Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 26 Cuek


__ADS_3

"Tapi Sil, cara berpikirmu itu tidak benar. Mereka tidak akan seburuk pemikiranmu sekarang!"


"Udah deh, Om. Jangan peduliin Silla. Toh seberapa besarnya Om berkorban buat Silla. Gak akan ngerubah apa pun karena Silla akan tetap benci sama Om."


Rass tidak akan memaksa, hanya saja Rass ingin memastikan kondisi Silla dan bayinya saat ini. Mengingat kehamilan Silla baru seumur jagung.


"Apa Om boleh tahu, Silla hamil berapa minggu sekarang?" Tanya Rass lagi. Mengingat kesalahan itu sudah lewat hampir dua bulan lamanya.


"Gak tahu, Om. Kan Silla gak pernah periksa!" Timpalnya masih dengan bersi keras sambil mengusap mulutnya sendiri dengan air.


"Ya udah Silla istirahat dulu ya, besok kita chek up ke Dokter!" Bujuk Rass lagi agar Silla mau ikut.


Karena kondisi Silla masih sangat lemas, Rass bermaksud untuk membantunya kembali ke kamar. tapi sayangnya, Silla tetap tidak mau menerima kebaikan Rass dan memilih berjalan sendiri.


Usai melihat Silla menyelimuti tubuhnya, Rass harus pasrah dengan kembali berbaring di sofa.


Malam itu drama pun berakhir, pagi-pagi sekaki Rass sudah turun dari lantai atas untuk memasak sesuatu buat Silla. Karena bagaimana pun juga, sebagai seorang duda. Rass di tuntut untuk bisa melakukan segala hal tanpa seorang wanita.

__ADS_1


"Nad, eh Ma!"


Rass bingung sendiri mau memanggil Nadya apa saat bertemu di dapur. Pasalnya sangat janggal jika Rass memanggil Mama pada sahabatnya itu yang mungkin sudah terjalin hampir 7 tahun.


"Terserah kamu mau memanggil apa, Rass. Apa Silla masih tidur?" Tanya Nadya. Datar saja.


Rass menganggukkan kepala, "Dia tertidur sangat malam. Pasti hal itu membuatnya masih mengantuk."


"Oh...!" Nadya hanya menimpali sepintas lalu membawa hasil masakannya ke meja. Melihat kesibukan Nadya, Rass segera membantunya.


"Siapa yang tak marah jika anak gadisnya di lecehkan, Rass. Tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya kamu mau bertanggung jawabkan? Tidak lari seperti orang gila?" Timpal Nadya, sedikit ketus.


"O ya aku tidak ikut sarapan karena harus masuk pagi. Tolong kamu urus Silla ya. Jangan lupa kunci pintu jika kamu dan Silla ingin pulang!" Pesan Nadya lagi, lalu berlalu masuk ke dalam kamar.


Rass bisa apa sekarang. Nadya juga berubah padanya tidak sumringah seperti hari-hari sebelumnya.


Rass memantik makanan yang sudah Nadya masak pagi-pagi sekali. Akan tetapi Rass tidak merasa lapar sama sekali.

__ADS_1


Selang beberapa waktu dalam lamunannya, Rass di kejutkan oleh suara Silla.


"Mama udah pergi, Om?"


Rass hanya mengangguk lemas. Entahlah Rass bingung mau bersikap seperti apa sekarang. Pasalnya Nadya dan Silla sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang ini Ia telah menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Om, kenapa tidak makan?" Tanya Silla lagi. Tapi Rass tahu, tak ada sedikit pun senyum yang berpijar di sudut bibir Silla.


"Makanlah, Om nanti saja."


Rass memilih sibuk dengan ponselnya karena pihak kantor sedang chat dia sekarang. Untuk menanyakan pembangunan proyek di daerah A.


Urus saja semuanya karena hari ini aku sedang sibuk...


Rass pengirim pesan balasan, setelah itu barulah Ia berlanjut ikut santap pagi.


"Habis ini kita pergi ke Dokter!" Rass tidak mau mendengar lagi ada penolakan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2