
Obrolan panjang itu telah berakhir, Rass dan Silla harus melanjutkan tidur mereka karena besok akan kembali dengan rutinitas baru.
Bahkan waktu bergulir begitu cepat, hingga serasa baru terlelap saja Matahari sudah kembali menapaki bumi.
"Silla...!"
Dor... Dor... Dor...
"Silla...!"
Miranda berteriak-teriak sambil menggedor pintu kamar milik Sahabatnya itu dengan sangat keras.
"Silla, ayo bangun Silla. Kitakan mau pulang bareng!"
Rass yang baru saja selesai berpakaian rapi segera membukakan pintu sedangkan Silla baru saja terbangun akibat ketukan pinta Miranda tadi.
"Wah, kalian berdua sudah siap?" Tanya Rass sangat ramah.
"Iya Om, Silla mana? Apa dia sudah bangun?"
"Baru aja, Mir. Semalam kami begadang hingga kami melupakan waktu."
__ADS_1
"Hmm, begadang kenapa tu? Kayaknya ada aroma-aroma wangi ya, Mir??" goda Jonathan pada Rass.
"Iya, Om. Bukankah itu kabar yang sangat bagus. Pasti Silla menyadari kesalahannya lalu memberikan hadiah pada Om Rass!"
Suami Silla itu pun tersenyum, Ia tak menampik tebakan keduanya karena memang itulah yang terjadi.
Rass pun mempersilakan keduanya untuk ikut ke dalam, akan tetapi Jonathan menolak, "Ayo masuklah, tapi Silla masih mandi!"
Karena Miranda ingin masuk, Jonathan langsung merangkul pundak Miranda, "Kurasa kami hanya akan mengganggu, Rass. Biar aku dan Miranda menunggu saja di lobby!"
Miranda yang paham maksud Jonathan pun turut mengiyakan, "Oh, iya Om. Bilang saja begitu sama Silla ya."
Tak ingin keduanya menunggu lama, Rass segera menyusul Silla agar istrinya itu segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Silla, apa kamu hampir selesai?" Tanya Rass dari balik pintu kamar mandi.
"Iya Om, tunggu sebentar!"
Singkatnya, Silla sudah keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Ia mempercepat berganti pakaian, sedang Rass sibuk mengutak-atik ponsel di dalam gengamannya.
"Om, Miranda sama Om Jo, mana? Apa mereka sudah pulang lebih dulu?"
__ADS_1
Meski fokus di depan layar ponsel, Rass tetap menyempatkan diri untuk menimpali Silla, "Belum, katanya mereka akan menunggu kita di lobby."
"Kalau begitu kita jangan lama-lama ya, Om!"
Silla mempercepat kesibukkannya, agar sahabat mereka itu tidak terlalu lama menunggu mereka.
Benar saja, Jonathan dan Miranda bolak balik melihat ke arah pintu keluar dari hotel. Tapi tidak ada tanda-tanda keduanya akan keluar.
Belum juga rampung dengan pemikiran mereka sebuah panggilan telpon malah datang mengejutkan.
Jonathan terkesima saat yang menelpon adalah Bella. Dimana hal itu paling mengesalkan bagi Miranda.
"Angkat aja, Om. Siapa taukan penting?" Miranda mempersilakan saja akan tetapi Jonathan sangat tahu kalau sebenarnya Miranda tengah berargumen.
Beberapa saat dalam keraguan, Jonathan memilih mengakhiri sambungan mereka dan untuk pertama kalinya keputusan Jonathan membuat Bella uring-uringan.
"Ya ampun, Jo. Kamu kenapa sih? Kok susah banget di hubungi? Hari ini aku harus mengungkapkan isi hatiku Jo. Kamu perlu tahu hal itu agar aku merasa tenang!"
Bella terus menggerutu tanpa henti sambil berpikir keras. Apakah dia nekat saja datang kerumah ataupun ke kantor Jonathan demi menyampaikan perasaan terpendam yang selama ini Ia sembunyikan.
"Ah... Kurasa ini sudah keputusan yang paling tepat. Toh, sidang sekali lagi aku dan Mas Agung juga kan resmi bercerai. Jadi tidak ada alasan apa pun untuk Jonathan menolak cintaku. Karena kami sudah saling mengenal satu sama lain sangat lama."
__ADS_1