
Sore hari menjelang, sekitar pukul empat sore tepatnya. Silla mulai terbangun dari tidurnya yang lelap. Bola mata bening yang baru saja terbuka itu sempat merasa aneh dengan keberadaannya. Namun setelah Ia ingat-ingat lagi, Silla baru sadar kalau sekarang ini Ia ada di rumah Rass.
Sebenarnya Silla sangat malas untuk keluar kamar, tapi perutnya terasa lapar. Sedang Ia belum makan apa pun sejak di rumah sakit tadi. Bahkan Rass tidak membangunkannya sejenak saja hanya untuk mengajaknya mengisi perut.
Dengan pakaian tanktop yang biasa Silla pakai saat tidur, Ia pun memberanikan diri untuk memeriksa ruangan yang Rass maksud tadi. Tapi kenyataannya Rass sudah tidak ada disana.
"Kemana ya Om Rass pergi? Apa dia tidak tahu kalau aku sangat lapar?"
Silla bergumam seorang diri sambil menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.
"Non, udah bangun?" Sapa Bi Surti yang masih membopong keranjang berisi pakaian bersih dari jemuran di luar. Kebetulan berpapasan dengannya.
Silla hanya tersenyum, mungkin orang rumah itu telah menertawakan kelakuannya yang tidur hingga lupa waktu. Tapi Silla tak perduli dengan anggapan mereka.
"Tadi Bibi mau bangunin buat Makan? Tapi Bibi gak berani bangunin Non Silla. O ya kalau Non mau makan, semuanya sudah Bibi hidangkan di meja makan," tukas Bi Surti lagi dengan sangat ramah dan bersahaja.
"Iya Bi, Makasih. O ya apa Bibi tahu kemana Om Rass pergi?" Terpaksa Silla menanyakan hal itu karena dia sangat penasaran.
__ADS_1
"Oh... katanya mau ngecek kondisi kantor, Non. Mungkin pulangnya sebentar lagi!"
Bi Surti pun berlalu menuju ke kamar, sedang Silla harus membuang rasa malunya hanya untuk mengisi perut.
Silla membuka satu persatu tutup makanan di atas meja untuk memilih salah satu menu kesukaa nya yaitu ikan Bandeng di sambal pedas. Meski tak pernah mengatakan pada siapa pun makanan kesukaannya itu, Setidaknya Ibunya dulu selalu menyediakan menu itu paling tidak 3 hari sekali.
Tanpa di pikir-pikir lagi, Silla pun bergegas melahapnya. Kebetulan waktu itu, ternyata Rass sudah kembali dan melihat Silla ada di meja makan.
"Baru bangun atau belum mandi, Sil?" Rass menanyakan keduanya secara beruntun dalam satu kalimat yang jelas. Berbarengan dengan bokongnya yang ikut duduk di kursi sebelah Silla.
Uhuk!
Uhuk!
Silla terus terbatuk-batuk, dan hal itu membuat Rass sangat khawatir.
"Ya ampun, Sil. Makannya hati-hati aja ya. Kasihan kalau perutnya terus terdesak makanan yang masih keras!"
__ADS_1
Sesuai instingnya Rass termasuk lelaki yang sigap. Tanpa berlama-lama Ia langsung menyerahkan segelas air putih pada Silla agar istrinya itu segera minum.
"Ayo minum dulu, biar tenggorokannya enakkan!"
Silla pun meneguknya dari tangan Rass yang masih menggantung memegangi gelas.
"Om, dari mana?" Tanya Silla. Basa-basi saja niatnya.
"Dari kantor, Sil. Soalnya ada masalah urgent tadi. Makannya Om pergi tanpa izin dulu sama kamu."
"Oh...!"
Hanya itu sahutan Silla padahal dialah yang memberikan pertanyaan tersebut pada Rass.
Tak ingin banyak bicara, Silla pun melanjutkan santap siangnya.
Karena Rass juga merasa sangat lapar. Ia pun ikut menemani Silla untuk makan sore berdua. Dulu Rass terbiasa makan selalu sendiri. Sering ngajak saudara, sepupu atau temannya hanya untuk menikmati makanan beramai-ramai.
__ADS_1