Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Ban 12 Menjemput Silla Dirumahnya


__ADS_3

Sejak mendengar ucapan Bella, Nadya jadi kepikiran terus menerus dengan Keadaan Silla. Tapi Nadya tidak tahu bagaimana caranya agar Silla mau mengakui kebenarannya.


Pagi itu tepatnya saat berada di meja makan, Nadya mencoba berkomunikasi dengan Silla secara hati-hati. Karena Ia takut Silla jadi tertekan dengan pertanyaan yang di sodorkannya.


"Nak, beri tahu Mama. Apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan dari Mama, Sayang?"


"Maksud Mama apa?" Silla belum mau menanggapi ucapan Nadya dengan serius.


Sebisanya Nadya bicara selembut mungkin, "Soal kondisimu akhir-akhir ini. Silla mau ya di periksa dulu kerumah sakit nanti sore?"


Sejenak Silla menghentikan sarapannya, lalu menatap sang Mama dengan perasaan yang sangat kacau, bagaimana mungkin Silla mau jika masalahnya adalah karena dirinya telah hamil, "Enggak Ma, Silla takut sama jarum suntik. Mama kan tahu sendiri bagaimana Phobianya Silla sama Dokter!"


"Iya tapikan_?" Nadya berusaha untuk memberi pengertian. Akan tetapi ucapannya tertahan kala mendengar bel rumah mereka berbunyi.


"Mama buka pintu dulu sebentar!"


Nadya pun menuju ke pintu depan dan melihat siapa tamunya itu, "Jo...?" Nadya tak percaya itu teman lamanya yang sedang di idolakan oleh Bella.


"Ini...?" Nadya memantik perempuan seusia Silla di samping Jonathan.

__ADS_1


"Halo Tante, saya Miranda teman Silla. Kedatangan saya sama Om Jo mau mengajak Silla berangkat bareng buat ngambil ijazah!"


"Oh iya, ayo masuk dulu kalau gitu!"


"Gak perlu lah Nad, kami disini saja. Tadinya aku gak tahu kalau Silla adalah putrimu?" Timpal Jonathan. Tampak sangat akrab.


"Iya Jo, maklumlah dulukan pas ketemu kamu, Silla masih kecil banget!"


Selang beberapa waktu, Silla pun muncul dari ruang tengah dan langsung berhamburan memeluk Miranda.


"Akhirnya kamu datang juga Mir, aku udah was-was aja tadi. Ngira kamu gak jadi dateng!"


"Kamu tenang aja Silla, bila aku sudah berjanji, aku pasti dateng kok!"


"O ya kamu sendiri mau kekantor?" Tanya Jonathan. Yang memilih fokus menanyai Nadya.


"Iya Jo, tapi taksi onlinenya belum dateng. Soalnya mobilku lagi ada di bengkel sekarang," Jawab Nadya. Sedikit bingung.


"Ya udah, ikut kami saja kalau begitu. Nanti aku antar sampai depan kantormu," tawar Jonathan kemudian.

__ADS_1


Nadya jadi tak enak hati, "Ah, jangan deh Jo, nanti aku malah merepotkan kamu lo!"


"Ya enggaklah. Santai aja Nad. Kita kan udah berteman lama. Meski akhir-akhir ini tidak pernah ketemu lagi!"


Menolak juga tidak sampai hati, Nadya pun ikut nebeng di mobil Jonathan. Entah apa yang mereka bahas saat ada di dalam mobil. Sampai-sampai mereka baru menyadari kalau saat ini mereka sudah dekat dengan sekolahan Silla dan Miranda.


"Nanti kalau mau pulang, kabarin aja ya Sill!" Pesan Mama Nadya.


"Iya Ma, nanti Silla telpon."


Nadya pun tertegun saat melihat Miranda mencium punggung tangan Jonathan dengan takzim.


"Om, Miranda masuk dulu ya!"


"Iya Mir, nanti asisten Om yang bakal jemput kamu!"


"Oke Om, Miranda tunggu!"


Kedua remaja putri itu pun bergegas masuk ke kawasan sekolah, sedangkan Jonathan dan Nadya melajukan mobil mereka.

__ADS_1


"Jo, kapan kamu mau mencari pengganti Meilinda? Kamu tahu gak kalau Bella itu sebenarnya terobsesi lo sama kamu!" Ujar Nadya, keceplosan.


Jonathan jadi kaget mendengar ucapan Nadya, "Apa? Terobsesi?"


__ADS_2