Silla pun segera menelpon Papanya itu dimana Ia dan istrinya sedang kontrol ke rumah sakit karena ternyata istri barunya itu sedang hamil.
Kenapa, Sil?
"Dimana rumah Bos Mama, Pa? Soalnya Mama gak ada di rumah?"
Belum selesai menjawab, sebuah suara mengagetkan Silla dan Rass.
__ADS_1
"Nak...!"
"Mama...!"
Silla mematikan ponselnya dan langsung berhamburan memeluk Nadya.
"Mama baik-baik saja kan? Bener Mama selingkuh dan jadi pelakor? Terus apa bener juga kalau semalam Mama menikah dengan Bos Mama itu?"
"Benar Sil, Mamamu sudah menikah denganku," timpal seorang lelaki yang baru saja muncul dari mobil mewahnya.
"A- apa? Jadi Mama sudah menjadi perusak rumah tangga orang lain?" Tanya Silla setengah tak mempercayai pengakuan keduanya.
"Maksud kamu apa, Sil? Siapa yang bilang begitu?"
"Papa, Ma."
"Om ini duda, Sill. Kami sudah nikah sirih seminggu yang lalu. Tapi karena kami merahasiakan pernikahan kami. Keluarga Om yang memergoki kami di kamar hotel menganggap kami bermain gila. Makannya kami menikah ulang semalam," jelas Bos Nadya itu.
"Iya bener Sil, jangan dengarkan Papamu itu. Dia hanya ingin melihat Mama hancur," imbuh Nadya lagi.
"Oh begitu, tapi kenapa Mama tidak memberi tahu Silla?"
"Mama sengaja melakukan itu karena Silla dan Rass kan masih bersi tegang," ucap Nadya yang beralih menatap Rass.
__ADS_1