Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 25 Marah


__ADS_3

Suasana mulai terasa hening, tapi tangis Silla belum juga surut. Jujur saja hatinya masih belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang ini Ia telah menjadi istri seorang pria dewasa yang telah lama menduda.


Gara-gara benih semalam itu telah menghancurkan hidup Silla. Dimana dia harus pasrah kehilangan masa remajanya.


Higs...!


Melihat Silla terpuruk karena ulahnya, Rass sangat menyesal. Kenapa dia melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi. Sekarang Ia harus bisa mengendalikan diri untuk meyakinkan Silla kalau pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang buruk sehingga harus di tangisi sampai berlarut-larut.


Dengan kehati-hatian, Rass pun duduk di tepi ranjang. Membiarkan gadis yang baru dinikahinya itu memunggunginya, "Sil, tolong maafin Om. Ini sudah terlanjur terjadi. Menangis pun tentu tidak ada gunanya lagi. Please, kamu terima Om sebagai suami kamu dan bayi itu sebagai anak kita. Om mohon Sil, berhenti lah menangis. Karena Om gak mau kamu sedih!"


"Ini semua salah, Om. Kenapa sih Om tega banget ngehamilin Silla?" Timpalnya tanpa mau menoleh.


"Om sudah bilangkan? Om Khilaf Sil. Om bahkan gak ingat apa yang sudah Om lakuin sama kamu?"


"Om memaksa Silla saat itu. Tubuh Silla sakit semua karena Om sangat kasar!"

__ADS_1


Ucapan yang di lontarkannya sendiri membuat tangis Silla kian deras.


Rass terdiam, Ia berusaha memikirkan segalanya dengan tenang. Mengingat-ngingat apa saja yang di lakukannya pada malam na'as itu hingga Silla benar-benar trauma karenanya.


"Terlepas dari kebinalan, Om. Sekali lagi Om minta maaf, Sil. Om benar-benar tidak menyadarinya!" Ulang Rass lagi menanti agar Silla mau mengerti.


"Om gak tahu kan? Setakut apa Silla karena ulah, Om!" Kali ini Silla mendudukkan diri dan menatap bola mata Rass dengan berani.


"Apa Om tahu, kalau Silla ini lebih layak jadi putri, Om sendiri. Tapi Silla harus menikah dengan pria dewasa yang sudah duda seperti Om!" Sambung Silla lagi belum puas.


"Sil...!"


"Om tidur di sofa saja. Silla gak mau tidur sama Om!"


Rass mencoba menghela nafasnya dalam-dalam berharap bisa sabar atas kebencian Silla terhadapnya.

__ADS_1


"Baiklah, Sil. Tapi Om janji akan menjalankan kewajiban Om padamu!"


"Terserah!" Silla gak mau tahu dan kembali berbaring. Membiarkan Rass beralih ke sofa tanpa di beri selimut.


Rass sadar kesalahannya tidak pantas di maafkan. Tapi Ia juga tidak bisa mangkir kalau kenyataannya harus seperti itu.


Ya Allah, kenapa aku harus membuat bocah itu menderita karena kerinduanku pada Kirana. Sekarang dia harus mengandung di usianya yang masih labil. Dulu aku juga menikahi Kirana saat kami masih remaja. Tapi kala itu kami benar-benar telah siap. Berbeda dengan Silla yang belum bisa menerima semua ini. Apa aku melakukan hal yang sangat fatal malam itu. Hingga Silla sangat sulit melupakannya?...


Rass kembali terkejut saat melihat Silla mual lagi hingga memburu ke wastafel lalu muntah-muntah.


Khawatir dengan kondisi Silla, Rass menguntit di belakang perempuan itu.


"Sil, apa perutmu sakit?"


"Jangan sentuh Silla, Om. Tiap kali Om mendekat, Silla makin mual dengan aroma keringat Om!" Usir Silla lagi.

__ADS_1


"Tapi Sil, kita ke dokter ya!"


"Gak mau, Om. Silla harap tidak akan banyak orang yang tahu tentang kehamilan Silla ini."


__ADS_2