Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 47 Anugerah


__ADS_3

Malam hari kembali menyambut gelapnya, Rass masih tahu diri hingga dia tak ingin mengganggu Silla dengan tidur di ranjang yang sama.


Melihat Rass menuju ke kursi, Silla jadi merasa sangat bersalah. Lama dalam kebingungan untuk mengajak tidur bersama, Silla pun teringat dengan lingerie yang di belinya bersama Miranda siang tadi.


Silla segera beringsut dari ranjang dan membuka ulang paper bag satunya. Meski ada rasa ragu, malu dan takut Rass tidak suka. Silla nekat masuk ke kamar dan menggantinya.


Selesai dengan lingerie merah menyala yang melekat indah di tubuhnya, Silla melangkah dengan hati-hati mendekati Rass yang sudah berbaring sambil memejamkan matanya dengan tangan bersedekap. Tapi Silla sangat yakin kalau sebenarnya Rass belum terlelap.


"Om...!" Bisiknya lirih.


Benar dugaan Silla kalau Rass langsung membuka matanya yang terbelalak dengan penampilan Silla sekarang.


"Silla...?" Ucapnya spontan, lekas mendudukkan diri dan kembali mengamati penampilan Silla yang anggun dari pucuk kepala sampai mata kaki. Rass tidak percaya melihat itu. Dimana Silla dengan berani memakai pakaian setipis dan seseksi itu di depan bola matanya sampai untuk berkata-kata saja Rass kesulitan.

__ADS_1


"Apakah Om mau tidur seranjang sama Silla?" Tanyanya sedikit malu-malu. Berharap Rass tidak akan menolaknya.


"Apakah kamu yakin, Sil? Om tidak sedang bermimpi kan?" Tentu saja sulit bagi Rass untuk mempercayai kejadian yang terasa sangat tidak mungkin itu kini dapat Ia nikmati di depan matanya.


Silla kembali tersenyum, "Kenapa? Apa Om tidak mau?" Silla cemberut lalu memalingkan wajahnya.


Tak ingin istrinya berubah pikiran, Rass langsung berdiri dan menghadang langkah Silla, "Bukan begitu sih, maksudku. Apa Silla ingin kita melakukan sesuatu seperti suami istri umumnya?" Tanya Rass penuh keraguan.


Silla mengangguk, "Aku kan emang istri, Om. Jadi sudah seharusnya aku melakukan hal itu sejak malam pertama kita."


Replek, Rass mencekal kedua pundak Silla dengan sejuta senyum dan kelembutan hatinya, "Makasih ya, Sil. Om tidak tahu harus berkata apa untuk ini. Om tidak percaya Silla mau menerima kehadiran Om menjadi Ayah dari anak yang Silla kandung seutuhnya!"


Silla dapat merasakan kalau tangan Rass beralih mengusap lembut perut itu dengan sentuhan yang begitu mendamaikan.

__ADS_1


"Om...!"


Silla mengajaknya untuk segera pergi ke ranjang. Karena malam ini memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Rass yang mengerti pun langsung membopong bobot tubuh Silla lalu menciumi wajah perempuan itu dengan sejuta kasih sayangnya.


Tidak ada yang tahu, sudah adakah cinta diantara mereka.Tapi yang pasti saling menerima adalah hal yang utama bagi mereka.


"Sil, Om berjanji akan berusaha membahagiakan Silla untuk menebus semua kesalahan Om!" Ucap Rass di sela-sela kesibukannya memuja tubuh wanita yang kini telah bersedia menyerahkan seluruh hidupnya itu.


"Iya, Om. Silla tahu Om sangat baik. Meski awalnya Silla mengira kalau Om menyukai Mama Nadya dan bakal jadi Ayah sambung Silla."


"O ya? Jadi kamu sempat berpikiran begitu?"

__ADS_1


"Iya Om, walaupun Silla sangat cemburu saat Om dan Mama bertukar ciuman pipi dan Silla tidak mendapatkannya dari Om."


__ADS_2