Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 57 Kejutan Istimewa


__ADS_3

"Miranda...!" Pekik Jonathan sambil berlalu menghampiri Miranda.


"Mbak, gak papa Mbak?" Tanya Sekertaris Jonathan itu pada Miranda yang sudah beralih duduk di aspal karena tadi bobot tubuhnya menindih sekerteris Jonathan itu.


"Perutku agak sakit sedikit ni jadinya," rintih Miranda. Memegangi perutnya yang sejak tadi terasa keram.


"Sayang, kamu gak papa kan?" Tanya Jonathan yang baru saja tiba dan langsung memeriksa kondisi Miranda.


"Enggak Mas, cuma sakit perut aja kok dikit."


"Jangan bilang sedikit, ayo kita kerumah sakit, aku tidak mau sampai terjadi apa-apa sama kamu."


Tanpa berpikir panjang lagi Jonathan langsung menggendong Miranda menuju ke mobilnya, dimana Ia seperti orang yang kesurupan karena buru-buru membawa Miranda ke rumah sakit terdekat dari kantornya.


Setelah mendapat penanganan dari Dokter hal yang di takutkan Jonathan malah berbuah jadi kejutan istimewa.


"Alhamdulilah, bayinya sehat-sehat saja, Pak. Mungkin hanya tersentak saja tadi."


"Bayi...?" Timpal Jonathan dan Miranda bersamaan. Sampai mereka mengira kalau mereka salah mendengar ucapan Dokter.


"Iya bayi?" Ucap Dokter perempuan itu mengulangi. Justru Ia yang menatap dengan heran pada keduanya. Bagamana mungkin Jonathan dan Miranda tidak tahu kalau sebenarnya Miranda tengah hamil 4 minggu. Awalnya Dokter itu mengira mereka memeriksakan kondisi kehamilan Miranda karena habis terjatuh tadi.


"Alhamdulilah, jadi istri kecil saya ini hamil Dok?" Tanya Jonathan lagi tak percaya. Sampai tak sadar membelai rambut Miranda di depan Dokter dan asistennya.

__ADS_1


"Iya Pak, tolong di jaga baik-baik ya, supaya tidak terjatuh lagi. Karena itu akan sangat beresiko untuk Ibu dan bayinya."


Jonathan mengangguk berkali-kali. Ia berjanji dalam hati, kali ini Ia tidak akan teledor lagi. Jadi Jonathan akan menjaga Miranda sebaik mungkin. Biarlah masalalu menjadi pelajaran dan masa depan untuk di hindari.


Setelah dinyatakan baik-baik saja oleh Dokter, Jonathan dan Miranda pun pulang kerumah mereka. Jadi dengan sangat terpaksa keduanya mengurungkan niat untuk datang ke rumah orang tua Jonathan.


"Kamu istirahat aja ya, Sayang. Aku gak mau kamu sampai kecapean karena ini adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk kita."


"Iya Om."


"Eh, kok masih panggil Om? Bukannya kamu udah janji akan merubah panggilan kamu kalau nanti hamil lagi?" Jonathan perlu mengingatkan karena hal itu sama saja dengan nazar.


"Hehehe... Iya Mas Jo. Aku akan usahain manggil ini mulai sekarang. Tapi kalau masih salah ingatin aku ya?"


Jonathan mengembangkan senyumnya lantas mengecup kening Miranda.


"Biar Miranda bantu ya, Mas."


"Gak perlu, gak harus pinter masak buat nyenengin aku. Cukup kamu dan dedek sehat aja itu udah luar biasa banget buat aku. Jadi gak usah mikir mau pinter masak dan segala macem ya."


Karena tak bisa membantah ucapan Jonathan, Miranda pun mengalah. Jadi Ia memutuskan beristirahat saja karena itu memang waktunya tidur siang.


Dua jam terlelap, Miranda terbangun lagi. Ia merasa aneh karena banyak suara ribut-ribut di luar. Miranda yakin dia tidak sedang bermimpi. Tapi siapa orang-orang yang ada di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Rasa penasaran menuntun Miranda untuk membuka pintu dan ternyata Jonathan sudah menyiapkan surprise spesial untuknya.


"Bapak, Ibu...!"


Miranda yang memang kangen berat pada keduanya langsung merangkul mereka dengan sangat erat. Di sana juga ada saudara perempuan dan suaminya. Tak ketinggalan keponakan Miranda.


"Enak banget ya di ratukan sama Suami. Dia sibuk memasak kamu malah enak-enakkan tidur," Cicit Mbak Lilis bermaksud menggoda.


"Ini kemauan Jonathan kok, Mbak. Sekarang Miranda sedang hamil lagi. Jadi aku tidak ingin Miranda kecapean. Toh aku kan bisa masakin buat kita berdua. Tapi tenang, hari ini Jo masak porsi jumbo kok. Jadi kita bisa makan sama-sama sampai sepuasnya, ayo!"


Ajakan Jonathan tentu tidak akan di tolak oleh keluarga Miranda. Mereka segera turun kelantai bawah dan terpukau dengan hasil masakan Jonathan yang memenuhi seluruh meja makan.


"Ya ampun, Jo. Kamu bisa masak sebanyak ini, Nak? Kelihatannya juga enak lagi," ucap Ibu Miranda sangat senang.


"Kalau gitu jangan di pelototin aja dong, Bu. Ayo kita makan sama-sama. Kapan lagi kan kita bisa kayak gini."


Melihat keluarga Miranda yang nampak sangat bahagia, Jo merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Kehilangan anak dan Ibu, Allah menghadirkan keluarga baru yang membuatnya bisa bangkit lagi dari keterpurukan.


Begitu juga Miranda yang sangat senang memiliki suami yang luar biasa seperti Jonathan. Selain umur yang dewasa, sikap baik dan bersahaja yang Jonathan punya membuat Ia juga merasa menjadi perempuan yang paling beruntung sedunia.


"Makasih ya, Mas. Sudah membahagiakan keluargaku. Mereka sangat menikmati semua ini, Mas."


"Sama-sama, Sayang. Meski panggilanmu masih terdengar kaku. Tapi aku sangat suka mendengarnya."

__ADS_1


"Hahaha... Iya kedengarannya jadi aneh saja. Maaf ya Mas, selama ini aku belum bisa menjadi istri idaman."


"Kata siapa sih, itu tidak benar. Tersenyumlah terus di depanku karena itu sudah lebih dari cukup."


__ADS_2