
Setibanya di tempat yang di maksud, Jonathan mengarahkah Rass dan Silla ke tempat yang sudah mereka pesan sebelum datang kesana. Hal itu Jonathan lakukan atas keinginan Miranda yang meminta Jonathan mengajak pengantin baru itu untuk ngobrol bersama.
"Loh, Jo. Katanya ada teman yang lain?" Seloroh Rass penasaran.
"Oh... Itu. Aku hanya berbohong saja Rass. Agar kamu dan Silla mau join sama kita. Ayo duduk, aku sudah memesan banyak makanan untuk kita semua!" Hatur Jonathan kemudian.
Rass dan Silla mengangguk, lalu duduk berseberangan dengan Jonathan dan Miranda. Sampai pesanan Jonathan sebelumnya pun telah datang hingga memenuhi meja di hadapan mereka.
"Ayo nikmati Rass, Sil, ini adalah hadiahku untuk pernikahan kalian!" Tukas Jonathan lagi pada keduanya agar mereka tidak sungkan untuk makan dan minum.
"Terima kasih Jo, Mir, kami beruntung menjadi sahabat kalian."
Silla masih belum melakukan apa-apa dan Miranda jadi jengah melihatnya.
"Ayo Sil, makan yang banyak biar dedeknya sehat. Kasihan kalau kekurangan asupan. Belum lagi kamu lemes nanti!"
__ADS_1
"Mir, bayimu?" Tanya Silla tiba-tiba.
Wajah yang semula ceria itu berubah menjadi mendung, sebenarnya Miranda juga tak setegar kelihatannya. Akan tetapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.
"Beberapa bulan yang lalu aku keguguran Sil, dari mana kamu tahu aku hamil?" Tanya Miranda, penasaran.
"Dari Pacar Bima sahabat Bara," Jawab Silla,apa adanya.
Miranda pun mengangguk paham, "Iya, memang tidak banyak yang tahu soal kehamilanku Sil, jadi mereka tidak tahu juga kalau aku sudah keguguran!" Jelas Miranda lagi.
"Apa kamu juga sempat merasa malu atas pernikahan kalian waktu itu, Mir?" Silla menatap dengan sorot mata serius.
"Iya, itu semua demi sekolahku Sil. Aku tidak ingin teman-teman kita mengetahui kondisiku lalu membuly. Karena aku sangat ingin mendapatkan ijazahku keluar."
Silla tersenyum kelu, Miranda cukup tegar untuk itu. Sekarang saja Silla merasa terbodohi apa lagi kalau saat itu posisi Miranda ada padanya. Silla yakin Ia tak kan sanggup menutupi aib itu.
__ADS_1
Dihadapkan dengan dua istri yang masih remaja, Jonathan dan Rass hanya tercenung. Bahkan mengunyah nasi saja rasanya tidak karuan.
Tak ingin terus membahas hal yang menyakitkan, Miranda mendesak Silla agar makan saja.
"Ayo Sil, makan yang banyak atau aku akan marah padamu!"
Sengaja Miranda membubuhkan nasi yang cukup banyak ke piring Silla agar sahabatnya itu tak bisa berkelit lagi.
Silla pun tak ingin membuat Miranda tersinggung, hingga Ia pun menikmati makan malam mereka.
Obrolan mereka mulai berkesan saat keduanya beralih menceritakan apa saja kesukaan mereka. Miranda yang suka makanan pedas dan Silla yang suka cokelat berukuran jumbo.
"Nanti kalau anak kita lahir dan beda jenis kelamin. Aku mau mereka berteman Sil. Menurutmu bagaimana?"
Silla mengangguk saja, karena hal itu tidak buruk baginya, "Tentu saja Mir, apa lagi kalau mereka saling melindungi satu sama lain. Pasti akan sangat menyenangkan, bukan?"
__ADS_1
"Iya, kamu benar Sil. Jadi gak sabar hamil lagi," celoteh Miranda. entar sadar atau tidak. Tapi Jonathan merasa senang mendengarnya. Itu berarti Miranda pasti mau mengandung anak darinya jika nanti Tuhan berkendak.
Toh, masa sembuh Miranda paska keguguran juga sudah berakhir. Jadi tak akan ada lagi alasan Jonathan untuk menunda menguasai istri kecilnya itu.