Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 45 Pengen Punya Bayi


__ADS_3

Rass tersenyum melihat tangan kecil itu melingkar erat di perutnya. Rass tidak percaya Silla melakukan hal itu padanya.


"Itu kan sudah lama, Sil. Sekarang Om baik-baik saja!"


"Tapi Silla gak kuat dengernya, pasti Om kangen banget kan karena gk bisa ketemu mereka lagi!"


Rass memutar tubuh, lalu menyeka linangan air mata yang berjatuhan di pipi Silla, "Dulu sih sakit banget, Om gak berpikir bisa bertahan hidup sampai di detik ini. Karena Om menganggap Om akan segera mati juga karena menahan rindu sama mereka. Tapi kan kamu lihat sendiri hasilnya. Om sehat-sehat saja sampai sekarang!"


"Bener Sil, makannya kamu jangan diemin Om Rass terus dong. Terlalu banyak luka yang Om Rass sembunyikan darimu. Jadi hiburlah hatinya agar tidak larut dalam kesedihan," Sela Miranda pula yang menghampiri dan memeluk lengan Jonathan.


"Maaf Om, aku tahu kalau selama ini aku belum bisa terima untuk menikah sama lelaki yang jauh dewasa seperti Om. Tapi melihat Miranda dan Om Jonathan bahagia. Aku akan mencoba untuk bisa membuka hatiku mulai sekarang. Jujur aku gak munafik kalau aku malu di lihat orang saat kita jalan berdua Om. Pasti mereka mengira kita Ayah dan anak atau Paman dan Keponakan, atau_?"


"Wanita yang cari uang dengan menggoda Om, Om," tambah Miranda lagi hingga gelak tawa mereka pecah.


"Wah, Sepertinya Rass tidak sakit kepala lagi. Bagaimana kalau kita naik perahu ontel?" Usul Jonathan kemudian.


"Oh iya Jo, disini ada kolam renangnya lo. Ayo kita kesana!"

__ADS_1


Kedua pasangan beda usia itu pun segera memesan dua perahu ontel yang ada di dalam kolam mini untuk para pengunjung yang ingin naik. Kebetulan suasana lumayan sepi karena hari itu bukanlah hari libur para pegawai kantor maupun anak sekolahan.


"Om, ayo ontel Om!"


Miranda dan Jonathan sangat bersemangat melakukannya. Begitu pula Rass dan Silla.


"Masih pusing gak, Om?"


Silla khawatir saja dengan kondisi Rass yang belum sembuh benar tapi malah ikut bermain seperti ini.


"Kamu tenang aja Sil, Om gak papa kok!"


"Makanan apa ini?" Jonathan baru pertama kali melihatnya.


"Cobain aja dulu Jo, waktu kecil aku sering banget beli ini!"


Rass spontan menyuapi Silla dan perempuan itu tak lagi menolaknya. Seperti yang mereka dengar tadi. Silla akan berdamai dengan keadaan dengan menerima Rass sebagai suaminya.

__ADS_1


"Om, Silla mual!"


Perempuan itu menyerahkan cimol ke tangan Rass lalu berlari ke arah yang lengang untuk memuntahkan makanan yang baru saja masuk.


Dengan segala perhatiannya, Rass bergegas mengekor dengan memijat tengkuk Silla. Tak tega rasanya melihat Silla seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Tri semester pertama memang tak jarang kalau mual-mual dan rentan sakit harus dialami oleh perempuan yang tengah hamil.


"Seharusnya kamu periksa sekalian tadi. Kita pulang ya. Kamu pasti lelahkan?"


Silla mengangguk. Mereka pun memutuskan mengajak kedua sahabat mereka yang tengah memperhatikan mereka itu untuk kembali ke hotel.


Setibanya disana, Silla langsung berbaring. Sedang Rass memesankan sup hangat untuk Silla pada juru masak di hotel.


Di kamar yang berhadapan, Miranda memikirkan keadaan Silla. Entah kenapa Ia sangat ingin kembali merasakan hamil. Agar nanti bisa punya bayi bareng Silla.


"Mikirin apa sih?" Jonathan memeluk Miranda dan menenggelamkan kepalanya di punda sang istri.


"Om, Kapan ya Miranda bisa hamil lagi?"

__ADS_1


"Hamil?"


__ADS_2