Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 51 Kabar Duka


__ADS_3

Setelah keduanya sampai di kamar, Miranda berbalik agar saling berhadapan dengan Jonathan.


"Apa Om tidak punya perasaan sama Tante Bella?"


"Maksud Miranda?"


"Ya, Miranda butuh jawaban dari Om."


Jonathan yang melihat ada guratan keceburuan di wajah Miranda pun mengembangkan senyumnya, "Jadi kamu cemburu sama Bella ya, Mir?"


"Enggak, bukan itu. Tinggal di jawab aja susah banget sih Om?"


Miranda yang makin kesal pun melemparkan tas mini di pundaknya ke arah ranjang berbarengan dengan bokooongnya yang ikut mendarat di sana.


Jonathan yang tak ingin Miranda marah pun segera melepaskan koper dari tangan kirinya lalu menghampiri Miranda.


"Kamu itu istriku, Mir. Jadi mana mungkin aku menaruh rasa pada wanita lain. Sebelum kamu datang pun. Aku sudah bersikap seperti ini pada Bella. Tapi siapa sangka dia malah menaruh hati padaku saat sidang perceraiannya juga belum selesai dengan Agung."

__ADS_1


Miranda kembali menatap suaminya itu dengan lekat, "Ap mungkin Tante Bella memutuskan bercerai dengan Om Agung karena hanya ingin hidup dengan Om?"


Jonathan menggidikkan kedua bahunya tak mengerti. Jonathan tidak terlalu memikirkan itu. Hingga tidak ada sedikit pun kecurigaan Jonathan terhadap niat baik Bella.


"Dia kan mengaku sahabatku, jadi aku hanya menanggapi dan mendengarkan keluh kesahnya sebagai sahabat juga Mir."


Miranda terdiam sejenak. Pikirannya seolah mencerna apa yang di maksudkan Jonathan, "Aku sudah merasa sebelumnya, kalau Tante Bella memang lagi cari perhatian sama Om Jo. Itu sebabnya Miranda sering melakukan hal-hal yang membuat Tante Bella jadi tidak nyaman."


"Baguslah kalau begitu. Dengan kamu berbuat demikian. Dia jadi susah kan buat deketin Om."


Jonathan mengecup bibir Miranda dengan sayang, tujuan utamanya tentu ingin mengalihkan pemikiran Miranda tentang pengakuan Bella tadi. Sebab Jonathan tidak bisa jika harus saling bersi tegang sama orang satu rumah karena masalah dari luar.


Miranda yang mendengar ucapan Jonathan sangat mendamaikan hati pun membalas senyuman pria itu.


"Makasih, Om. Miranda juga sama. Sejak ada di dekat Om. Miranda jadi merasa aman dan terlindungi. Bahkan Om tahu bagaimana caranya untuk bersikap pada Miranda yang konyol ini."


"Kalau begitu, kita harus belajar sama-sama untuk saling melengkapi. Karena sejatinya Om tidak mau lagi egois pada diri sendiri. Jika Miranda tidak suka sama sikap Om, Miranda jujur saja ya. Biar Om perbaiki kesalahan Om. Begitu juga jika Miranda melakukan kesalahan."

__ADS_1


"Iya Om, Miranda tahu."


Lama saling berpandangan, sebuah telpon pun mengagetkan Jonathan.


"Siapa Om?"


"Dari Asisten rumah tangga Mama di Jokja."


Jonathan pun segera mengangkat telpon tersebut. Betapa terjekutnya Jonathan saat mendengar kalau Mamanya tengah sekarat di rumah sakit gara-gara jatuh di kamar mandi.


"Apa, Bi. Mama sakit?"


Iya Den, sebaiknya Aden segera kesini. Mama Aden ingin ketemu sama Aden dan Non Miranda...


"Iya Bi, hari ini juga kami akan kesana."


Jonathan buru-buru mematikan ponselnya dan kembali menatap ke arah Miranda.

__ADS_1


"Kamu gak capekkan? Kita harus lihat Mama sekarang?"


__ADS_2