
"Tante, cukup Tante. Kamu bisa membuat aku terjatuh!" Protes Miranda hingga Ia hilang keseimbangan. Beruntung Jonathan cepat datang dan menahan bobot tubuh Miranda yang masih ingin di dorong oleh Bella.
"Bella, apa-apain sih kamu? Kenapa mendorong Miranda begitu?" Tegur Jonathan dengan tatapan sarkasnya.
"Pokoknya kamu harus ceraiin Miranda, Jo. Aku mau menikah sama kamu. Mana balas budi yang kamu berikan atau kebaikan yang ku selama ini padamu?" Bella menagih apa yang tidak pernah di minta oleh Jonathan sambil menarik-narik lengan Jonathan agar terlepas dari posisi memeluk Miranda.
Tak ingin Bella hilang arah, Jonathan langsung menghempaskan tangan sahabatnya itu, "Cukup Bel, kamu sudah kelewatan kali ini. Apa pantas kamu bersikap seperti orang yang terobsesi seperti sekarang?"
Bella tiba-tiba menangis seperti anak kecil. Entah masalah apa yang sudah di laluinya hingga Ia bersikap seperti itu, "Higs... Kamu jahat Jo, kenapa kamu gak pernah peka sama perasaan aku sama kamu. Segalanya sudah aku lakukan. Tapi tak ada sedikit pun empati kamu terhadapku?"
Jonathan yang merasa sudah menjadi sahabat sewajarnya pada Bella mengelak tuduhan itu, "Aku tidak menyangka kamu punya sifat seperti ini, Bel. Awalnya aku mengenal baik dirimu itu. Tapi hari ini aku kecewa melihat tingkah lakunya. Jadi tolong Bel, jangan pernah datang kesini lagi karena aku gak mau punya sahabat sepertimu!"
"Apa! Gak bisa gitu dong, Jo. Aku itu cinta mati sama kamu. Masak kamu usir aku. Ini pasti gara-gara dia kan? Dia yang sudah merusak kebahagiaanku!" Tuding Bella kearah Miranda yang ketakutan melihat cara Bella.
Bahkan Bella masih saja nekat mendorong-dorong Miranda saat ada Jonathan.
"Dasar pelakor, ngapain sih kamu harus dateng disaat aku hampir mendapatkan Jo? Apa kamu gak malu punya suami yang jauh lebih dewasa di banding kamu?"
"Hentikan Bel, kamu bisa membuat Miranda tertekan karena ulahmu!" Bentak Jonathan kelewat jengahnya. Tak percaya jika Bella masih bersi keras ingin mengasari Miranda.
__ADS_1
"Astaga, Bella!" Teriak Agung. Yang ternyata menyusul Bella dan menahan tangan istrinya itu karena hampir memukul Miranda. Tentu sulit untuk Jonathan menghalangi aksi Bella karena posisinya di belakang Miranda.
"Jangan Bel, kamu sudah gak waras ya? Ngapain ganggu Jonathan sama istrinya ha?"
"Lepas Mas, aku mau cakar-cakar muka perempuan itu. Kamu gak usah ikut campur!"
"Cukup Bel, aku ini masih sah menjadi suaminmu, jadi jangan membuat aku marah atas sikap keras kepalamu ini."
"Kita akan bercerai, Mas. Karena aku hanya mencintai Jonathan."
"Tidak, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Jadi kamu tidak bisa bersama Jonathan."
"Iya Bel, sadarlah. Ini salah. Seharusnya kamu beruntung memiliki suami sehebat Agung. Meski dia tahu kamu mencintai lelaki lain tapi dia tetap ingin mempertahankan pernikahan kalian. Percayalah, kamu tidak benar-benar mencintai aku, Bel. Aku yakin kamu hanya terobsesi karena persahabatan kita berjalan baik selama ini. Jadi tolong jangan rusak hal itu dengan keegoisanmu," tukas Jonathan lagi pada Bella.
"Jadi hanya karena itu, makannya kamu minta cerai dari Agung?" Cecar Jonathan lagi.
Bella mengangguk membenarkan.
"Astaga, Bel. Jadi kamu berbohong sama aku soal Agung makannya aku jadi empaty sama kamu. Kalau cuma ini masalahnya kalian harusnya mencari solusi dengan membicarakannya baik-baik," imbuh Jonathan lagi bermaksud menasehati.
__ADS_1
Agung sadar, Ia memang tak seromantis lelaki lain itu sebabnya Ia tak bisa membahagiakan Bella seperti maunya.
"Makasih atas saranmu, Jo. Aku akan memperbaiki semua kekuranganku selama ini sama Bella. Karena aku memang tidak peka terhadapnya."
"Iya, Gung. Itu memang sudah menjadi tugasmu sebagai suami."
"Kalau begitu kami pamit ya, kami akan pindah ke Singapura dan menetap disana. Jadi Bella tidak akan bisa mengganggu kalian lagi. Aku pun akan belajar menjadi suami yang seperti Bella inginkan. Supaya keluarga kami tidak jadi bercerai," tukas Agung lagi sembari bersalaman dengan Jonathan.
"Semoga kamu dan Bella bahagia, Gung."
"Terima kasih, Jo."
Agung merangkul Bella meninggalkan pelataran rumah Jonathan. Niat Agung untuk membawa Bella tinggal di luar negeri tentu salah satu usahanya untuk mempetahankan pernikahan mereka. Jonathan hanya bisa mendoakan agar Bella mau membuka diri untuk menerima Agung apa adanya.
"Kamu gak papa kan, Sayang?" Jonathan fokus kearah Miranda.
"Gak papa, Kak. Makasih ya untuk semuanya."
"Loh, kok jadi Kakak?" Seloroh Jonathan dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Iya hehehe... Setelah aku pikir-pikir panggilan itu jauh lebih tepat untuk kita, Kak. Jadi standar umur juga kalau di dengar orang."
Saking gemasnya Jonathan mencubit hidung Miranda, "Dasar kamu, tapi terserah saja lah apa maumu. Yang pasti Aku sangat bahagia dengan semua ini. Tinggal nunggu dedek launching ke dunia."