
Khawatir dengan kondisi Silla, Rass pun mengejar dan memijat tengkuk Silla tapi lagi-lagi gadis itu menolak kebaikan Rass.
"Jangan sentuh Silla!" Ucapnya dengan kasar. Rass sadar diri pasti Silla trauma dengan perlakuannya malam itu yang mungkin saja terus menghantui benak Silla.
Rass tidak ingat sekasar apa Ia menjarah tubuh Silla hingga gadis itu begitu marah dan kecewa padanya. Sampai di sentuh saja Silla menolak dengan kasar.
"Kita ke dokter saja ya, biar kita tahu kondisi kamu. Supaya tidak terus-terusan mual seperti ini?" Tawar Rass. Karena Silla nampak sangat pucat.
"Silla mau makan pangsit, Om," timpal Silla kemudian. Sejak kemaren Silla mau makan itu. Tapi Ia memendam keinginannya seorang diri.
"Biar Om pesan sebentar, kebetulan ada teman Om yang jual!"
Rass pun menghubungi seseorang dan memintanya mengantarkan ke rumah Silla.
Melihat Silla yang lemas, Rass berinisiatif menuntun Silla ke sofa agar gadis itu berbaring sebentar. Sepertinya Silla merasakan pusing. Sehingga gadis itu memejamkan mata sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Sil, Om harap kamu mau di periksa ya. Supaya kamu gak lemas seperti ini!"
"Gak Om, Silla malu. Mereka pasti ngatain Silla nanti!"
"Tidak Sil, Om janji mereka gak akan lakuin itu sama kamu. Abis makan nanti kita pergi ya!" Sebisa mungkin Rass bicara dengan lemah lembut.
Tak lama terdengar bel rumah berbunyi. Rass pun keluar dan menerima pangsit yang di pesannya tadi.
Rass pergi ke dapur dan memidahkannya ke dalam mangkuk lalu memberikannya pada Silla.
"Ayo dimakan dulu!" Rass membantu Silla untuk duduk.Gadis itu menurut dan memulai melahap makanan yang sejak beberapa hari ini di idamkannya.
"Om, makan juga deh!" Tawar Silla kemudian. Melepaskan sendok yang ada di tangannya.
"Kamu yakin Sil, Om boleh mencicipinya?" Rass khawatir Silla jijik nanti.
__ADS_1
Silla mengangguk dan membiarkan Rass mencicipi apa yang di makannya. Setelah itu Silla menghabiskan sisa dari makanan itu. Meski sedikit pedas. Sepertinya tak berarti apa-apa untuk Silla.
"Kurang gak? Masih ada satu bungkus di belakang?" Rass memastikan lagi.
"Nanti aja Om, Silla mau ganti baju dulu sebentar!"
Gadis itu pun berjalan menuju ke kamar atas. Sedang Rass hanya mengekor dengan tatapan. Jika boleh memilih, tentu Rass juga akan berpikir ulang untuk menikahi gadis yang masih belia seperti Silla. Tapi mau bagaimana lagi kejadian itu terjadi begitu saja tanpa di sadarinya. Hingga Ia melakukan kesalahan besar dengan menyentuh Silla dalam ketidak sadarannya.
"Aku janji Nad, aku tidak akan membiarkan Silla menderita karena dosaku," gumam Rass seorang diri.
Silla telah melupakan sejenak keluh kesahnya dan turun kembali menemui Rass, usai mengganti pakaian seragamnya SMAnya.
"Om, apa Mama akan marah saat tahu Silla sedang hamil?" Tanya Silla lagi.
"Apa Sil?" Sahut Nadya tak percaya. Entah sejak kapan perempuan itu sudah pulang dan sudah berdiri di belakang mereka. Baik Silla maupun Rass sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Nad, kok sudah pulang?" Rass berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Rass. Benar Silla sedang hamil sekarang? Sama siapa?" Nadya menatap dengan sangat marah. Bagaimana mungkin putri yang di jaganya dengan sangat baik itu bisa hamil di luar nikah seperti ini.