Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 32 Menginap


__ADS_3

"Benar apa yang di katakan suamiku, Bu. Kami pun menikah atas dasar suka sama suka. Lagian menikah juga gak harus dengan sebayakan, faktanya aku sangat bahagia memiliki suami yang jauh lebih dewasa dariku. Coba perhatikan baik-baik, apa tampang suamiku ini terlihat begitu tua? Karena menurutku dia sempurna sekali di umurnya yang sudah kepala tiga." Miranda menambahkan dengan detail apa yang di ucapkan Jonathan tadi.


Mereka yang berargumen tadi pun terdiam. Kenyataannya mereka tidak bisa menyangkal bukti yang di perlihatkan oleh Jonathan.


"Ya udah deh, Yang. Ayo kita pergi. Suasananya juga mulai panas!" Miranda menggeret lengan besar Jonathan meninggalkan tempat itu. Percuma saja meladeni orang-orang usil yang selalu ikut campur urusan orang lain.


*****


Sesuai janji Jonathan, mobil yang mereka kendarai benar-benar berhenti di depan hotel. Hari itu, Jonathan ingin memanjakan Miranda. Sebab entah sampai kapan, Jonathan kembali punya waktu luang untuk melakukannya lagi.


"Pesan satu kamar, Mbak!" Tukas Jonathan kemudian sembari mengeluarkan kartu identitas.


"Cuma satu, Pak.?" Resepsionis itu menelisik kearah Miranda. Heran saja kenapa Jonathan hanya memesan satu kamar jika Miranda adalah putri atau saudaranya.


"Iya Satu, ngapain banyak-banyak," jawab Jonathan santai saja.


"Mau yang biasa atau VVIP, Pak?" Tanya resepsionis itu lagi.


"VVIP, Mbak!"

__ADS_1


Perempuan itu pun menyerahkan satu kunci ke tangan Jonathan. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya jika gadis kecil yang terus Jonathan rangkung itu adalah seorang kekasih atau pacar gelap.


"Anak jaman sekarang, pergaulannya emang ngeri!" Gumam resepsionis itu seorang diri.


Sesampainya di kamar, Jonathan membuka kunci kamar mereka dengan perasaan bahagia. Karena tawa Miranda adalah sesuatu yang berharga.


"Ayo masuk!" Ajak Jonathan pada Miranda.


"Iya Om...!" Miranda mendahului pergerakan Jonathan dan langsung melompat keatas ranjang king size untuk melepas rasa lelahnya.


"Ya ampun, ini empuk sekali Om. Seharian tidur pun Miranda pasti betah," Celotehnya sembari melihat Jonathan yang masih sibuk menggulung lengan kemejanya sampai ke sikut.


"Apa? Jadi kita akan menginap selama itu, Om?"


Miranda sangat senang mendengarnya. Bukankah itu yang selama ini Ia impikan bisa berduaan dengan Jonathan sambil liburan ke tempat yang baru.


Johathan menganggukkan kepala, lalu mendudukkan diri di sofa.


"Om...!"

__ADS_1


Miranda menghampiri Jonathan sambil memasang wajah dan senyum semanis mungkin.


"Kenapa?"


"Harusnya kita pergi sama Silla ya, Om. Pasti seru deh. Apalagi mereka kan pengantin baru?"


"Apa kamu yakin, Mir?"


Pasalnya sampai saat ini belum ada yang benar-benar tahu jika mereka sudah menikah selain Silla sahabat Miranda.


"Emang kenapa? Apa Om takut Tante Bella tahu dari mereka nanti?" Todong Miranda kemudian.


Jonathan mengurai senyum, "Bukan itu, Mir. Tapi Om khawatir dengan kamu. Apa kamu sudah benar-benar siap jika nanti semua orang yang mengenal kita tahu kalau kita telah terikat oleh sebuah pernikahan?"


"Kenapa Om bertanya begitu?" Miranda menusuk-nusuk dada Jonathan dengan ibu jarinya.


"Ya, karena sudah di pastikan banyak orang yang akan mempertanyakan alasan kamu menikah dengan Om, dan tentu saja itu akan mendesak kamu untuk memberi alasan yang tepat?"


"Owh, cuma itu?" Miranda mengembungkan pipinya sambil berpikir akan ucapan Jonathan yang menurutnya bukanlah masalah besar.

__ADS_1


__ADS_2