Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 39 Merayu


__ADS_3

"Mohon maaf Pak, atas kekhilafan karyawan kami karena sudah berani ikut campur urusan pribadi Pak Rass dan Pak Jo," ucap pemilik hotel.


"Oke, kali ini saya maafkan, tapi usahakan untuk tidak mengulangi hal ini lagi pada para pengunjung yang menginap disini," Tukas Rass simpel saja.


Pemilih hotel mengangguk dan mempersilahkan Rass maupun Jo untuk segera beristirahat mengingat malam semakin larut.


Setibanya di kamar yang ternyata berhadapan, Rass dan Silla berpamitan untuk masuk lebih dulu.


Silla nampak sangat lelah, untuk duduk saja rasanya tidak ada tenaga. Sesuai dugaan sebelumnya, akan banyak orang yang bakal meledek pernikahan beda usia diantara mereka.


Rass yang melihat ekpressi sedih Silla hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar lalu ikut duduk di samping perempuan itu, "Maaf ya Sil, kamu pasti malu kan karena kejadian tadi?"


"Sedikit...."


Jawaban yang sangat singkat untuk Silla, tapi sangat berarti untuk Rass. Sulitnya membuat Silla kembali tersenyum tentu akan menguji kesabaran Rass.


"Kalau begitu tidurlah! Om di sofa itu, panggil saja kalau kamu butuh sesuatu!"

__ADS_1


Silla mengangguk, dan memperhatian Rass yang berpindah ke tempat yang di tunjukkannya tadi. Sebenarnya ada rasa tak tega di hati Silla telah memdiamkan lelaki dewasa itu. Tapi luka yang di lakukan Rass lebih besar padanya, hingga membuat Silla sulit untuk bersikap baik seperti dulu.


***


Kamar 204 adalah milik Jonathan dan Miranda. Keduanya nampak sedang sibuk dengan cara mereka sendiri. Dimana Jonathan yang bergelut menyentuh laptopnya dan Miranda yang sibuk mengganti pakaiannya di kamar mandi.


Miranda mengira Jonathan akan menunggunya di ranjang, tapi siapa sangka. Pria itu malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Om Jo...!"


Sengaja Miranda memasang wajah cemberut sambil menghampiri Jonathan lalu menelusup naik kepangkuan suaminya itu.


"Gak mau, setiap saat om selalu sibuk sendiri. Kapan ngurusin Miranda? Ayo bobok Om!" ajak Miranda lagi sambil melepasi kancing baju Jonathan.


"Loh, Mir. Ini kamu mau ngapain?" Jonathan mulai gelisah dan deg-degan.


"Om tidak punya keinginan?" Miranda menatap tajam kearah Jo yang hanya mengernyitkan dahi tak mengerti.

__ADS_1


"Soal apa?"


Miranda yang sudah memberikan CLUnya jadi semakin kesal. Bagaimana mungkin Jonathan tak mengerti maksud ucapannya? Sedangkan Miranda tahu kalau kebutuhan Jonathan pasti lebih besar darinya.


"Kenapa Om begitu picik? Apa Om belum mau menerima Miranda sepenuhnya?"


Jonathan tersenyum simpul, Sungguh jantungnya hampir copot tadi, "Oh jadi kamu sudah tidak sabar?" Jonathan malah menggodanya.


"Is, apa aku salah?"


Miranda yang kecewa pun merosot lagi dari bawah ketiak Jonathan dan memilih tidur saja di ranjang.


Jonathan yang tidak tega pun menyudahi pekerjaan yang tinggal satu paragraf itu dan segera menyusul Miranda.


"Apa kamu yakin mau malam ini saja?" Tanya Jonathan. Saat melihat Miranda memunggungi dirinya tengah melepas ikat pinggang dan celana dasar yang di pakainya tadi. Kini hanya Boxer yang ada di pusar sampai atas lutut saja yang di kenakan Jonathan.


"Kenapa harus bertanya?" Miranda masih saja ngedumel seorang diri.

__ADS_1


Jonathan yang sebenarnya juga tidak sabar pun


segera naik ke atas ranjang dan memeluk erat tubuh Miranda sambil menciumi telinga istri kecilnya itu hingga Miranda menggidik akan sentuhan ringan


__ADS_2