Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 7 Menantu dan Mertua


__ADS_3

Aduh, bagaimana ini? Jangan sampai Mama tahu kalau Silla tengah hamil sekarang...


Seminggu yang lalu, Silla telah mengetahui kejadian malam itu sudah menumbuhkan benih di rahimnya. Sampai saat ini pun Silla belum mau menceritakan hal itu, baik pada Nadya maupun Rass.


"Silla, kenapa kamu jadi sering sakit begini sih? Bagaimana kalau kita ke dokter saja. Mama takut kamu kenapa-napa, Sayang?" Sebisanya Nadya kembali membujuk.


"Gak mau, Ma. Silla gak papa kok. Cuma masuk angin biasa nanti juga sembuh!" Elaknya lagi karena takut sang Mama tahu kalau dia sudah tak suci lagi.


"Ya udah kalau gitu. Kamu istirahat gih. Mama ke depan dulu sebentar. Gak enak sama Om Rass!"


"Iya, Ma."


Nadya turun ke lantai bawah dan menemui sahabatnya yang masih setia menunggu disana. Rass sebenarnya sangat ingin bertemu Silla untuk mengetahui kondisi gadis itu. Tapi sayang, lagi-lagi harapan Rass gagal total karena Silla tidak mau bertemu dengannya.

__ADS_1


"Rass, kenapa ya akhir-akhir ini Silla lebih sering mengurung diri di kamar? Sudah beberapa hari ini juga aku melihat dia sering banget mual-mual. Aku jadi takut, kalau Silla sedang sakit. Tapi dia tidak mau memberi tahuku," Tukas Nadya kemudian. Nadya yakin dengan bercerita pada Rass. Nadya akan mendapat solusinya.


"Mual?" Ulang Rass lagi sedikit terkejut. Kedua bolanya tampak membulat dengan sempurna.


"Iya, aku takut Silla kena asam lambung atau penyakit lainnya. Tapi Silla menolak untuk periksa!" Sambung Nadya lagi dengan detail.


"Terakhir saat aku mengantarnya, dia masih ceria sih. Tapi emang agak sensi kalau bicara. O ya kapan Silla ambil ijazahnya?" Rass harap bisa menemui Silla untuk mencari tahu apa yang tengah gadis itu sembunyikan dari mereka.


"Besok sih, katanya dia akan pergi bareng temannya!"


*****


Di sebuah rumah yang berbeda di mana cerita baru tentang kisah Miranda dan Jonathan kembali terurai.

__ADS_1


Sejak meninggalnya Bara, Miranda dan Jonathan masih bersi tegang dengan Mama Mutia.


Persisnya sore hari, Miranda yang sudah ikut khursus memasak tengah berkutat di dapur. Tapi karena sambil mencuci piring. Tempe yang Miranda goreng menjadi gosong, dan drama Mama Mutia yang selalu merendahkannya harus kembali Miranda dengarkan.


"Ya ampun, Miranda!" Teriak Mama Mutia saat datang memeriksa hasil masakan menantunya itu.


"Iya Ma, Kenapa?" Tanya Miranda dengan santainya. Karena Ia memang belum menyadari kesalahanya.


"Kamu gak liat atau gak nyium bauk aneh apa? Liat ni tempenya udah jadi item alias gosong. Percuma dong Kamu khusus masak mahal-mahal kalau masih begini-begini aja jadinya!" Celetuk Mama Mutia dengan kasar.


"Maaf Ma, Miranda sambil cuci piring tadi," timpalnya dengan perasaan sedih. Tak mudah memang bagi Miranda untuk menjadi istri idaman. Nyatanya Ia masih saja kalah dengan Tante Bella yang setiap hari memuja mereka dengan makanan enak.


"Alah, alasan saja. Mulai besok berhenti aja deh khursusnya. Ngabis-ngabisin duit Jonathan aja kerjamu. Bisanya cuma nyusahin doang!"

__ADS_1


"Ta- tapi Ma?"


"Gak ada tapi-tapian, mending kamu diem aja deh di kamar sana sambil bertelur. Siapa tahukan yang keluar telur emas nanti!" Usir Mama Mutia lagi dengan tatapan sinis.


__ADS_2