Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 30 Menolak


__ADS_3

"Baik Dok, saya akan usahakan untuk terus mengingat saran Dokter!" Timpal Rass, penuh semangat.


Hari itu semuanya telah berjalan dengan lancar, hasil pemeriksaan ke dokter juga tak seburuk kelihatannya. Jadi Silla lupakan rasa malunya sampai mereka meninggalkan rumah sakit.


Tak mudah bagi Silla untuk memulai berbicara seperti sebelum Rass melakukan kesalahan. Tapi sebagai seorang laki-laki Rass harus bisa menyesuaikan dirinya dengan memberikan sedikit perhatian pada Silla.


"Sil, itu ada tukang batagor mau gak?"


Sesuai dugaan Rass, Silla menggelengkan kepalanya. Karena membujuk Silla untuk ceria lagi tentu tak semudah semudah membalikkan telapak tangan.


Rass pun memutuskan tetap melajukan mobilnya hingga sampai di rumahnya. Rass tidak akan mau memaksa jika memang Silla masih bersikap dingin padanya.


Sejenak bola mata Silla bergerilya mengamati bangunan megah di hadapannya. Tak percaya saja rasanya jika itu adalah rumah milik Rass.


"Bi... Mang Toga kemana?" Tanya Rass pada seorang perempuan berhijab asal yang masih menyapu di tepi kolam.


"Eh.. Den Rass!" Bi Surti segera berlari mendekat dan melihat ada pegangan koper di tangan majikannya itu, "Sini Den, biar Bibi yang bawa!"

__ADS_1


"Gak usah Bi, biar Rass aja sendiri," tolak Rass kemudian. Mengingat Bi Surti sudah tak muda lagi. Jadi Rass beranggapan kalau tenaga Bi Surti tentu tak akan mungkin segagah dulu.


"Baik Den, Apa Aden dan Non Silla mau makan? Biar bibi siapkan sekarang?" Tanya Bi Surti lahgi mau tahu,


"Owh, gak usah Bi. Silla udah sarapan kok tadi!" Tolak Silla. Secara halus.


"Iya Bi, nanti aja ya kami masih kenyang." Sebisa mungkin Rass ikut menambahi.


"Baik Den, kalau begitu Bibi kebelakang dulu ya masih banyak kerjaan!"


"Apa sebaiknya Silla tidur aja ya di kamar kemaren?" Ucap Silla mencelos. Membuat Rass sedikit kecewa.


"Kamu tenang saja, Sil. Om gak akan ngapa-ngapain kamu kok. Kamar ini tentu akan lebih nyaman untukmu di banding kamar lainnya."


Rass beralih menepikan koper Silla ke dekat almari dan membiarkan Silla melepaskan sedikit rasa lelahnya dengan berbaring.


"Om mau kemana?" Tanya Silla. Ketika Rass hendak keluar.

__ADS_1


"Ada di ruang sebelah Sil, kamu bisa panggil Om jika nanti kamu membutuhkan sesuatu!" Jawab Rass.


Begitu bijaksana dan tegarnya pria itu dalam berucap pada perempuan selabil Silla.


Jauh di tempat yang berbeda, Kini pasangan beda usia lainnya, Jonathan dan Miranda benar-benar telah pergi ke pantai. Mereka menikmati segala keindahan yang kini terhampar luas di depan mereka. Tapi airnya yang sangat tinggi membuat para pengunjung harus ekstra hati-hati.


"Mir, jangan ke tengah ya. Takutnya keseret arus nanti!" Teriak Jobathan saat melihat Miranda ada di bibir laut.


"Iya, Om. Gak usah khawatir. Miranda cuma di pinggir kok!"


Perempuan itu terus bermain pasir, tak peduli kalau sesekali ada hempasan air Laut yang cukup besar tiba-tiba menghantam tubuhnya. Tak ingin membantah apa pun pesan Johathan tadi. Miranda pun beranjak.


'"Aduh, Om. Kaki Miranda sakit banget ni!" Pekiknya karena kaki perempuan itu terasa keram.


Jonathan yang tak jauh dari tempat Miranda berdiri pun buru-buru mendekat lalu menggendong tubuh Mungil Miranda dan mendaratkannya di kursi dengan tatapan sangat khawatir.


"Kamu gak papa kan, Mir?"

__ADS_1


__ADS_2