Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 6 Aneh


__ADS_3

"Aduh, sakit!" Silla merintih dan belum menyadari Rass ada di sana.


Pria itu sebenarnya masih sangatlah bingung dengan situasi. Apa yang harus di lakukannya sekarang. Mendapati Silla rusak karena kebejatanya.


"Silla, apa Om_?" Rass tak mampu melanjutkan pertanyaannya karena itu terlalu menjijikan untuk Rass.


"Kenapa Om tega? Apa salah Silla sama Om?" Gadis itu menatap dengan menyiratkan amarah. Sedangkan kedua bola matanya mulai mengembun dan akhirnya luruh. Ia telah menjadi wanita yang hina sekarang. Padahal Nadya selalu mewanti-wanti agar Silla bisa menjaga dirinya dari pergaulan bebas.


"Maafkan Om, Silla. Om tidak menyadarinya!" Rass mengakui kesalahan itu karena Ia memang sering mabuk saat malam hari.


"Bagaimana kalau nanti Mama tahu, Om? Dia pasti akan sangat marah dan sedih dengan hal ini?" Silla tak tahu harus apa sekarang. Niat ingin sekolah pun menjadi batal.


"Nanti aku akan menginap dirumah sahabatku saja. Karena disana lebih aman dari pada disini!" Sambung Silla kemudian.


Rass tidak setuju, "Jangan Sil_?"

__ADS_1


"Bukan urusan, Om. Lagian Om tidak tidak bisa menjagaku dengan baik. Mama tidak akan marah kok. Karena aku akan bilang padanya kalau aku telah di jaga oleh Om!"


Silla memutuskan beranjak dari ranjang dengan melilitkan selimutnya ke tubuh untuk menyiram sisa sentuhan penuh dosa itu. Silla tidak akan pernah bisa melupakan kejadian na'as yang telah menimpanya.


Hari itu Rass tak bisa lagi mencegah Silla untuk tetap tinggal. Karena Silla lebih memilih pergi menemui sahabatnya.


"Biar Om, antar ya. Bagaimana pun juga kan, Mamamu sudah mempercayakan kamu disini?"


"Makasih, Om.Tak perlu khawatirkan Silla karena sekarang ini kan Silla sudah besar. Bukan anak kecil lagi yang harus di kawal," tolaknya dengan mentah-mentah.


"Makasih, Om. Sudah menghancurkan hidup Silla dalam semalam. Silla janji tidak akan mau merepotkan Om lagi."


Kalimat terakhir gadis itu bagai cambuk yang menghantam kuat di dada Rass dan itu membuatnya menganggap kalau Silla telah menjadi tanggung jawabnya mulai sekarang.


Beberapa bulan sejak kejadian itu, hubungan Rass dan Silla yang terbilang akrab layaknya Ayah dan anak itu benar-benar telah merenggang dan hal itu tentu menjadi pemandangan aneh bagi Nadya.

__ADS_1


Biasanya Silla akan sibuk menyambut di depan pintu saat Rass berkunjung kerumahnya. Tapi itu tak terlihat lagi sepulangnya Nadya dari luar kota. Dimana Silla lebih memilih masuk ke kamar jika Rass datang kesana hanya untuk melihat keadaanya. Rass tidak ingin Silla menjadi depresi juga seperti dirinya. Sebab Rass takut kejadian itu bisa merusak cara berpikir atau pun tingkah Silla karena rasa trauma.


"Sil, Om datang bawa ini!" Nadya membawa sekotak Cokelat dari Rass karena itu kesukaan Silla.


"Letakin di situ saja Ma, nanti Silla makan," Jawabnya dengan dingin.


"Sil, ada masalah apa? Mama merasa sikapmu sudah berubah sejak Mama tinggal keluar kota?"


"Kalau begitu berhenti ninggalin Silla sendiri, Ma. Silla gak suka tinggal di tempat orang lain yang terasa asing bagi Silla," jawabnya dengan suara yang keras.


"Silla! Sejak kapan kamu bicara dengan nada seperti itu sama Mama, Nak?" Nadya benar-benar tak habis pikir.


Hoek!


Tiba-tiba saja Silla mual dan buru-buru berlari ke kamar mandi sehingga hal itu semakin mengkhawatirkan bagi Nadya. Sudah beberapa hari terakhir Silla memang sering jatuh sakit namun Ia menolak untuk di ajak periksa ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2