
"Tak semudah itu Jo, Nadya saja sedang dingin sama aku sekarang. Bahkan aku bingung mau memanggilnya apa. Seperti biasakah atau Mama Mertua?"
Jonathan menghela nafasnya dalam-dalam. Hal itu pernah Ia alami saat Bara masih hidup. Dimana kehamilan Miranda membuatnya bingung mau memanggil anak atau cucu pada bayi Miranda.
"Aku yakin kamu tahu apa yang terbaik Rass, semua yang terjadi sudah di atur sama yang kuasa. Jadi yakinlah kalau ini adalah bagianmu."
"Iya Jo, semoga saja baik Silla mau pun Nadya sudi memaafkan kesalahan yang sudah ku lakukan."
Obrolan mereka berbuntut panjang. Sedang Silla dan Miranda masih sibuk mencari baju ganti.
Sesaat keisengan Miranda muncul saat Ia melihat ada baju dinas malam yang sangat bagus tergantung diantara banyaknya baju yang berjejer rapi.
"Sil, kamu punya lingerie gak?"
"Buat apa, Mir? Ada juga baju tidur biasa sih."
"Nah, itu kesalahanmu. Seharusnya kau memanjakan suamimu untuk itu. Ayo ikut aku!"
__ADS_1
Miranda pun meraih dua buah lingerie dengan warna berbeda, "Kamu suka yang mana? Biar aku ambil yang satunya?" Tawar Miranda lagi.
"Is, Miranda. Kamu yakin mau beli itu?" Bisik Silla saat beberapa pembeli menodong tatapan kearah mereka.
"Emang kenapa? Kita kan sudah menikah," jawab Miranda dengan suara keras. Biar semua orang tahu kalau mereka tidak sedang berbuat suatu kesalahan.
"Wah, pasti pengantin baru ya Mbak? Kalian ini cantik sekali kaya saudara kembar? Pasti para lelaki itu beruntung sekali mendapatkan istri yang imut-imut seperti ini?" Tukas salah seorang ibu-ibu yang menyahuti pengakuan Miranda tadi.
"Iya Bu, alhamdulilah. Mereka memang pria hebat dan sangat sayang sama kami," jawab Miranda dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
"Iya, iya, yang penting. Pandai menyenangkan hati suami Mbak. Tau sendirikan jaman sekarang para pelakor pandai mencuri suami orang!" Tukas Ibu-ibu itu lagi.
Miranda menoleh kearah Silla yang hanya tercenung menyimak obrolan mereka. Miranda sebenarnya bermaksud ingin menyadarkan Silla agar Ia tidak terlarut dalam kesalahan Rass. Yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk memperbaiki kesalahan itu.
"Ayo Sil, mau merah apa pink?" Bisik Miranda lagi. Pasalnya semuanya sangat bagus. Bahkan Miranda tidak tahu mau milih yang mana.
Silla pun mengalah dengan menerima penawaran Miranda, "Aku yang merah aja, Mir."
__ADS_1
"Oke, ya udah mau yang mana lagi!"
Silla pun mengambil dua setel untuknya dan dua setel pakaian pria untuk Jonathan. Tentunya yang satu untuk siang dan satunya lagi untuk malam.
"Berapa Mbak?" Tanya Silla pada pemilik toko.
"Satu setengah juta aja, Mbak?"
Silla pun menyerahkan kartu pemberian Rass tadi sampai pembayaran selesai. Begitu juga Miranda yang membayar baju lingerie tadi dengan uang kes yang pernah Jonathan kasih untuknya.
Selesai membayar, keduanya kembali menemui Jonathan dan Rass yang masih setia menunggu mereka di depan butik. Dimana di tempat itu di sediakan kursi panjang yang di peruntukkan untuk santai sejenak.
"Kamu beli apa Mir?" Jonathan menelisik sebuah paperbag di tangan Istrinya itu.
"Baju Om."
"Kok cuma satu? Coba ku lihat!"
__ADS_1
Jonathan mengambil alih paperbag dari tangan Miranda dan hanya mengintip sedikit tapi sangat tahu kegunaan dari isi di dalamnya itu. Sedangkan Miranda hanya cengar-cengir ke arah Jonathan. Malu juga karena ketahuan beli baju spesial untuk suaminya itu.