
"Silla...!" Pekik Nadya, kesal.
Sulit di percaya oleh perempuan itu jika Silla sampai berpikir demikian. Dimana Nadya sudah melakukan segala macam cara agar Silla bisa mendapatkan haknya sebagai seorang anak dengan memberikan hidupnya dengan bekerja keras agar Silla tidak kekurangan apa pun.
"Maaf Ma, Ini pilihan Silla!"
Yudha menggeleng tak percaya akan hal ini karena kesalahannya juga yang suka berselingkuh membuat Silla menjadi hancur.
Dengan air mata tak terbendung, Nadya pun berbicara dengan sahabatnya itu. Nadya pikir Silla bisa aman di rumah Rass, tapi kenyataannya Silla harus kehilangan kesuciannya, "Tega kamu, Rass. Aku tak percaya kamu mengambil kesempatan ini untuk merampaskan kehidupan putriku saat aku memberikan kepercayaan penuh padamu!"
Rass tertunduh lesu, Ia tidak menyalahkan Nadya atas ucapan yang di lontarkan padanya, "Maaf Nad, aku tahu ini kesalahanku. Tapi tolong restui aku menikahi Silla," ucap Rass penuh harap. Rass berpikir, hanya itu solusinya. Untuk menyelamatkan hidup Silla dari masalah ini.
Dalam waktu singkat, tempat itu menjadi sangat hening. Nadya pun beranjak dan menghampiri Silla diiringi dengan emosi yang memburu. Tapi Nadya tidak akan tega melukai anaknya itu dengan memukul. Cukup Nadya melampiaskannya dengan menumpahkahkan tangis di pelukan Silla.
__ADS_1
"Maafin Mama, Nak. Jika Mamamu ini belum bisa menjadi Mama yang baik buat kamu. Hingga ini harus menimpamu akibat keegoisan Mama yang memilih sibuk bekerja dan bekerja. Padahal kamu membutuhkan waktu lebih banyak bersama Mama. Sedang Mama berpikir, jika memiliki uang yang banyak kamu akan bahagia nantinya!"
Yudha sendiri tak bisa berargumen, disini dia juga yang salah karena telah mengabaikan kondisi Nadya dan Silla. Sebab bagaimana pun juga, Silla masih tanggung jawabnya untuk memberi nafkah dan perhatian.
"Akan lebih baik jika pernikahan ini di segerakan, karena perut Silla akan kian membesar," tukas Yudha kemudian.
Nadya cukup syok dengan keputusaj terakhir Yudha. Saat harus menerima kenyataan kalau sahabatnya akan berubah status menjadi menantunya sendiri. Sedang Nadya pikir. Setiap hari Rass datang kerumahnya. Pria itu memiliki niat tulus ingin mengajaknya menikah. Ternyata hal itu hanya palsu semata. Nadya harus berpikir jernih. Kalau harapan memang tak selalu sesuai kenyataan yang dia inginkan.
Jauh di tempat yang berbeda, Miranda tengah sibuk duduk-duduk seperti Nyonya besar diruangan Jonathan karena pria itu sedang meeting dengan Kliennya.
Tak lama pintu pun terbuka, memperlihatkan Jonathan yang sudah kembali bersama Raicky.
"Om, kenapa lama sekali? Miranda bosan sendirian!" Protes Miranda dengan sigap. Ia buru-buru menghampiri Jonathan yang masih beberapa langkah dari ambang pintu.
__ADS_1
"Ya udah, ayo kita makan sekarang!" Jonathan merangkul pundak Miranda menuju ke lantaui bawah.
"Eh, itu siapa sih? Ponakan Pak Jo ya?" Tanya seoang karyawan penasaran.
"Sepertinya sih begitu?" Timpal yang lain lagi.
"Meski duda, padahal Pak Jo itu cakep? Kenapa gak nikah lagi ya?"
Selama ini, mereka yang mengira Jonathan masih menduda beranggapan kalau Jonathan sudah mati rasa. Karena Jonathan tidak pernah terlihat punya keinginan untuk menikahi seorang wanita.
Sesampainya di sebuah restoran, Miranda langsung memesan banyak makanan karena sepertinya Ia akan makan banyak hari ini.
"Ini Mbak, ini dan ini. Hari ini aku mau pesta soalnya!" Ucap Miranda pada seorang pelayan sambil menunjukkan gambar menu pada buku di ddepannya.
__ADS_1
"Memesan sebanyak itu emang habis Mir?"