Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 42 Motivasi


__ADS_3

"Bangun dan bersihkan dirimu. Bukankah kita akan pulang hari ini!" Rass menjawab seadanya.


"Iya Om!"


Silla pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Terpaksa dia memakai baju yang sama karena awalnya mereka tidak ada niat untuk menginap.


Merasa lebih segar setelah menyentuh air, Silla pun kembali ke tempat dimana Rass tengah menunggunya.


Sesaat perempuan itu membidik Rass dengan tatapan menyeluruh, "Apa Om sudah sehat sekarang?"


"Hanya pusing sedikit." Rass kembali menjawab dengan singkat karena dia ingin fokus saja untuk sarapan.


"Yakin, Om kuat?" Tanya Silla lagi penasaran.


Rass mengangguk.


Selang beberapa waktu, sebuah ketukan terdengar di balik pintu.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Biar Silla buka, Om!"


"Pagi Silla!" Sapa Miranda dan Jonathan. Keduanya nampak bahagia sekali di depan mata Silla.


"Mir, Om, ayo masuk. Kebetulan kami sedang sarapan!" Ajak Silla lagi.


Miranda dan Jonathan pun masuk dan msnghampiri Rass.


"Iya Sil, makasih. Kami cuma mau ngecek kok. Apa benar kalian mau pulang hari ini juga?"


"Iya Mir, tapi sepertinya Om Rass lagi demam deh?"


"Oya?" Jonathan menggoda Rass dengan mengecek keningnya, "Kemungkinan karena gagal malam pertama ni!"


Silla dan Rass pun saling berpandangan. Apa yang Jonathan katakan memang tak salah lagi. Silla tidak memberikan sedikit pun apa yang Rass mau darinya.


Jonathan sengaja memperlihatkan keromantisannya pada Miranda dengan mencium tangan istri kecilnya itu.


"Tu kan mulai blak-blakan ya sekarang!" Rass Terus menggoda sambil meminjat keningnya yang masih sakit.


"Rass, kalau kamu memang masih sakit. Ya udah nginep aja lagi. Besok pulang bareng. Bahaya lo mengemudi mobil dalam keadaan pusing!"


Rass memikirkan saran sahabatnya itu, akan tetapi apakah Silla mau. Sedang mereka tak membawa baju ganti.

__ADS_1


Tak Ingin dianggap egois Silla pun menimpali, "Gak papa kok, Om. Kalau pulangnya besok. Yang penting Om sembuh dulu, tapi_?"


"Kenapa lagi, Sil?" Miranda harap Silla tidak sedang dalam kebimbangan.


"Kami kan gak bawa baju ganti, Mir. Bisa gak Om Jo antar Om Rass ke rumah sakit terdekat dari sini sambil cari baju ganti di toko-toko tepi jalan?" Tanya Silla pada Jonathan.


"Oh ya, tentu saja Sil. Kami akan sangat senang melakukannya. Toh, itung-itung kita refresing sebentar!"


Mendapat persetujuan itu, Silla pun membantu Rass berjalan menuju ke lobby dimana mobil Jonathan terparkir.


Sesampainya di rumah sakit, Rass langsung mendapatkan perawatan khusus. Setelah di beri resep obat dan menebusnya di apotok. Mereka pun mampir ke sebuah butik dimana banyak pakaian yang bisa mereka beli.


"Om duduk aja disini, biar Silla cari baju ganti buat kita. Tapi, Om bawa uangkan?"


Rass mengangguk, lalu menyerahkan sebuah kartu pada Silla.


"Om, kok pakek ini? Emang gak ada uang kes ya?"


"Butik ini bisa pakai kredit cart kok, masuklah dan cari saja apa yang kamu mau!" Jawab Rass pelan saja.


"Ayo Mir, temenin aku!" Silla menggeret lengan Miranda masuk ke dalam meninggalkan Jonathan yang masih berdiri sambil berkaca pinggang menatap ke arah Rass.


"Apa Silla menerimamu dengan baik?" Tanya Jonathan kemudian.

__ADS_1


Meski masih pusing, Rass berusaha mengembangkan senyumnya, "Awalnya marah sih, tapi hari ini aku melihat perhatian darinya?"


Jonathan menepuk bahu sahabat karibnya itu dengan wajah berbinar, "Kalau begitu kamu harus pandai mencari perhatian untuk menaklukan hatinya."


__ADS_2