Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 41 Menyesuaikan


__ADS_3

"Lalu...?" Jonathan harap ini tidak akan berlarut-larut ke depannya. Karena arti sebuah panggilan tentu akan berdampak besar di kemudian hari.


"Nanti Om, Kalau Miranda siap. Palingan juga nunggu sampai kita punya anak." Yakin Miranda. Karena pada dasarnya memang itulah yang Ia nantikan.


Jonathan tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, "Kalau begitu tidurlah Om sangat mengantuk!"


Miranda tak lagi bersuara, sampai akhirnya keduanya terlelap dalam mimpi yang indah.


*****


Sekitar tengah satu dini hari. Silla terbangun dari tidurnya sambil menatap kearah langit-langit kamar. Sesaat Ia menoleh kearah Rass yang sedikit menggigil kedinginan.


Lama dalam keraguan, Silla pun memberikan selimutnya. Tapi dengan rasa penasaran yang besar. Silla memberanikan diri untuk mengecek dahulu kondisi kening Rass yang terasa lumayan panas. Kemungkinan besarnya adalah Rass sedang demam saat ini.


Melihat wajah pria itu perasaan Silla jadi sedikit melemah. Entah kenapa rasa pedulinya lebih besar dari pada rasa cueknya.


Karena tak tahu harus mengompres Rass pakek apa. Silla yang sudah menyelimuti tubuh Rass pun kembali berbaring keranjang.

__ADS_1


Lagi-lagi Silla tak bisa tidur karena dia merasa sangat cemas dan takut Rass kenapa-napa.


"Ki, Ki, Kirana!" Pekik Rass tiba-tiba hingga terduduk dengan jantung terus berdebar-debar.


"Ada apa, Om?" Silla kembali terjaga dengan tatapan lekat ke arah Rass.


Pria itu memantik selimut Silla yang berpindah padanya, lalu membalas tatapan Silla, "Kenapa kamu memberikan selimut ini? Bukankah kamu lebih membutuhkannya saat tidur?"


"Aku melihat Om Rass sakit. Jadi aku berinisiatif melakukannya. Apa Om mimpi buruk?" Tanya Silla lagi.


Usai merasakan tenang, Rass pun mendudukkan diri di samping Silla, "Om tidak tahu mengapa kita di pertemukan? Tapi Om akan merasa bahagia jika Silla mau menikah dengan Om. Berjalan layaknya sepasang suami istri pada umumnya?" Rass berkata panjang lebar.


Silla hanya meneguk Salivanya berulang-ulang. Ia tak percaya jika dalam sekejap mata Rass mengatakan apa isi di dalam hatinya.


"Maaf Om, ini masih sulit untuk Silla. Jadi tolong jangan mengangap Silla ini dan itu. Silla hanya butuh waktu saja untuk menyesuaikan diri sama kehidupan Silla sekarang."


Rass tidak bisa memaksa kan kehendaknya. Memang itu ganjaran yang harus di terima gara-gara benih yang telah tumbuh di perut Silla, sekarang Ia harus ikhlas di abaikan sampai waktunya benar-benar telah berubah.

__ADS_1


"Baiklah, Om akan menunggu waktu itu, Sil."


Rass memutuskan kembali ke sofa untuk melanjutkan tidurnya. Begitu juga Silla yang hanyut dengan pemikirannya sendiri.


Ya Allah kenapa aku jadi penakut begini ya? Sampai kapan aku harus bersikap dingin terus menerus sama Om Rass...


Rass juga tak bisa tidur usai terbangun tadi. Karena Ia masih tak habis pikir. Pernikahah aneh apa yang sedang Ia jalani ini bersama perempuan tengil seperti Silla yang begitu ke kanak-kanakan.


*****


Keesokan harinya, Rass sudah bersiap lebih dulu. Karena hari ini mereka akan check out dari hotel itu.


"Om...!"


Silla belum menyadari kalau sudah tidur melebihi batas kewajaran hingga matahari sudah menunggu mereka keluar dari tempat tertutup.


"Om...!" Seloroh Silla saat melihat Rass ada di sofa berhadapan dengan makanan enak.

__ADS_1


__ADS_2