Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 31 Usil


__ADS_3

"Gak tahu ni, Om. Kaki Miranda keram. Sakit ni di gerakin!" Jawabnya sembari meringis.


"Yang mana?" Jonathan bingung pasalnya Miranda tidak mengatakan hal yang jelas.


"Ini, Om. Sebelah kanan!"


Jonathan pun hendak menyentuhnya, akan tetapi Miranda malah berteriak.


"Aduh Om, jangan di pegang dong, sakit ni!"


"Pelan-pelan aja kok."


Jonathan pun meraih sapu tangan di sakunya untuk mengeringkan kaki Miranda yang basah, kemudian segera merogoh tas bawaan mereka di atas meja untuk mengambil minyak aromaterapi lalu membalurkannya perlahan-lahan ke kaki Miranda.


"Aduh, Om. Sakit, gremeng-gremeng gitu rasanya."


"Iya maaf, Om pelan-pelan banget kok!"


Jonathan tetap sabar mengusap-usap pelan kaki istrinya itu agar terasa hangat. Beberapa waktu berlalu barulah Miranda merasa nyaman.


"Apa masih sakit sekarang?"


Miranda menggerak-gerakkan kakinya yang tidak terlalu panjang itu lalu menganggukkan kepala.


"Iya, Om. Sekarang udah enakkan!" Miranda tampak kembali ceria lagi karena tidak merasakan apa yang membuatnya sempat merasa takut.

__ADS_1


"Ya udah berhenti main airnya, mungkin kakimu gak kuat kedinginan!"


Jonathan pun memanggil seorang penjual kopi panas di sekitaran pantai itu. Ia memesan dua cup kopi agar bisa menghangatkan perut mereka.


"Berapa Mas?"


"Dua puluh ribu aja, Bang!" Jawab pria seusia Jonathan itu.


Jonathan menyerahkan selembar uang merah seratus ribuan, sedang penjual berdalih tidak punya kembalian.


"Oh, buat Bapak aja gak papa!"


Dengan Ikhlas Jonathan merelakan uangnya. Karena pada dasarnya Jonathan memang suka memberi. Meski hal itu tidak di ketahui oleh Miranda. Karena biasanya Jonathan akan menyalurkan dana bantuannya ke panti asuhan atau ke panti jompo.


Jonathan membalas dengan tersenyum, sampai orang itu berpamitan pergi.


"Wah, Om baik sekali. Sepertinya jualan orang itu juga belum banyak yang laku!"


"Kamu benar, Mir. Semoga berkah buat dia dan keluarganya. Kalau begitu kamu minum dulu ya kopinya. Biar perutmu hangat!"


"Iya Om, makasih banyak ya Om!"


"Apa kamu belum bosan mengatakan hal itu?" Jonathan jengah mendengar istrinya terus-terusan bilang terima kasih meski kebaikan itu tak Ia tujukan pada Miranda.


"Gak Om, jika itu harus menurut Miranda."

__ADS_1


"Malam ini kita akan menginap di hotel, apa kamu mau?"


Mendengar hal itu bola mata indah milik Miranda seketika menyala, "Benarkah Om mau mengajak Miranda bulan madu?" Ucapnya setengah berteriak hingga tak sadar telah mengundang perhatian dari orang-orang yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Seperti biasa, mulai timbullah opini tentang huhungan Miranda dan Jonathan. Mengingat mereka memiliki perbedaan usia yang cukup signifikan.


"Is, anak jaman sekarang ya. Pacaran kok sama Om, Om!" Cicit salah seorang perempuan.


"Iya nih, pasti niatnya cuma mau morotin doang karena pria itu kelihatannya sangat kaya," sahut perempuan yang lain lagi.


"Mainnya ke hotel lagi, mungkin mau jual diri kali ya!" Timpal salah seorang lagi membuat Jonathan yang awalnya diam saja jadi naik pitam.


"Emang kenapa kalau aku pacaran sama anak ingusan? Apakah aku merugikan kalian semua?" Sahut Jonathan dengan berani. Sedang Miranda jadi takut Jonathan tak bisa mengendalikan emosinya.


"Udah Om, lupain aja deh kata-kata mereka. Yang penting itu gak bener!" Imbuh Miranda pula.


"Masak sih Mbak ucapan kami ini gak bener? Kamukan masih kecil? Kok pacaran sama pria dewasa sih?" Jengah yang pertama bicara tadi.


"Oh, jadi karena itu ya kalian menganggap aku jual diri?" Miranda menanggapinya dengan tersenyum.


"Ya bisa ajakan, tuduhan kami ini bener?" Orang itu tetap ngotot pada pendiriannya yang menganggap sepasang beda usia itu hendak mesum.


Tak ingin nama baik mereka tercemar, Jonathan pun menunjukkan surat keterangan nikahnya kepada mereka.


"Kami sudah menikah tiga bulan yang lalu, tapi aku memang menunda pestanya sampai umur istriku ini menginjak sebilan belas tahun tepat. Jadi buku nikahnya belum selesai kami urus. Maka dari itu tolong tarik kata-kata kalian yang menganggap hubungan kami ini terlarang," tukas Jonathan dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2