Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 35 Perasaan Jonathan


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar hotel, Miranda baru saja selesai memakai bajunya di kamar mandi. Tapi entah karena apa, kepalanya jadi terbentur tepian pintu.


"Aduh...!" Pekiknya kesakitan.


Jonathan yang masih bermain ponsel langsung tersentak dan bergegas menghampiri Miranda, "Ada apa, Mir?"


"Kecedot ni, Om. Mana sakit banget lagi!" Miranda memperlihatkan keningnya yang sedikit memerah.


"Coba Om lihat!"


Jonathan memeriksa lalu mengusap-usap kening istri kecilnya itu kemudian meniupnya beberapa kali, "Udah tenang aja, nanti juga sembuh!"


"Iya Om." Miranda menimpalinya dengan senyum terkembang. Sesaat Jonathan terpelongo melihatnya.


Kenapa perempuan tengil ini, makin hari terlihat makin cantik ya? Apa karena Miranda mulai beranjak dewasa?...


Miranda yang melihat Jonathan tak berkedip mengernyitkan dahinya, "Mikirin apa sih Om? Om...!" Teriak Miranda lagi karena Jonathan belum mendengarnya.


"Oh... Iya ada masalah apa?" Jonathan pura-pura tidak paham.

__ADS_1


"Is, Om Jo!" Miranda mendorong dada suaminya itu agar menyingkir dari pintu.


"Loh, kok ngambek?" Jonathan bingung sendiri.


"Habisnya Om gitu, bukannya di tanya lalu jawab. Yang ada Om malah nanya balik," ucap Miranda lagi setengah bersungut-sungut sambil menarik kursi di depan cermin untuk bersolek.


Tak ingin dianggap baper, Jonathan memilih berkelit, "Gak ada kok, Om gak ngapa-ngapain."


"Bohong! Bilang aja kalau Om mulai suka kan sama Miranda?" Tuduhnya lagi sambil sibuk memakai Skincare.


Apa aku ngaku aja ya...


"Mir, apa Silla bahagia dengan Rass?" Tanya Jonathan lirih. Tujuannya tentu saja untuk mengalihkan pembicaraan mereka tadi. Biar saja Jonathan tidak mengungkapkan rasa nyamannya pada sosok Miranda sejak 18 tahun hidup menduda.


"Kurang tahu sih, Om. Sepertinya Silla masih segan. Mungkin karena rasa kecewanya karena Om Rass menggagahinya saat setengah sadar!"


"Jadi kamu tahu hal itu?" Jonathan menatap tak percaya.


"Ya iyalah, Silla kan cerita Om," jawab Miranda lagi.

__ADS_1


"Apa! Jadi kamu juga selalu menceritakan masalah kita dong sama sahabat-sahabatmu?"


"Iya, soal kehamilan. Tapi tidak detail juga Om. Masak Miranda harus ceritakan semuanya sih sama mereka?" Sangkal Miranda lagi.


Tak terasa obrolan itu telah menyelesaikan kegiatannya untuk bersolek, Miranda jadi semakin imut di mata Jonathan dengan penampilan manjanya di usia yang masih terbilang baru menginjak dewasa.


"Om, Miranda udah cantik belum? Atau Miranda perlu menambah gincu?" Tanyanya setelah bangkit dari kursi dan berputar-putar memperlihatkan seluruh penampilannya memakai dress selutut yang sempat mengembang seperti jamur saat Ia bersikap seperti itu di depan Jonathan.


Jonathan yang melihat jenjang kaki Miranda, hanya melotot sambil meleguk salivanya, "Apa kamu sedang menggoda, Om?" Tanya Jonathan kemudia hingga Miranda menautkan alisnya.


"Menggoda? Kapan Om? Miranda tidak sedang mencium Om kan?"


"Jadi kamu tidak sadar?" Jonathan pikir Miranda sudah menyadari tingkah lakinya yang menggemaskan itu. Tapi ternyata Miranda hanya spontan saja.


Melihat ekspresi Jonathan yang aneh, Miranda pun mendekat, "Nah kan, itu artinya Om udah mulai suka sama Miranda. Itu sebabnya apa pun yang Miranda lakukan Om jadi terpikat? Benar begitu kan Om?"


"Gak tahu?" Jonathan tidak mau jujur. Tapi mencium aroma wangi di tubuh Miranda menbuat degup jantungnya jadi begitu cepat.


"Coba aku buktikan dulu!"

__ADS_1


Miranda menempelkan daun telinganya didada bidang Jonathan dan mendengar detakan semakin cepat, dan itu sudah cukup meyakinkan Miranda kalau jantung Jonathan mulai bermasalah saat ada di dekatnya.


__ADS_2