Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 9 Ternyata Mimpi


__ADS_3

"Wah, asyik ni Om Jo ngajak bulan madu!"


Celoteh Miranda tidak sadar. Rupanya Ia sedang bermimpi saat ketiduran di sofa ruang tamu dimana Jonathan yang ternyata baru saja pulang tak sengaja mendengar hal itu.


Sesaat otak Jonathan mulai bekerja. Ternyata Miranda punya keinginan untuk menikmati rasanya bulan madu. Namun sayang sejak Bara meninggal, Jonathan lebih fokus untuk bekerja sehingga lebih sering meninggalkan Miranda seorang diri dirumah. Sedang Mama Mutia memilih pulang ke jokja. Katanya Ia akan terus teringat dengan Bara jika masih tetap tinggal di rumah Jonathan.


"Mir, bangunlah!" Jonathan menyentuh pundak Miranda dengan sangat hati-hati.


"Eh, tempeku?" Teriak Miranda setengah sadar. Ia langsung terduduk dalam keadaan setengah sadar.


"Tempe?" Jonathan mengerutkan dahinya bingung, "Memangnya kenapa dengan tempe?"


"Loh bukannya Miranda tadi masih masak ya terus Mama Mutia marah-marah karena tempenya gosong," jawab Miranda masih linglung. Hingga Ia baru ingat kalau ternyata Mama Mutia sudah tak ada lagi di rumah mereka.

__ADS_1


Karena tak enak hati seolah menyudutkan Mama Mutia, Miranda pun nyengir kearah Jonathan, "Maaf Om, sepertinya Miranda mimpi deh. Kan Mama Mutia sudah pulang!"


"Gak papa, lupain aja hal itu. Sebaiknya kamu mandi sekarang!" Jonathan pun berlalu pergi mendahului Miranda kemeja makan untuk meletakan sebuah kantong kresek. Dimana Ia baru saja membeli makanan saat di jalan tadi.


Setiap hari makan hasil dari masakan Jonathan dan juga di susahkan dengan membeli, Miranda mulai berpikir untuk bisa memasak sendiri agar tidak terus merepotkan Jonathan, "Om, Miranda boleh belajar masak gak kerumah Ayah sama Ibu? Atau Miranda Khursus saja. Supaya Om gak repot terus buat nyediain makanan kita!"


"Gak perlu, aku sudah merekrut asisten rumah tangga untukmu. Biar dia bisa mengurus semuanya dan menemanimu saat Om tidak di rumah!"


"Tidak, aku tak akan tenang melepaskan kamu di luaran, Mir." Jonathan kekeh pada pendiriannya. Ia berjalan menuju ke kamar sambil melonggarkan dasinya yang membuatnya merasa gerah. Jonathan memang lelah karena seharian ini perusahaanya kembali meluncurkan iklan baru dimana modelnya tetap memakai wajah Jessika.


Miranda menyambar tas Jo yang masih ada di meja, lantas mengejar Jonathan ke kamar.


"Om, tapi besok Om gak lupa kan kalau aku mau ambil ijazah?" Kali ini apa yang di ucapkannya memang bukan mimpi belaka. Hanya saja tadi sempat nyelinap dalam alam bawah sadarnya,

__ADS_1


"Iya, Om akan pergi ke kantor siangan!"


"Em... Miranda boleh ikut lagi gak, Om? Miranda bosan di rumah sendirian?" Tanyanya lagi dengan tampang memelas.


Jonathan yang jadi tak tega pun mengangguk. Ia tahu rasanya kesepian itu seperti apa. Pasti Miranda bingung sendirian dirumah tanpa melakukan aktivitas apa pun. Sedang dia melarang Miranda untuk ikut khursus.


Seperti biasa, Jonathan kembali memasaang wajah dingin saat berhadapan dengan Miranda. Sedang di mimpi Miranda tadi Jonathan terlihat sangat manis dan romantis.


"Ah itu hanya mimpi," celoteh Miranda lagi. Karena teringat dengan mimpinya beberapa waktu yang lalu.


"Emang kamu mimpiin apa sih?" Tanya Jonathan penasaran. Pria itu masih sibuk menanggalkan pakaiannya dengan menggantinya dengan melilitkan handuk di pinggang.


"Gak ada, Om. Itukan cuma mimpi. Mana mungkin kejadian. Gak penting juga buat di ceritain," timpal Miranda yang jadi sedikit bersedih mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2