Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 36 Bingung


__ADS_3

"Ya udah, kita bahas aja nanti. Udah jam tujuh lebih ni!" Ajak Jonathan kemudian sambil memantik arloji yang melingkar di lengan kirinya.


"Iya Om, terus saja begitu!"


Miranda kesal Jonathan tidak mau mengakuinya, tapi apa pun itu Miranda yakin kalau suaminya itu sangat menyayanginya.


Mobil keduanya pun melaju kesebuah restoran tak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Karena sebenarnya Jonathan hanya mengajak Miranda liburan di dekat rumah saja. Yang penting Miranda senang dan bahagia.


Setibanya di parkiran Mobil, Miranda dan Silla di pertemukan disana. Dua perempuan remaja itu saling berpelukan. Menurut banyak orang mereka lebih lebih pantas di sebut kembar tapi tak seiras jika sudah berdekatan seperti saat ini.

__ADS_1


"Rass, apa kabar?"


Jonathan dan Rass juga berpelukan, tapi sebentar saja. Pada dasarnya mereka sangat akrab sebelumnya, tapi sayangnya kesibukan telah memisahkan kedua duda tersebut. Nasib yang menyedihkan juga harus sama-sama mereka alami ketika di tinggal meninggal oleh istri mereka yang terdahulu.


"Aku kagum padamu, kau juga bisa kuat menduda sepertiku dalam waktu yang sangat lama. Beri tahu aku apa alasanmu, Rass?" Tanya Jonathan lirih, sedikit menyinggung ulang masa kelam yang mereka pernah lalui.


"Cinta Jo, tapi tetap saja hatiku rapuh karena pada kenyataanya aku sering gelap mata saat mengingatnya!"


"Kamu benar Rass, tapi yang menguatkan aku adalah Bara. Namun ternyata Bara lebih dulu menyusul Mamanya ke surga," pungkas Jonathan pula. Lalu beralih merangkul Miranda yang berdiri tepat di sampingnya, "Sebaiknya kita fokus saja dengan masa depan Rass. Anggap masa lalu adalah kertas usang yang hanya akan menjadi kenangan. Bukan untuk di jadikan batu sandung untuk menanamkan perasaan bersalah kita karena tak bisa bersama cinta masa lalu kita!"

__ADS_1


Rass menoleh kearah Silla yang hanya menundukkan kepala dalam kebisuan. Perempuan itu pasti masih sangat marah padanya. Gara-gara kesalahan satu malam. Silla harus membayar tetesan benih yang Ia tanam hingga tumbuh di rahim perempuan itu.


Melihat ke kakuan Silla dan Rass, Miranda pun menggandeng Silla.


"Sepertinya kamu harus membuka hati, Sil. Mungkin ini sudah jalan kita kan. Emang kamu gak tahu ya bagaimana kisah cinta aku dan Bara dulu tercipta. Kami saling mencintai, Sil. Tapi keadaan membuat keputusannya sendiri hingga kini aku menjadi istri Om Rass. Aneh memang, tapi tak apa lah. Toh setiap orang pasti punya masa lalu yang kelam kan?"


Jonathan tersenyum mendengar ucapan Miranda. Ia semakin yakin kalau sekarang ini Miranda benar-benar bisa bersikap bijak dalam menghadapi hidupnya. Meski sesekali Miranda seperti anak-anak remaja pada umumnya. Tentu itu hanya cara Miranda mendapat perhatiannya.


"Ayo masuk, kita nikmati saja acara kita!" Ajak Jonathan pada pasangan penganting baru itu.

__ADS_1


Silla dan Rass menguntit dari belakang. Ada perasaan bergejolak di dada Silla saat Miranda terlihat bahagia melingkarkan tangannya di pinggang Jonathan. Tapi dirinya bagaimana?


Silla kembali menoleh ke arah Rass yang juga diam saja. Entah apa yang ada di benak Rass sekarang ini, Silla sendiri tidak mengetahuinya. Hanya saja Silla memang belum bisa menerima kehadiran Rass sebagai seorang suami. Meski pria itu telah menunjukkan itikad baiknya dengan bersedia bertanggung jawab atas bayi yang di kandungnya sekarang.


__ADS_2