
"Benarkah, apa Bella pernah bilang seperti itu sama kamu?" Jonathan pura-pura penasaran. Meski Ia sudah merasakan perubahan sikap Bella yang berlebihan padanya sejak memutuskan ingin bercerai dengan Agung.
"Iya, dia baru saja menemuiku kemaren. Eh tapi Jo. Kamu diem-diem aja deh soal ini. Nanti Bella marah lo sama aku?" Pinta Nadya kemudian.
Jonathan menganggukkan kepala, "Kamu tenang saja, Nad. Aku tidak mungkin mempermasalahkannya dengan Bella," jawab Jonathan dengan senyum terkembang.
"Terus bagaimana dengan ijazah Bara, apa kamu tidak akan mengambilnya?" Mengingat Bara sudah tidak tahu. Jonathan pasti juga penasaran dengan hasilnya.
"Aku ambil kok, tapi Wali Bara yang WA tadi pagi. Mau antar kerumah nanti sore. Katanya dia pengen tahu dimana rumah Bara sebenarnya. Karena sebelum Bara pergi, Ia sangat dekat dengan walinya itu!"
"Oh... Begitu ya. Em, sebenarnya aku masih penasaran deh dengan perasaanmu pada Bella? Apa kamu tidak mencintainya?" Nadya melanjutkan cerita tentang sahabatnya itu yang sepertinya belum bersambung.
__ADS_1
Jonathan kembali menyunggingkan senyum. Jujur saja Ia hanya menganggap Bella sebagai sahabat, tak akan pernah bisa lebih dari itu. Tapi Jonathan akan mengatakan semuanya jika sudah tepat waktunya. Yang pasti bukan pada Nadya. Melainkan pada Bella.
"Kita sudah sampai, Nad. Semangat bekerja ya!"
Nadya pun turun dari mobil Jonathan yang sudah menepi di depan kamtornya lalu melambaikan tangan. Perempuan itu memang sosok pekerja keras dan sebagai Sahabat Jonathan sangat salut. Sempat terbersit di benak Jonathan yang menyayangkan tindakan Yudha karena sudah meninggalkan Wanita seperti Nadya.
Sesampainya di kantor, seperti biasa Ricky sudah menyambut Jonathan dengan hangat dan hormat.
"Pak, Pihak dari PT. Sentosa akan datang pukul sembilan tepat nanti. Apa ada sesuatu lagi yang harus kami persiapan?"
"Sudah Pak, saya menambahkan sedikit beberapa kalimat di ujung data dan grafik metode pemasaran yang akan kita tujukkan!" Jawab Ricky. Sambil terus mengikuti langkah Jonathan ke lantai atas.
__ADS_1
Jonathan percaya kan hal itu, dimana dia sudah di tunggu oleh Jessika di ruang pemotretan.
"Apa sudah ready?" Tanya Jonathan pada krunya yang di percaya mengendalikan pembuatan iklan agar terlihat semenarik mungkin untuk menggaet pembeli produk kecantikan yang sudah mulai beredar dipasaran.
Sejauh ini tidak ada yang komplain tentang penemuan efek samping dari pembuatan beberapa alat kecantikan yang mereka luncurkan karena terbuat dari bahan alami. Justru semua orang sangat suka karena bahannya yang wangi, halus dan bersih di kulit wajah.
"Ready, Pak. Semoga ini akan mendongkrak hasil penjualan tahun ini," jawab sekertaris Jonathan.
"Semoga saja, bukankah itu yang kita harapkan!" Jonathan memang merasakan kepuasan dengan penjualan paket produk kecantian yang sudah di pasarkan bulan ini. Delapan puluh persen orang sangat menyukainya. Selain membuat wajah kinclong dan bening. Harga persatuannya juga relatif terjangkau baik untuk kaum menengah atas maupun menengah bawah yang kini ingin mencobanya.
"Jes, apakah tidak ada baju selain itu?" Jonathan tidak menyukainya karena terlalu minim. Saat memantik tubuh Jessika.
__ADS_1
"Oh... Ada kok Pak. Hanya saja Nona Jessika memilih yang itu?"
"Baiklah, saya rasa kamu harus menggantinya sekarang?" Ujar Jonathan lagi. Sebab bukan tubuh Jessika yang akan di pasarkan melainkan kecantikan wajahnya.