Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 56 Rencana


__ADS_3

"Kata siapa, Ma? Aku dan Om Jo udah baikkan kok."


Silla memperlihatkannya dengan cara memeluk pinggang Rass di depan Nadya.


"O ya? Tapi kok masih manggil Om sih gak romantis banget?" Goda Nadya sambil tersenyum kearah suami barunya.


Silla mengerucutkan bibir, bingung. Bagaimana mau merubah panggilan sedang sebutan itu sudah biasa Silla pakai untuk memanggil Rass.


"Harusnya aku manggil apa, Ma?" Tanya Silla kemudian.


"Kan bisa panggil Mas, Sayang, atau yang lainnya Sil, iyakan Mas?" Tukas Nadya lagi pada pria disampingnya.


"Benar itu, Nak. Apa sekarang Papa juga bisa mendengar Putri Papa ini supaya mau memanggil Papa dengan sebutan Papa juga?" Tanya Heru yang sejak dulunya itu sudah menjadi Bos Mamanya Nadya.


"Of course, tolong bahagiakan Mama Silla ya, Pa."


Silla pun memeluk pria yang kini menjadi Ayah sambungnya itu. Kebahagiaan akhirnya meliputi keluarga kecil Silla meski Ia harus ikhlas melihat Nadya dan Yudha tak akan pernah bisa bersama lagi.


"Rass...!" Nadya beralih ke arah sahabat yang kini menjadi menantunya itu.


"Iya Nad, eh Mama maksudku." Rass jadi serba salah mau memanggil Nadya apa sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu memang harus memanggil aku Mama, Rass. Terlepas dulunya kita adalah sahabat karib tapi tetap saja sekarang kamu sudah menjadi menantuku. Jadi berjanjilah kamu akan menjaga dan membimbing Silla sebaik mungkin."


"InsyaAllah, Ma. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan Silla dan calon anak kami."


Nadya pun mengangguk dan melepaskan Rass dan Silla yang akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Mereka berencana akan mengunjungi Yudha di rumah sakit untuk melihat kondisi Mama tirinya yang di kabarkan tengah di rawat.


"Pa, bagaimana kondisi Tante Delia?"


"Cuma lemes aja kok, Sil. Itu karena HBnya turun," jawab Yudha. Saat keduanya menyambangi dimana tempat Delia sedang di rawat.


"Sil, udah lama ya kita gak ketemu? Gimana kabar kamu, Sayang?" Tanya Delia dengan suaranya yang lemah lembut.


"Baik Tante, O ya berarti kita nanti bakal lahir barengan ya Tante."


Tapi suatu keajaiban terjadi, Delia tiba-tiba mau pingsan dan Yudha tak punya pilihan lain lagi selain membawanya kerumah sakit dan alhamdulilahnya Delia telah dinyatakan hamil.


Melihat keakraban Delia dan Silla. Bola mata Yudha menjadi terbuka. Dia harus bersyukur dengan apa yang dia punya sekarang karena itu sudah menjadi bagian dari pilihan hidupnya sendiri.


Yudha juga sudah tahu dari Silla kalau Nadya menikah dengan Bos itu dalam keadaan duda. Jadi tidak ada apu pun lagi yang harus di permasalahankan oleh mereka.


*****

__ADS_1


Saat itu Jonathan berpamitan keluar sebentar pada Miranda karena ada urusan kantor yang tidak bisa di pending. Jadi rencananya Miranda akan menyusul Jonathan kesana. Ia mau membelikan makanan kesukaan Jonathan.


Rencananya usai pulang dari kantor keduanya akan langsung berkunjung kerumah orang tua Miranda. Jadi mereka bisa berangkat dari kantor saja nanti.


"Om pasti seneng banget deh aku bawain nasi padang. Pokoknya aku harus belajar memasak sama Ibu saat ketemu. Biar aku bisa masak buat Om Jo."


Tak terasa taksi yang memberi tumpangan pada Miranda berhenti tepat di seberang gerbang kantor Jonathan.


Kebetulan saat itu, Jonathan sudah selesai dari pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.


"Om...!" Teriak Miranda dari seberang jalan tempatnya turun tadi.


Jonathan yang mendengar pun langsung menoleh, "Mir, tunggu saja di situ gak usah nyebrang," timpal Jonathan balik karena kendaraan cukup ramai. Tapi Miranda mengacuhkan teriaka suaminya tanpa Ia sadari kalau sebuah mobil yang di kemudikan Bella sejak tadi tengah mengincarnya. Bella sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tentu saja berniat ingin menghabisi nyawa Miranda.


"Matilah kamu bocah tengil, beraninya kamu merebut cinta Jonathan untukku!" Gumam Bella dengan tatapan dan senyum yang bengis.


Jonathan yang melihat kejanggalan dari sebuah mobil yang melaju searah dengan posisi Miranda karena hampir dekat membuat Johathan sangat terkejut.


"Sayang, Minggir!"


"Awas Mbak?" Kebetulan posisi sekertaris Jonathan yang saat itu baru kembali dari membeli makanan langsung berlari mendorong Miranda ke badan jalan hingga keduanya terjatuh bersamaan.

__ADS_1


"Aduh...!" Miranda merintih merasakan kalau perutnya amatlah sakit. Mungkin terduduk cukup kuat meski menimpa tubuh sekertaris Papanya itu.


__ADS_2