Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 20 Butuh alasan


__ADS_3

"Oh iya kebetulan ada barang baru import dari swiss Pak, dengan harga yang relatif terjangkau tapi sangat mewah dan elegan. Tentu saja anti karat dan juga air," ucap penjaga toko itu sembari memperlihat dua kota barang berkilauan di depan Jonathan.


Pria itu meraih jam perempuan yang memiliki lingkar seperti gelang itu untuk menjajalkannya ke lengan Miranda.


"Kamu suka yang gold atau yang silver?" Tanya Jonathan dengan senyum terkembang.


"Menurut Om, cocok yang mana?"Miranda memutar balikkan pertanyaan.


"Kita ambil yang silver aja, karena ini lebih cocok dengan kulitmu!"


Jonathan pun memesan satu set lalu membayar notanya dengan Jumlah yang cukup pastastis bagi Miranda yang tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Tapi semenjak bersama Jonathan Ia sering mendengar angka 50 Juta. Meski bukan berupa uang kes.


Jonathan dan Miranda berlanjut ke toko baju langganan keluarga. Dimana mereka juga memesan baju couple dengan warna senada.

__ADS_1


"Kenapa semuanya harus sama, Om?" Miranda tidak percaya Jonathan melakukan hal itu.


"Biar semua orang tahu kalau kamu adalah istri, Om!" Jawab Jonathan, simpel.


Miranda tersenyum lega. Mungkin cara Jonathan ingin go publik di depan semua orang dengan cara yang halus. Tidak melulu harus koar-koar dengan bahasa mulut


Setelah membeli beberapa hal yang di butuhkan, keduanya pun memutuskan pulang ke rumah. Miranda yang kelelahan langsung berbaring di ranjang.


Melihat dahi Miranda sedikit berkeringat, Jonathan pun mendudukkan diri di tepi ranjang lalu mengusapnya dengan sangat lembut, "Ayo mandi dulu, ini sudah jam empat sore lo!"


"Biar Om nyalain AC nya!" Jonathan hendak meraih remote kontrol tapi Miranda menahan lengannya.


"Om, haruskan setiap melakukan sesuatu Miranda harus menawarkan lebih dulu?"

__ADS_1


Pertanyaan Miranda membuat dahi Jonathan mengkerut, "Maksudnya?"


"Aku tahu kalau aku memang masih kecil, Om. Tapi kalau sudah menikah, aku memiliki kebutuhan juga sebagai istri. Haruskan aku menyembunyikan rasa maluku hanya untuk menggoda Om Jo?" Miranda menatap pria itu dengan seksama.


Bukan Jonathan tak paham, tapi Ia masih takut saja akan pesan Dokter waktu itu yang baru memperbolehkannya menyentuh Miranda beberapa bulan setelah paska keguguran. Sedang Jonathan sebenarnya sangat kepikiran karena sudah melanggarnya dengan melakukan hal itu pada Miranda waktu masih berjalan dua minggu.


Jonathan mengulaskan senyumnya, lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir Miranda. Perempuan tengil itu tidak tahu saja betapa sulitnya Jonathan mengendalikan diri saat mereka dalam keadaan bersama. Tapi mau bagaimana lagi. Jonathan hanya ingin yang terbaik untuk Miranda.


"Om, bukan apa-apa. Tapi rasanya pernikahan kita terasa hambar tanpa sebuah hubungan badan. Itu yang Miranda rasakan sekarang. Seolah Om Jo bukan suami Miranda saja," ucapnya dengan bibir mengerucut.


"Maafin Om ya, Mir. Om hanya takut saja kalau Miranda belum sembuh benar. Karena Om gak mau Miranda kenapa-napa jika kita memaksakan keinginan!" Jonathan harap Miranda mengerti maksudnya.


"Sekarang kan sudah hampir dua bulan ya, apa harus tepat banget dengan anjuran Dokter, ah sudahlah Miranda mau mandi saja lah!"

__ADS_1


Perempuan itu bangkit dari ranjang tapi Jonathan balas menahan lengannya lalu menarik tubuh Miranda dalam pangkuannya.


Entah memang karena kasihan atau karena sebenarnya Jonathan juga sudah tidak tahan lagi dengan kondisi ini. Ia pun menahan tengkuk Miranda dan menyambar bibir perempuan itu dengan lembut.


__ADS_2