
Hahaha...
Suara Miranda meledak saat Jonathan melakukan eksperimen di sekitaran lehernya.
"Ih Om, Kayak Joni aja pas jilat-jilat di telapak kakiku saat tidur. Geli banget Om!"
"Joni? Siapa tu?" Jonathan sampai menghentikan kegiatannya mendengar nama seorang pria di sebut oleh Miranda. Ia jadi berpikir kalau ada lelaki lain yang pernah melakukan itu sebelum dia.
Miranda yang nyengir kembali terpingkal-pingkal, "Itu Om, joni aku di rumah," jawab Miranda lagi tidak jelas.
Jonathan merengut dan menarik dirinya menjauh. Sungguh kesal rasanya ada si Joni itu pernah main sama Miranda di rumahnya.
"Jadi kamu juga selingkuh saat pacaran sama Bara?" Tuduh jonathan kemudian.
"Lah kok? Selingkuh gimana Om?" Miranda ikut mendudukkan diri dan menatap Jonathan dengan lekat.
"Itu si Joni, ngapain dia di rumahmu sampai jilat-jilat begitu? Jangan bilang ya orang tuamu tidak perduli saat kamu ketika berbuat tidak senono di rumahnya?"
__ADS_1
Miranda sempat terdiam sejenak. Menyimak ucapan Jonathan secara mendetail itu sangat penting menurutnya sampai akhirnya Miranda jadi sadar akan prasangka Jonathan.
"Oh ya ampun, jadi Om cemburu sama si Joni? Dia itu hanya seekor kucing Om. Tiap hari tidurnya kalau gak di kepala pasti di kaki."
"Apa? Ku- kucing?" Jonathan gagap mendengar hal itu. Tak etis saja rasanya kalau sampai dia cemburu sama hewan.
"Iya lah, Om kira dia siapa? Cowok? Aneh-aneh aja ni si Om? Sama Bara aja aku di amuk habis-habisan apa lagi sama cowok lain di dalam rumah," celetuk Miranda lagi. Sambil masih tersenyum meledek kearah Jonathan.
"Kan kamu gak bilang sama Om, kalau itu nama kucing kamu."
Hal itu seperti malam yang indah untuk
Jonathan. Layaknya sepasang suami istri. Ia melakukan penyatuan sakral itu dengan jiwa raganya.
"Om, pelan-pelan!" Miranda sampai meneteskan air matanya merasakan itu. Tapi dengan kepeduliannya Jonathan menyeka cairan bening tersebut.
"Iya maaf, Ini terasa sangat sesak Mir!"
__ADS_1
Hanya ada kalimat itu yang terdengar dari keduanya sampai pada penghujung dimana penyatuan itu telah selesai.
Jonathan tak lagi merasakan kesepian saat dia menduda. Rupanya berteman dalam satu rumah dengan Miranda membawanya masuk ke dalam sesuatu yang membahagiakan, Menghibur dan juga ada tempat saling berkeluh kesah.
"Om, pernah gak ada rasa menyesal menikahi Miranda?" Tanya perempuan yang kini ada di dalam dekapan Jonathan itu.
"Pernah, saat aku tahu Bara menyembunyikan sakitnya dan meninggalkan kita. Seandainya Om tahu lebih awal sudah di pastikan Om akan memperjuangkan kesembuhannya Bara agar kalian bisa hidup bersama," jawab Jonathan. Sangat jujur.
"Mungkin ini jalan Tuhan, Om. Aku tidak berjodoh dengan Bara. Makannya Kita di persatukan meski harus rela kehilangan Bara selamanya!"
Jonathan mengangguk, "Lantas mau sampai kapan kamu memanggil Om dengan sebutan yang lain. Agar orang tidak selalu salah paham saat mendengarnya?"
Jonathan bermaksud mengalihkan topik supaya tidak perlu lagi mengungkit kembali luka lama saat di tinggal Meilinda dan Bara.
Sudah saatnya mereka menata hidup agar lebih baik. Memperbaiki hubungan dengan pasangan adalah yang utama saat ini.
"Aduh, kapan ya Om? Miranda masih canggung kalau panggil Mas atau Sayang pada Om? Gak tahu kenapa terdengar aneh saja di telinga Miranda."
__ADS_1