
"Kok dimatiin, Om?" Miranda menatap dengan dahi mengkerut.
"Bukankah menjaga perasaan istri lebih baik dari segalanya?" Timpal Jonathan balik.
Kata-kata yang indah di telinga Miranda, hingga perempuan itu tak sadar melabuhkan ciumannya di kening Jonathan.
Silla dan Rass yang kebetulan sudah keluar dari hotel sempat terpelongo sejenak. Lalu kemudian menggoda keduanya dengan cuitan manis, "Ciye dapat hadiah ni, aku kapan ya?" Rass menyindir Silla yang masih belum berkedip di sebelahnya.
"Is, Om Rass. Jangan bikin malu Silla deh. Masak iya nyiumnya di depan mereka sih?"
"Ya gak papa, kan biar kelihatan romantis."
"Iya sih, tapi sayangnya Silla pemalu!"
Jonathan dan Miranda pun jadi turut tersipu, jujur Saja Jonathan sama tak percaya kala hal itu di lakukan oleh seorang Miranda.
__ADS_1
"Hehehe... Replek Sil, soalnya kata-kata Om Jo bikin meleleh tadi," ucap Miranda, setengah berkelit.
"Iya, iya, di ulangi lagi gak papa kok. Aku gak bakal iri sama kamu!" Timpal Silla, sesukanya.
"Ya udah deh, nanti kita lanjutin aja lagi di rumah ya, Mir," Tambah Jonathan pula sembari terkekeh kecil. Toh bukan hal tabu pula untuk di sembunyikan. Karena sejatinya, suami istri sudah biasa melakukan adegan ciuman.
Tak lagi ada obrolan berarti, mereka pun memutuskan segera pulang. Rass dan Silla kerumah kediaman mereka, sedang Jonathan dan Miranda pulang kerumah sendiri.
Hal yang paling mengejutkan dari mereka saat tiba di rumah adalah melihat Bella sedang duduk di teras untuk menunggu kedatangan mereka.
"Eh, Bella. Ada perlu apa?" Tanya Jonathan setelah turun dari mobil di ikuti oleh Miranda.
"Aku udah gak bisa nyembunyiin perasaanku, Jo. Ini sangat sakit bagiku jika terlalu lama tidak aku sampaikan padaku!"
"Maksudmu?" Jonathan bertanya sambil melerai tangan Bella yang masih melingkar manja di pinggangnya.
__ADS_1
Bella menatap lekat wajah sahabatnya itu, cukup lama, "Jo, aku memang punya alasan untuk semua perhatian yang sudah aku lakukan selama ini. Tidak perduli kau peka atau tidak, sunggu hatiku sangat tulus padamu?"
"Katakan saja Bella, aku tak mengerti," bohong Jonathan, sangat lirih. Meski sebenarnya dia sudah tahu perasaan Bella sebenarnya.
"A- aku mencintaimu, Jo. Nikahi aku usai sidang keputusan selesai."
Bella berbicara lantang di hadapan Miranda tanpa perdulikan bagaimana perasaan wanita yang kini telah berstatuskan istri sang lelaki yang diajaknya menikah itu.
Jonathan tidak tega sebenarnya, tapi apa boleh buat. Toh dengan mengaku juga, itu artinya Bella akan mengerti posisinya sekarang.
"Maaf Bel, bukan aku menolak atau mau menyakiti perasaanmu. Tapi alangkah baiknya kau simpan saja perasaanmu itu dengan baik!"
"Apa Jo?" Bella merasa jawaban Jonathan membuat hatinya akan sangat terluka. Tapi Bella butuh penjelasan Jonathan dengan jawaban yang tepat.
"Cepat katakan Jo, kenapa kamu bicara seperti itu? Apa sahabat tidak bisa berubah menjadi cinta? Toh kamu sudah mengenal aku dengan baik? Apa seburuk itu aku di matamu? Hingga aku tak pantas mendampingimu?"
__ADS_1
Pertanyaan beruntun dari Bella membuat Jonathan menjadi semakin bingung. Entah dari mana Ia harus memulai memberikan jawabannya karena Jonathan tidak ingin Bella tersinggung.
Selain mengingat pengorbanan Bella yang selalu datang mengantar makanan dan juga perhatian, Jonathan tak ingin kehilangan sahabat seperti Bella hanya karena seutas jawabannya tidak sesuai harapan Bella.