
"Memangnya Mama kenapa, Om?" Miranda ikut panik melihat Jonathan nampak gusar.
"Mama sakit Mir, Beliau baru saja terpeleset di kamar mandi."
Jonathan pun kembali membuka koper yang di bawanya dari hotel tadi untuk mengeluarkan pakaian kotor dan menggantinya dengan yang bersih.
Tentu saja Miranda langsung membantu memilih bajunya sendiri dan baju yang akan di pakai Jonathan.
"Semoga saja Mama gak papa ya, Om."
"Iya Mir, aku takut terjadi apa-apa. Pasalnya Bara juga belum lama ninggalin kita."
"Iya Om."
Rampung menata seluruh pakaian. Keduanya pun buru-buru keluar lagi dari rumah mereka menuju ke jokja. Bahkan keduanya lupa untuk mengisi perut hingga mereka tiba dirumah sakit dimana Mama Mutia di rawat.
__ADS_1
"Mama, apa yang terjadi Ma? Kenapa bisa Mama sampai terpeleset, ha?" Cecar Jonathan pada perempuan paruh baya yang kini tengah di pasangkan alat bantu pernafasan itu dengan tubuh tergeletak lemas di atas brankar.
"Jo, Mama minta maaf ya sudah merepotkan kalian untuk jauh-jauh datang ke jokja. Tapi Mama cuma mau pesan. Supaya kalau Mama meninggal nanti. Kuburkan Mama dekat dengan Papa, Bara dan Meilinda di Jakarta ya," pinta Mama Mutia dengan suara berat dan sedikit tersendat-sendat.
"Ngapain Mama bicara begitu? Mama bakal sembuh kok. Jonathan akan lakukan apa pun untuk Mama. Yang penting Mama bisa bertahan untuk Jo. Please Ma, Jo sudah kehilangan segalanya. Cuma Mama dan Miranda yang Jo punya sekarang!"
"Maafkan Mama, Jo. Kamu harus berubah ya. Rubah sifat burukmu saat bersama Meilinda dulu. Mama baru sadar sekarang, kalau apa yang terjadi selama ini sudah kehendak Allah. Miranda tidak di takdirkan menjadi cucu Mama tapi menjadi menantu Mama," ucap Mama Mutia lagi sembari ingin menggapai tangan Miranda namun untuk bergerak saja Mama Mutia kesulitan.
Miranda yang menggerti pun langsung menggenggam tangan Mama mertuanya itu dan menciumnya cukup lama.
Memang benar, selama ini mereka selalu saja bersi tegang. Itu sebabnya Miranda jadi merasa bersalah akan semua kesalahannya.
"Tidak Mir, Mama yang salah. Belum bisa menerima kenyataan. Bahwa takdir tidak akan bisa di hentikan. Jadi mulai sekarang hiburlah Jo di setiap harinya. Karena dia butuh orang yang ceria sepertimu."
Miranda menganggukkan kepalanya mengerti. Miranda memang sudah berniat dalam hati. Kalau dia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik sesuai keinginan Mama Mutia. Tak perduli jika sebenarnya Jo tidak menginginkan Ia pandai memasak. Tapi setidaknya Miranda ingin melakukan apa pun untuk membahagiakan Jonathan.
__ADS_1
"Berbahagialah Nak, Mama yakin kalau kalian akan bahagia dengan calon cucu Mama," tukas Mama Mutia lagi di akhir kalimatnya hingga akhirnya Mama Mutia menghembuskan nafas terakhir.
"Mama...!"
Jonathan terkejut melihat kedua manik mata Mamanya tiba-tiba terpejam sangat rapat. Bahkan Mama Mutia tak lagi mau membuka matanya saat Jonathan menggoyang-goyang tubuh wanita itu.
"Biar aku panggil Dokter, Om!"
Miranda berlarian keluar untuk mencari Dokter yang bertugas sambil berteriak-teriak tidak jelas.
"Dokter, tolong Dokter, Mama saya tiba-tiba tertidur dan tidak mau bangun lagi Dokter!"
"Baiklah, biar kami periksa dulu."
Kedunya pun bergegas ke ruang ICU dimana Mama Mutia di rawat dan benar saja Dokter tak lagi bisa berbuat apa-apa karena Mama Mutia sudah tidak ada. Meskipun usaha di lakukam dengan metode alat pemacu jantung, namun hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali.
__ADS_1