Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 19 Konyol


__ADS_3

"Habislah, Om. Gak tahu kenapa ni Miranda lapar banget hari ini. Gak papa kan Om, Miranda pesan banyak makanan?" Tanyanya sembari nyengir.


Jonathan hanya membalas dengan tersenyum, selang beberapa waktu terdengar telpon berdering. Jonathan menerima panggilan dari Nadya yang sepertinya tengah menangis.


"Jo, kamu bisa hadir gak kerumah aku nanti malam. Karena putriku akan menikah malam ini?" Tukas Nadya dari seberang.


"Menikah? Kenapa buru-buru, Nad?"


"Namanya juga anak muda, Jo. Mereka salah memilih pergaulan. Ajakin Bella sekalian ya. Aku gak ada waktu lagi buat telpon dia. Soalnya aku bingung banget sekarang. Aku butuh banget support dari kalian!"


"Oke, Nad. Biar aku yang telpon, Bella nanti!"


Usai mematikan telpon, Jonathan mengalihkan panggilan pada Bella. Sedangkan Miranda hanya fokus saja mengamati kesibukannya dengan lawan bicara.


"Iya Jo," timpal Bella dengan suara sumringah.


"Nanti malam Nadya mengundang kita kerumahnya karena Silla mau menikah?" Jawab Jonathan.


"Menikah?"


Tentu saja itu sangat mengagetkan Miranda. hingga akhirnya ponsel yang di berikan Jonathan beberapa waktu yang lalu pun ikut berdering. Sepertinya itu pesan dari Sahabatnya.

__ADS_1


Mir, kamu harus temanin aku malam ini. Karena Mama sudah tahu kalau aku hamil. Jadi malam ini dengan terpaksa aku mau di nikahi oleh Om Rass...


Miranda pun mengetikkan pesan balasan pada Silla. Ia pasti mendukung keputusan sahabatnya itu karena memang tidak ada pilihan lain lagi kecuali menerima pernikahan itu.


Kamu tenang aja ya, Sil. Aku pasti dateng kesana buat nemenin kamu. Percayalah menikah dengan pria yang lebih dewasa tak seburuk kelihatannya...


Miranda kembali terfokus pada Jonathan yang masih belum selesai berbicara dengan Bella.


"Kamu bisa jemput aku kan, Jo. Please, biar kita bisa pergi sama-sama?" Pinta Bella penuh harap.


Jonathan pun menoleh kearah Miranda. Jujur saja dia bingung mau mengiyakan atau tidak karena bagaimana pun juga Ia sudah tahu Bella punya tujuan padanya.


"Iya deh, nanti aku jemput!"


"Gak papa kan kalau kita jemput Tante Bella dulu, soalnya Silla mau menikah malam ini. Kamu tahu gak calonnya siapa?" Sengaja Jonathan melemparkan banyak pertanyaan agar Miranda tidak terpatri pada niatnya menjemput Bella.


"Nanti Om juga tahu sendiri," jawab Miranda datar saja. Sampai akhirnya pesanan mereka tersaji juga.


Miranda tak banyak bicara kali ini. Karena sepertinya Ia tidak tertarik dengan niat awal Jonathan menjemput perempuan yang mengaku sahabatnya itu. Kalau boleh jujur Miranda lebih senang, Jonathan menjauh saja dari Bella.


Jonathan di buat melongo dengan cara makan Miranda yang belepotan. Sehingga Ia berinisiatif mengusap sudut bibir Miranda.

__ADS_1


"Ada kecap di bibir Miranda."


"Makasih," jawab Miranda ketus.


"Kamu marah ya sama Om?"


Ngapain marah, kayak gak ada kerjaan aja!"


Miranda tak perduli lagi dengan Jonathan dan segera menandaskan semua makanan yang di pesannya.


"Pelan-pelan saja Mir, nanti perutmu sakit!" Cicit Jonathan setengah berbisik. Karena semua orang jadi melirik kearah mereka.


Miranda pun menoleh ke kiri dan ke kanan dengan nasi yang masih penuh di mulut. Benar saja mereka menatap ilfil kearah Miranda, "Biarin ajalah, Om. Aku gak perduli." Miranda mengabaikan mereka dan melanjutkan santap siangnya yang lezat itu bercampur dengan rasa kesal dan cemburu gara-gara mendengar Jobathan ingin menjemput Bella.


Usai membayar total biaya makanan yang mereka pesan tadi. Jonathan pun mengajak Miranda masuk ke pusat perbelanjaan.


"Kita mau ngapain kesini, Om?" Miranda menatap aneh.


"Beli pakaian buat acara nanti malam!"


Tapi belum juga sampai, Jonathan menghentikan langkahnya tepat di toko jam tangan.

__ADS_1


"Mau jam couple, Mbak!" Pinta Jonathan pada penjaga toko.


__ADS_2