
Rass dan Silla saling berpandangan. Mereka benar-benar bingung dari mana harus memulai untuk menjawab pertanyaan Nadya. Sedang Rass belum mendapat kepastian dari Silla mau tidaknya di nikahi oleh Rass.
Silla sendiri sangat yakin kalau Rass tidak akan punya keberanian untuk mengakui kesalahannya. Sebab itu bukanlah kesalahan biasa bagi seorang Ibu yang melihat anaknya di lecehkan.
"Maaf Nad, itu semua salahku. Depresi karena Kirana membuatku mabuk," Jawab Rass dengan perasaan penuh penyesalan.
Nadya tak percaya dengan ucapan Rass. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Rass sebenarnya, "Jadi aku salah menitipkan Silla padamu, Rass?" Nadya terduduk lemas di sofa.
Sebagai seorang Ibu Ia benar-benar sangat terpukul karena sudah gagal menjaga putrinya sendiri.
Rupanya perbincangan itu telah sampai pada Yudha yang ternyata baru saja datang menyusul Nadya. Itu alasan mengapa Nadya tadi pulang ke rumah adalah untuk mengurus pembagian harta gono gini mereka.
__ADS_1
"Oh, jadi ini yang kau lakukan, Nad? Aku sudah menduga sebelumnya kalau sahabatmu yang bernama Rass ini adalah lelaki binal!" Tuduh Yudha dengan rahang mengeras. Tanpa sadar, tangannya langsung melayang tepat di sudut bibir Rass hingga berdarah.
"Tunggu Yud, biar aku jelaskan!" Pinta Rass. Meski Ia harus menahan sakit.
"Brengsek kamu, kenapa harus putriku, Rass? Apa kau tidak bisa mencari wanita yang usianya sepadan denganmu," amuk Yudha lagi. Entah berapa kali Ia sengaja mengulang untuk memukul wajah Rass hingga Silla tak tega melihatnya.
"Hentikan Pa, jangan pukul lagi!"
Silla menghalangi kepalan tangan Yudha dengan cara mendekap tubuh Rass yang sudah babak belur tanpa perlawanan. Bukan Rass tak mampu mengalahkan Yudha. Tapi Ia sadar kalau posisinya memanglah salah.
"Dasar orang gila. Berani sekali kau menghamili Silla, Rass. Dimana otakmu itu. Apa kau tidak lihat kalau Silla masih sangat kecil. Dia lebih pantas jadi putrimu," oceh Yudha lagi belum puas. Lalu menodong tatapan pada Nadya yang menurutnya tidak becus menjaga anak.
__ADS_1
"Mana buktinya, katamu kau akan menjaga Silla dengan baik. Lalu apa yang ku lihat hari ini. Bisakah kau menjelaskannya padaku, Nad?" Cerca Yudha lagi, jengah.
"Tidak usah menyalahkan Mama, Pa. Silla yang mau melakukan ini atas dasar suka sama Om Rass." Silla lagi-lagi berbohong. Hingga kedua bola mata Rass, Nadya dan juga Yudha terlonjak mendengar pengakuan Silla.
"Silla...?" Ucap mereka kompak.
"Kenapa? Apa kalian mau menghukum Silla setelah ini? Lakuian saja jika itu membuat kalian terpuaskan. Silla sangat muak dengan kalian yang sudah bercerai tapi masih saja saling bertemu dan ribut di depanku. Apa itu yang di sebut sebagai contoh yang baik pada anak?"
Yudha yang masih kesulitan mengendalikan emosi dan Nadya yang terus saja menangis di tempatnya, langsung terdiam.
Memang benar mereka tidak punya waktu banyak untuk Silla saat masih kecil. Bahkan sebagai orang tua mereka tidak pernah bisa akur sama sekali, dan akhirnya membuat Silla merasa tidak di sayang. Itu sebabnya Silla sengaja bersikap manja pada Nadya hanya untuk sekedar mendapatkan sentuhan hangat dari wanita yang melahirkannya itu.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu pusing untuk mengurus Silla lagi karena setelah ini, Om Rass yang akan menanggung semua kebutuhan Silla. Jadi kalian guna kan saja hasil kerja kalian untuk menyenangkan hati kalian sendiri."
Silla sengaja menambahkan, agar kedua orang tuanya itu bisa berpikir keras dengan sikap menyebalkan mereka.