Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 28 Antri


__ADS_3

Hari ini Silla benar-benar pergi ke dokter bersama Rass. Mungkin ini jalan satu-satunya untuk meyakinkan Silla kalau dirinya benar-benar tengah mengandung. Begitu juga dengan Rass yang mungkin perlu mendengar apa yang nanti akan di katakan Dokter kepada mereka.


Sesampainya di sana, rupanya kondisi sangat ramai. Jadi dengan keterpaksaan mereka harus menunggu giliran.


Mungkin sudah sekitar satu jam duduk di ruang tunggu, Silla mulai merasa lelah dan bosan.


"Om, apa giliran kita masih lama? Silla ingin berbaring sekarang?" Ucapnya sembari menyeka sedikit keringat yang mulai membintik di dahi karena cuaca hari ini memang lah sangat panas.


"Sebentar lagi, masih ada dua orang di depan kita. Kamu pasti hauskan? Atau mau makan? Biar Om beli sebentar ya!"


Silla tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Rass pergi begitu saja. Berada seorang diri diantara para wanita dewasa yang juga tengah hamil, Silla sedikit malu sebenarnya. Jelas sekali kalau dia paling kecil diantara mereka.


"Itu tadi suami atau Ayahnya dek?" Tanya Seorang Ibu-Ibu yang sengaja menghampirinya. Mungkin agak kepo dengan kehidupan Silla karena datang bersama pria yang lebih dewasa darinya.


Situasi itu membuat Silla bingung mau menjawab apa. Sungguh Ia merasa malu ada di posisi sekarang ini. Tapi apa mau di kata jika faktanya Rass memang sudah menjadi suaminya.


"Iya Bu, ada masalah apa ya?"

__ADS_1


Ibu itu tersenyum lalu mendaratkan bokongnya di kursi milik Rass tadi.


"Enggak papa, Nak. Justru lelaki dewasa biasanya lebih pandai mengayomi karena pengalamannya ketimbang lelaki sebaya. Ini pasti anak pertama ya?" Tanya Ibu itu lagi. Sangat pandai mengakrabkan diri.


"Iya Bu, semoga saja aku siap untuk ini," Jawab Silla. Seraya mengembangkan senyum simpulnya.


"Aamiin, intinya yang paling penting itu adalah sabar, Nak. Karena mengurus anak itu tidaklah gampang seperti kelihatannya!"


Sang Ibu rupanya paham betul dengan pemikiran Silla, hingga dengan pedulinya Ia memberi saran dan pengertian.


Selang beberapa menit tenggelam dalam obrolan mereka, Rass telah kembali dengan Dua buah botol air mineral dan dua bungkus makanan ringan.


"Minum dulu ya!"


Rass duduk di depan Silla lalu berinisiatif membuka tutup botolnya agar Silla bisa segera minum.


"Makasih...!" Silla menahan kalimatnya karena tidak ingin Ibu tadi berpikir aneh di karekan Silla memanggil Rass dengan sebutan Om.

__ADS_1


"Nomor dua puluh lima!" Teriak Seorang Suster yang ternyata adalah Ibu tadi. Setelah itu barulah nomor urut Silla.


"Ya udah, Nak. Ibu duluan ya!"


Silla mengangguk dan mengekor Ibu tadi dengan kehamilannya yang hampir sembilan bulan lewat kedua bola matanya.


Ya ampun, perutnya besar sekali? Apa nanti perutku juga bakal seperti itu?...


Silla membayangkan posisinya sebentar lagi. Entah mengapa dia menjadi ngeri sendiri.


"Om, apa kehamilan itu tidak sakit? Kenapa mereka nampak biasa saja?" Seloroh Silla pada Rass yang sebenarnya jauh tidak mengerti ketimbang Silla.


"Yang jelas orang hamil itu banyak sensasi, keinginan dan juga manja," sahut salah seorang lelaki sekitar 35 tahun yang tidak jauh dari keduanya.


"O ya? Dari mana Bapak tahu mengenai hal itu?"


"Karena istri saya sudah mengandung sebanyak tiga kali, memang mintanya selalu aneh-aneh dan menyusahkan. Soalnya gak ngaruh mau malam apa siang. Kalau perempuan hamil ngidam sesuatu, detik itu juga keinginannya harus ada!"

__ADS_1


__ADS_2