
Keesokan harinya pagi-agi sekali Keluarga Miranda yang menginap semalam di rumah mereka langsung berpamitan. Jonathan membawakan banyak hadiah yang sudah di bungkus rapi dalam sebuah kardus. Entah apa saja isinya yang pasti ada 3 kardus jumlahnya.
Selain barang-barang itu, tak lupa juga Jonathan memberi uang pada Ibu mertuanya. Sepertinya cukup banyak karena amplop itu terlihat tebal. Satu hal lagi, Jonathan juga memberikan uang jajan untuk keponakan Miranda sebanyak lima ratus ribu rupiah yang langsung di berikan Jonathan buat ponakannya itu.
"Makasih ya, Om!"
"Sama-sama cantik, hati-hati di jalan ya!"
"Iya Om, dadah...!"
Jonathan dan Miranda hanya bisa melambaikan tangannya saat mereka sudah naik ke dalam taksi pesanan Jonathan. Rasa bahagia kian Jonathan rasakan mana kala melihat Miranda terus tersenyum ke arahnya.
"Kenapa?"
"Makasih ya, atau semuanya. Kamu begitu baik sama keluargaku dan itu membuat hatiku jadi terharu, Mas?" Miranda menyandarkan kepalanya kepundak sang suami karena Jonathan memang berdiri tepat di sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu ini gimana sih? Mereka kan keluargaku juga sekarang. Jadi sudah sewajarnya kalau kita harus berbagi kebahagian pula pada mereka. Lagian itu hanya hadiah kecik kok. Tapi sebaliknya kamu sudah memberikan aku hadiah yang sangat istimewa hari ini."
Jonathan meraih perut Miranda dan mengusapnya berulang-ulang. Itu hanya sebagian bentuk kecil yang Jonathan perlihatkan pada Miranda.
"Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, Sayang," Ucap Miranda. Lagi-lagi makin kaku saja panggilan itu ditelinga Jonathan.
"Ya udah ayo masuk, aku mau ganti pakaian dulu sebentar. Gak papa kan kamu sendiri di rumah?"
"Gak papa Mas, bukankah kamu harus kerja. Kalau kamu di rumah terus, bagaimana kita punya uang ke depannya."
"La, emang biasanya gimana, Mas?"
"Dulu aku tidak bisa membiarkannya menetap disini karena tidak ada penghuni perempuan."
Memang sebelumnya Jonathan mengontrakkan asisten rumah tangganya itu tak jauh dari rumah. Jadi pembantunya itu akan datang beberes saat dia sudah berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Siyap, Om. Eh maksudku Sayang, eh atau suamiku saja. Aduh, kok aku jadi bingung sih mau manggil apa?"
"Pelan-pelan aja ya nanti juga terbiasa."
"Hehehe... Abis gak terbiasa sih?"
Jonathan hanya tersenyum sambil berlalu masuk ke dalam, entah sajak kapan Bella sudah melewati pagar besi di depan hingga tiba-tiba Ia sudah berdiri di dekat Miranda sambil mendorong pundak Miranda dengab kasar.
"Eh, bocak tengil sialan banget ya jadi orang. Berani sekali sih kamu ngerebut Calon suamiku yang udah aku incar sejak lama?" Amuknya mencerca Miranda.
"Eh Tante Bella apa maksudnya mendorongku begitu?" Tanya Miranda tak mengerti.
"Alah aku gak mau tahu. Pokoknya kamu harus minta Jonathan buru-buru cerain kamu sekarang juga atau_!"
"Gak bisa gitu dong Tante, apa hak Tante meminta Miranda berpisah dengan suami Miranda sendiri?"
__ADS_1
"Hak? Kamu mau tahu hak aku, ya?" Bella kembali melototi Miranda sambil terus mendorong-dorong tubuh Miranda.